Ilmuwan Desak Larangan Penangkapan Ikan Hiu Atlantik

Kompas.com - 30/10/2008, 22:23 WIB
Editor

JAKARTA, KAMIS - Sejumlah ilmuwan kelautan dunia mendesak diberlakukannya larangan penangkapan delapan spesies ikan hiu Samudra Atlantik dan menetapkan batas ketat bagi penangkapan dua spesies lainnya. Hal tersebut dalam upaya mencegah kemerosotan populasi hewan tersebut karena kesepuluh spesies ikan hiu Atlantik menghadapi resiko serius penangkapan secara berlebihan.

"Ikan hiu sangat rentan terhadap penangkapan ikan secara berlebihan karena mereka berkembang biak dan tumbuh dewasa dengan lamban, sehingga saat ini perlu pembatasan internasional bagi penangkapan ikan hiu," demikian desakan tersebut seperti dilansir organisasi nir-laba Lenfest Ocean Program. Pernyataan tersebut merupakan hasil pertemuan para ahli ikan hiu untuk mempelajari masalah kehidupan hayati maritim.

Colin Simpfendorfer dari James Cook University, Australia yang memimpin tim ilmuwan tersebut mengatakan spesies-spesies ikan hiu di seluruh dunia tengah mengalami kemerosotan. Sebagian kerena spesies-spesies tersebut tertangkap di jalur panjang penangkapan ikan yang ditujukan untuk menangkap ikan tuna dan ikan todak.

"Hasil kami memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa ada keperluan sangat mendesak untuk melakukan tindakan pengelolaan guna mencegah penurunan populasi ikan hiu dan memelihara fungsi ekosistem," ujarnya. Apalagi saat jumlah ikan sasaran tradisional seperti tuna dan ikan todak berkurang, tuntutan akan daging dan sirip ikan hiu meningkat.

Ikan hiu termasuk hewan yang memiliki daya jelajah tinggi sehingga menghitung sisa populasi termasuk sulit. Para ahli ikan hiu dari Australia, Belgia, Kroasia, Afrika Selatan dan Amerika Serikat menggunakan data yang tersedia mengenai populasi ikan hiu serta analisis resiko untuk memperkirakan spesies mana yang menghadapi resiko paling besar.

"Ada banyak ikan di samudra, tapi ikan hiu berbeda karena mereka tak mempunyai terlalu banyak bayi setiap tahun sehingga mereka berkembang-biak jauh lebih lamban," kata Charlotte Hudson dari Lenfest Program. Oleh karena itu, ketika ikan hiu dewasa dibunuh, populasinya dengan sangat cepat akan berkurang.

Kelompok itu menyarankan larangan penangkapan ikan hiu jenis bideye thresher, longfin mako, oceanic whitetip, porbeagle, common thresher, silky, smooth hammerhead, dan crocodile. Mereka mendesak pembatasan ketat penangkapan ikan hiu blue dan shortfin mako. Saran mereka ditujukan kepada International Commission for the Conservation of Atlantic Tunas (ICCAT), yang akan melakukan pertemuan di Marokko, 17-24 November mendatang. ICCAT kebanyakan menangani populasi ikan tuna, tapi pencinta lingkungan hidup dan ilmuwan memandang organisasi itu sebagai satu-satunya badan yang dapat memberlakukan pembatasan luas di Atlantik untuk mengambil ikan hiu di dalam alat penangkap ikan tuna.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sosiolog UI: Pendekatan Komunitas untuk Atasi Covid-19 Lebih Unggul Dibanding Program Pemerintah Selama Ini

Sosiolog UI: Pendekatan Komunitas untuk Atasi Covid-19 Lebih Unggul Dibanding Program Pemerintah Selama Ini

Nasional
Nurdin Abdullah Tersangka, KSP: Kami Kaget, Apalagi Beliau Dikenal Kreatif dan Inovatif

Nurdin Abdullah Tersangka, KSP: Kami Kaget, Apalagi Beliau Dikenal Kreatif dan Inovatif

Nasional
Pemerintah Disarankan Mulai Tanggulangi Pandemi Covid-19 Berbasis Akar Rumput

Pemerintah Disarankan Mulai Tanggulangi Pandemi Covid-19 Berbasis Akar Rumput

Nasional
Menteri PPPA Optimistis Keterwakilan Perempuan di Legislatif Capai 30 Persen pada Pemilu 2024

Menteri PPPA Optimistis Keterwakilan Perempuan di Legislatif Capai 30 Persen pada Pemilu 2024

Nasional
Menko PMK Dorong Masjid Berperan Sosialisasikan Siaga Bencana

Menko PMK Dorong Masjid Berperan Sosialisasikan Siaga Bencana

Nasional
KPK: Gubernur Sulsel Sudah Lama Kenal Baik dengan Tersangka Pemberi Suap

KPK: Gubernur Sulsel Sudah Lama Kenal Baik dengan Tersangka Pemberi Suap

Nasional
Ditangkap KPK, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah: Sama Sekali Tidak Tahu, Demi Allah

Ditangkap KPK, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah: Sama Sekali Tidak Tahu, Demi Allah

Nasional
Kasus Korupsi Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, KPK: Ada Tawar-Menawar Fee Proyek

Kasus Korupsi Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, KPK: Ada Tawar-Menawar Fee Proyek

Nasional
Capai 1.329.074 Kasus, Pandemi Covid-19 di Tanah Air Belum Menurun

Capai 1.329.074 Kasus, Pandemi Covid-19 di Tanah Air Belum Menurun

Nasional
Nurdin Abdullah Peraih Penghargaan Anti-Korupsi Kena OTT, Ini Komentar Ketua KPK

Nurdin Abdullah Peraih Penghargaan Anti-Korupsi Kena OTT, Ini Komentar Ketua KPK

Nasional
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Diduga Terima Rp 5,4 Miliar dari Beberapa Kontraktor

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Diduga Terima Rp 5,4 Miliar dari Beberapa Kontraktor

Nasional
Ditetapkan Tersangka, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Punya Harta Kekayaan Rp 51,35 Miliar

Ditetapkan Tersangka, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Punya Harta Kekayaan Rp 51,35 Miliar

Nasional
Gubernur Nurdin Abdullah, Peraih Penghargaan Antikorupsi yang Jadi Tersangka Korupsi

Gubernur Nurdin Abdullah, Peraih Penghargaan Antikorupsi yang Jadi Tersangka Korupsi

Nasional
OTT Nurdin Abdullah, Tersangka Pemberi Suap Pernah Dapat 6 Proyek Infrastruktur

OTT Nurdin Abdullah, Tersangka Pemberi Suap Pernah Dapat 6 Proyek Infrastruktur

Nasional
KPK Sita Koper Berisi Rp 2 Miliar, Diduga untuk Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

KPK Sita Koper Berisi Rp 2 Miliar, Diduga untuk Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X