Sawahlunto, Kota Arang yang Terjaga

Kompas.com - 04/01/2009, 08:02 WIB
Editor

Ketika Pemerintah Kota Sawahlunto hendak membuka kembali lubang tambang ini untuk kepentingan pariwisata, mereka mendapati lubang penuh dengan air. ”Butuh waktu 22 hari untuk menyedot air keluar dari tambang,” tutur Willizon (51), juru kunci lubang tambang Mbah Soero.

Tetapi, tunggu dulu. Ada satu versi lagi yang berkembang di masyarakat seputar penutupan Lubang Tambang Batu Bara Mbah Soero. Sebagian masyarakat meyakini penutupan lubang itu terkait dengan keinginan Belanda untuk menyimpan deposit batu bara untuk kelak kemudian hari.

Kepala Bidang Pertambangan dan Energi Kota Sawahlunto Medi Iswandi memperkirakan deposit batu bara di Lubang Mbah Soero itu masih tersisa sekitar 40 juta ton. ”Kita bisa melihat batu bara berwarna hitam di sisi-sisi terowongan. Batu bara ini yang ditambang saat proses penambangan masih berlangsung,” kata Medi.

Lubang tambang yang kembali dibuka Pemkot Sawahlunto pada pertengahan tahun 2008 itu memang masih menyimpan banyak kandungan batu bara. Sebagian dinding serta atap lubang tambang dipenuhi dengan batu bara. ”Batu bara yang ada mempunyai kualitas baik, yakni 6.000-7.000 kalori,” ujar Willizon lagi.

Kilatan cahaya pantulan dari senter kepala para pengunjung menjadikan batu bara ini tampak gemerlapan. Sebagian tembok menampilkan susunan batu bata yang merupakan peninggalan zaman Belanda.

Walaupun dipenuhi batu bara, Medi menjamin gas berbahaya, seperti metan, monooksida, atau belerang, tidak ditemukan di terowongan itu sehingga aman bagi pengunjung. Pemantauan gas-gas berbahaya dilakukan pemkot hampir setiap hari. Sebuah pipa besar berisi oksigen dimasukkan ke dalam terowongan agar pengunjung tidak sesak napas ketika melintas di terowongan.

Ramainya penambangan pada masa kekuasaan Belanda juga membutuhkan sebuah dapur umum yang bisa memproduksi makanan setiap waktu untuk ribuan orang. Tempat yang sekarang menjadi Museum Goedang Ransoem adalah dapur umum pada waktu itu. Beberapa replika peralatan masak menjadi pengisi museum ini. Terbayanglah betapa banyak kuli tambang yang dipekerjakan dan harus diberi makan setiap hari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebuah tungku penghasil uap air bertekanan tinggi masih berdiri kokoh di samping bangunan dapur. Uap dari tungku ini dialirkan lewat pipa yang berhubungan dengan lantai dasar dapur, lalu berubah bentuk menjadi energi panas untuk mematangkan masakan.

Di dapur inilah, Belanda mempekerjakan para perempuan dan anak untuk memasak selagi suami atau ayah mereka bekerja, sementara anak- anak Belanda bersama orangtua mereka asyik menyaksikan pertunjukan di gedung societet—kini Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto—anak buruh tambang harus bersimbah peluh, mengupas bawang dan aneka bumbu lain di ruangan yang panas oleh uap untuk memasak makanan./*

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.