Merindu Trem di Jakarta - Kompas.com

Merindu Trem di Jakarta

Kompas.com - 30/03/2009, 10:37 WIB

Kompas.com - Alat transportasi bernama trem mulai diperkenalkan di Batavia pada 1869. Trem pada masa itu ditarik oleh kuda. Meski "mesin penggeraknya" kuda, tapi jarak tempuhnya lumayan panjang, dari Kwitang ke Pasar Ikan. Lambat laun posisi trem kuda digantikan dengan trem bermesin uap pada 1881. Ketel uap yang ditempatkan dalam kaleng besar menjalankan lokomotif trem.

Karena menggunakan uap maka jarak tempuh trem ini lebih jauh, dari Pasar Ikan ke Gajah Mada hingga Harmoni, berlanjut ke Kramat melalui Pasar Baru dan lapangan Banteng, kemudian ke Meester Cornelis (Jatinegara) melewati Salemba dan Matraman.

Sekitar 20 tahun kemudian atau tahun 1901 trem listrik mulai diperkenalkan. Meski demikian, trem upa tetap beroperasi. Trem uap akhirnya berhenti beroperasi pada 1933 karena semua trem sudah menggunakan listrik.

Trem listrik berakhir pada tahun 1960 di masa Wali Kota Sudiro. Ketika trem hendak digusur, Sudiro memohon pada Presiden Soekarno agar jaringan trem dari Jatinegara - Senen tetap dipertahankan. Tapi Bung Karno, Presiden RI pertama,  menolak dan menganggap trem tidak cocok untuk kota semacam Jakarta. Dia lebih setuju dibangun metro atau kereta api bawah tanah.

Dalam majalah Star Weekly terbitan 29 Maret 1960 ada artikel tentang trem yang siap digusur. Dalam artikel itu dinyatakan bahwa penghapusan trem adalah untuk mengurangi kemacetan. Jalan Gaja Mada disebut sebagai jalan yang selalu macet dan orang selalu menyalahkan trem sebagai biang keladi kemacetan. Padahal kemacetan tidak selalu karena trem tapi juga karena oplet mogok.

Star Weekly edisi yang mengangkat judul "Trem Kota Djakarta Akan Tamat Riwajatnja" menyebutkan, trem uap diganti trem listrik adalah karena jalur (lin) yang ditempuh trem listrik berbeda dengan yang ditempuh trem listrik. Trem uap melalui jalur sepi penduduk di masa lalu, seperti Mangga Dua, Jalan Jakarta, Gunung Sahari ke Kramat dan Tanahabang.

Jalur trem di Batavia sudah masuk dalam buku panduan turis yang akan melancong ke Batavia. Buku "Gids voor Indie"  terbitan 1932 bahkan menyertakan jalur dan peta trem di Batavia.

Trem di masa lalu menjadi bulan-bulanan rakyat karena dinilai sebagai sisa kolonialis yang sangat berbau Eropa. Tak heran jika pada tahun 1960 itu banyak pula yang bersorak saat trem dihapus. Trem diganti bus-bus yang dikelola PPD. Padahal pada kenyataannya jika trem terus dilestarikan, transportasi Jakarta tak bakal seruwet dan sekacau sekarang ini. Pada akhirnya, toh, pemerintah DKI Jakarta terus mengupayakan transportasi massal semacam TransJakarta, serta merencanakan monorel bahkan subway. Meski rencana tinggal rencana.


Editor

Close Ads X