Hidup Seimbang Uchu Riza - Kompas.com

Hidup Seimbang Uchu Riza

Kompas.com - 14/09/2008, 01:49 WIB

Ninuk Mardiana Pambudy

Siang dua pekan lalu Uchu Riza muncul di ruang rapat Kidzania di Pacific Place Jakarta tepat waktu sesuai janji. Dia terlihat sangat efisien dalam balutan blus putih, rok hitam, dan skarf hitam-putih, gambaran yang mewakili pula sebagai kepala sekolah.

Ruang kerjanya di Kidzania yang minim perabot itu juga mengingatkan pada efisiensi. Tanpa membuang waktu dia langsung menceritakan tentang Kidzania Indonesia yang dia dirikan bersama suaminya. Ini adalah waralaba dari Meksiko berupa pusat rekreasi berkonsep bermain sambil belajar bagi anak-anak usia 2-16 tahun.

”Ini tempat dokter gigi. Anak-anak bisa menjadi seperti dokter gigi dengan boneka dan peralatan dokter gigi. Ini ruang operasi, kantor polisi, studio televisi, sampai kantor pajak. Di ruang yang itu anak-anak belajar akting dan langsung pentas,” kata Uchu yang ibarat pemandu wisata menjelaskan wahana satu ke wahana lain. ”Kami masih kekurangan sponsor. Perusahaan Indonesia kurang berminat, yang menjadi sponsor semua perusahaan multinasional.”

Selalu mencari hal-hal baru yang inovatif. Itu membuat Uchu Riza memboyong Kidzania asal Meksiko ke Jakarta, menjadikan tempat belajar dan rekreasi yang dibuka November 2007 itu yang pertama di Asia Tenggara dan kedua di luar Meksiko setelah Jepang.

Sebelumnya, lima tahun lalu dia mendirikan sekolah Islam internasional Al Jabr dan sekarang mencapai kelas empat.

Untuk mewujudkan pilihannya itu dia bekerja tak tanggung-tanggung. Uchu sendiri terbang ke Meksiko belajar mengelola tempat rekreasi tersebut.

Begitu juga dengan Al Jabr, yang oleh Uchu disebut sekolah Islam pertama di Indonesia yang mengacu pada sistem International Baccaulerate (IB). Setahun empat kali bersama-sama beberapa guru Uchu ikut workshop IB di berbagai kota dunia.

”Seminggu sekali saya memberi pelatihan untuk karyawan di Kidzania dan guru di Al Jabr dengan topik yang mereka pilih sendiri,” papar Uchu yang bernama lengkap Roestriana Adrianti Riza.

Pendidikan

Dunia Uchu sehari-hari tidak jauh dari pendidikan. Bahkan waktunya yang sebagian dia habiskan di Singapura pun berkisar seputar dunia pendidikan.

Di negeri tetangga itu Uchu masih terlibat dengan kegiatan pendidikan di United World College South East Asia (UWC SEA) meskipun dua anaknya sudah lulus dari sana.

”Saya memindahkan anak- anak sekolah ke Singapura waktu situasi Jakarta kacau tahun 1998. Guru-guru sekolah anak-anak pindah ke sana, saya ikut pindahkan mereka ke Singapura,” papar Uchu.

Ketika Aceh terkena tsunami Desember 2004, Uchu mengoordinir kegiatan kemanusiaan siswa dan orangtua asal Indonesia untuk korban bencana alam itu. Sampai sekarang dia masih terlibat dalam kegiatan pendidikan di Aceh bersama UWC SEA, antara lain di SMP 4 Penayung.

Karena masih punya waktu luang, Uchu terlibat di Singapore Art Museum & History. Dia sempat menjadi pelatih untuk para pemandu (training docent leader) di museum itu tahun 2000-2003 dan sampai sekarang masih menjadi pemandu.

Saat peresmian organisasi Cita Tenun Indonesia (CTI) bulan lalu di Jakarta, Uchu mengajak peneliti kain Indonesia dari Amerika memenuhi permintaan CTI yang ingin memiliki jejaring internasional.

Saat favorit ketika di Singapura adalah setiap akhir bulan. ”Sebulan sekali pada Jumat malam pekan terakhir. Biasanya malam itu gratis masuk museum sehingga peminatnya banyak, baik pengunjung internasional maupun lokal,” papar Uchu.

Seimbang

Hidup bermanfaat dan seimbang. Itu filosofi hidup Uchu. ”Malu saya kalau meninggal nanti belum berbuat apa-apa,” kata dia. ”Kalau meninggal nanti saya juga ingin punya tabungan di sana.”

Maksudnya, dia mencari keseimbangan antara kegiatan bisnis Kidzania yang investasinya lebih 10 juta dollar AS dengan mendirikan sekolah yang tidak dimaksudkan mencari untung.

”Sekolah Al Jabr awalnya dari ketika keluarga kami mendirikan panti asuhan dan anak-anak di sana harus bersekolah,” kata Uchu.

Meski begitu, ada hal yang kadang dia sesali, yaitu kekurangan waktu untuk orangtua dan mertuanya. ”Untungnya orangtua dan mertua mengerti saya dari kecil memang tidak bisa diam dan maunya bikin yang belum ada,” papar Uchu.

Cara lain mencari keseimbangan itu adalah membagi waktu untuk diri sendiri. Uchu bisa duduk sendiri di kafe, baca buku atau melihat pemandangan. Lain waktu dia berakhir pekan ke Bali atau Jawa Tengah bersama suaminya, Mohamad Riza Chalid, pengusaha ritel mode, kebun sawit, jus, hingga minyak bumi.

”Dia datang sama temannya ke ulang tahun saya, kenalan. Kami pacaran hanya tiga bulan, lalu menikah,” kata Uchu mengenang pertemuannya dengan Riza Chalid.

Bila ada waktu lebih panjang dia akan liburan dengan cruise bersama dua anaknya atau bersama suami. Pilihan tempat tujuannya pun beragam, dari Antartika, Amazon di Brasil, Luxor di Mesir, Eropa, hingga Kamboja. ”Prinsip saya, kerjanya seru, eksplorasinya juga seru,” kata Uchu.


Editor

Close Ads X