IB Said, Pelukis Istana yang Tak Pernah Bertemu Presiden

Kompas.com - 23/06/2008, 12:10 WIB
Editor

NAMA IB Said, sudah sangat familiar dikalangan pelukis dan kalangan istana. Pria yang masih segar dan tampak lebih muda di usianya yang menginjak 74 tahun itu adalah satu-satunya pelukis yang jasanya masih digunakan oleh Istana Negara, sejak era Bung Karno hingga SBY. Said, biasanya juga melukis wajah para tamu negara yang bertandang ke Indonesia. Uniknya, 47 tahun selalu melukis kepala negara, Said tak pernah sekalipun bertatap muka dengan Presiden RI yang dilukisnya.

Turut andil dalam penyambutan terhadap tamu negara, ternyata tak serta merta membuat Said mendapat sambutan yang luar biasa pula dari negara. Ditemui di rumah kontrakannya yang sangat sederhana, Minggu (22/6), di Jalan Haji Ung RT 02 RW 01 no 14B, Said menceritakan ihwal dirinya bisa masuk ke lingkaran istana.

Tahun 1961, Said hijrah ke Jakarta. Sebelumnya, pria kelahiran Malang 28 Agustus 1934 itu, banyak menghabiskan waktunya sebagai pelukis di Sanggar Pelukis Rakyat, Yogyakarta. Atas ajakan pelukis legendaris Henk Ngantung, Said dan beberapa pelukis lainnya diajak untuk terlibat dalam pelukisan wajah tamu negara.

"Waktu itu, pelukis Henk Ngantung punya ide bahwa pelukis harus diajak dalam aktivitas kenegaraan. Karena pelukis bisanya melukis, ditaruhlah untuk melukis Presiden, tamu negara atau poster. Lukisannya dipajang di Istana, katanya kadang ada yang minta di bawa pulang juga," kisah Said.

Pada zaman Bung Karno, para pelukis yang tak kurang dari 20 orang, harus membuat lebih dari 10 foto yang dipasang di beberapa titik strategis yang dilalui tamu negara. Titik-titik itu, diantaranya Kemayoran-Pelni-Gedung Statisti-Pasar Baru-Pintu Air-Markas Besar TNI AD-Air Mancur. "Bahkan, kadang juga jalur yang nggak dilewati tamu juga, seperti pojokan Senen, Kwitang, Beos, Jatinegara. Banyak deh. Makanya dulu pelukis banyak, sekarang tinggal saya sendiri. Sekarang, kalau bikin paling cuma dua, untuk di istana dan di deket istana," ujarnya.

Lukisan kepala negara pertama yang merupakan hasil karya Said adalah Presiden Tiongkok Liu Shaoqie (1963). Terakhir, ia masih mendapatkan pesanan dari Sekneg untuk melukis wajah PM Australia Kevin Rudd, 13 Juni lalu. "Yang paling berkesan, ketika melukis Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan. Berkesannya, karena udah saya lukis, ternyata dia ketemu Presidennya nggak di Jakarta tapi di Bali. Akhirnya, lukisannya cuma dipasang aja di istana. Kalo ngelukis Presiden RI, kesannya sama semua, sama sulitnya," lanjut Said.

Kini, Said tinggal bersama putra bungsunya, Happy Nur Said dan menantunya. Sejak tahun 1960-an hingga sekarang, hidupnya berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya di kawasan Haji Ung. "Masa' penghargaan diminta? Yang penting saya bekerja karena saya mencintai profesi saya. Dengan cara itu, saya bisa ikhlas menjalaninya. Katanya, kalau bintang jasa atau penghargaan dari negara tidak bisa dikasih ke perorangan. Jadi, sampai kiamat kayanya saya begini terus, haha...," katanya dengan ringan.

Said yang terkesan low profile pun enggan menyebutkan berapa honor yang diterimanya untuk pesanan lukisan yang dibuatnya.Berharapkah Said, hasil kerjanya lebih diapresiasi pemerintah? "Saya tidak akan pernah meminta," ujarnya. Kesempatan bertemu Presiden juga tak pernah didapatkan Said. Ia hanya ingat pernah bersama Presiden Soekarno dalam sebuah acara. "Tapi ya cuma satu acara aja, nggak bertatap muka atau berbicara," kata dia.

Bagi Said, dedikasi terhadap profesi dan memberikan kebanggaan bagi 4 anak dan cucunya, menjadi penghargaan tersendiri baginya. Meski tak berasal dari negara. Mengisi hari-harinya, jika tak mendapat orderan istana, Said berkeliling Jakarta. Melukis relitas Jakarta, dan menuangkan segala pengamatannya dalam ratusan puisi yang sarat dengan kritik sosial.

________________________________

BiodataNama                          : IB Said
Tempat/Tanggal Lahir            : 28 Agustus 1934
Istri                                          : Karmiati (Alm)
Anak                                        : Tofan Agung, Intan Pratiwi, Fajar Moksa Bumi, Happy Nur Said
Cucu                                         : 7 orang

Lukisan terakhir tentang Jakarta : Segitiga Senen Tinggal Kenangan (2006)
Prestasi : Beberapa kali mengadakan pameran di Rumania, Perancis dan Belanda. Membuat lukisan terbesar sebuah produk susu berukuran 60x61 meter



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X