Jejalan Teater Garasi, Potret Buram dari Jalanan

Kompas.com - 24/05/2008, 22:13 WIB

Panggung berbentuk sebuah jalan membelah lantai di Gedung Teater Luwes Institut Jakarta pada pementasan Teater Garasi, Yogyakarta, Jumat-Sabtu malam (23-24 Mei 2008). Aktivitas pemain semua terpusat di jalan tersebut, lengkap dengan properti yang khas jalanan (kumuh) di kota-kota besar Indonesia. Ada seng berjajar membentuk pagar, gardu, dan lain-lainnya. Pun demikian dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya, beragam. Ada petugas keamanan, pelacur, penjual rokok, penjual sandal, penjual obat, anak bermain sepeda, bermain bulu tangkis, pengamen.

Selama pertunjukan para pemain bisa sedemikian liar. Di tengah adegan tiba-tiba muncul seorang berpakaian necis yang memerintahkan para kru untuk memasukkan seng. Di sudut lain, seorang naik ke panggung sambil membawa pengeras suara, ia pun bernarasi tentang seorang bernama Slamet. Katanya, "Slamet adalah sebuah teriakan, ketika ia bunuh diri pada umur 48. Mungkin Kota Pandeglang mendengarnya. Mungkin Banten dan Jakarta mendengarnya. Tapi hanya 10 menit.

Segera setelah itu, teriakan itu lenyap. Slamet hilang. Ia kembali jadi noktah yang melintas tipis pada layar radar, seperti berjuta-juta titik lain yang diabaikan. Jakarta sibuk. Tuan-tuan sibuk: tuan-tuan berbaris membesuk Soeharto, sang patriarkh yang gering terbaring di rumah sakit itu, dan dengan tekun tuan-tuan mengikuti naik-turun tekanan darahnya, menyimak jantung dan paru-parunya, berkomat-kamit membaca doa untuknya, dan berseru, makin lama makin keras, maafkan dia, maafkan dia…."

Sementara di panggung bawah yang sejajar dengan penonton, para pemain hibuk dengan perilakunya masing-masing. Ada yang menari, ada yang membentur-benturkan kepalanya ke seng, dan sebagainya.


Hidup di jalanan,, hidup yang beraneka gaya,  ada yang bersepeda, bermain bulu tangkis, jual obat, ada pengamen. Kendati adegan bersaling-silang, tapi bloking-bloking yang mereka bangun dengan properti amatlah bagus.

Tentu, lantaran ini pertunjukan teater-tari, semua aktivitas itu pun diatur secara harmoni antara musik, tari, akting, serta perkisahan. Hasilnya, sebuah pertunjukan yang memukau. Sebuah potret kematangan pekerja teater yang tekun berproses. Maka penonton pun menghadiahi Teater Garasi dengan tepukan tangan panjang.

Dalam bincang-bincang kecil dengan Malona, staf pengajar IKJ, usai pementasan, bu dosen yang lulusan etnomusikologi USU Medan itu mengatakan, Garasi adalah "bibit unggul" teater Indonesia. "Dalam pementasan Jejalan, mereka telah berhasil mengangkat isu-isu yang ada di masyarakat dengan menarik."

Inilah teater sampakan dalam bentuknya yang lain. Berbasis lokal (Yogyakarta), tapi digarap secara mondial. Itulah soalnya, unsur-unsur musik blues, gerak-gerak tarian balet, muncul pula dalam pentas Jejalan.

Yudi Ahmad Tajudin selaku sutradara Jejalan mengatakan, semua pendukung lakon Jejalan adalah kreator. Tugasnya sebagai sutradara hanya bertanggungjawab pada ritme dan struktur. "Kami berangkat dari nothing," kata Tajudin mengenang awal proses Jejalan pada bulan November 2007.

Tajudin memaparkan, anak-anak Garasi mulai prakondisi (training) tubuh aktor (melalui latihan Yoga, Bangau Putih dan imitasi gerak/gesture sehari-hari), sejak September – Oktober 2007. Dilanjutkan dengan Riset dan Diskusi Tema (literatur, observasi (field research), diskusi bersama ahli, riset aksi (Jakarta & Indramayu) oleh sutradara dan aktor (22-24 November 2007), riset literatur perihal “Jalan” oleh M. Anis Ba’asyin (November-Desember 2007), presentasi aktor atas hasil riset aksi (Studio Teater Garasi) pada 8 Januari 2008, diskusi hasil riset bersama M Anis Ba’asyin dan Mahatmanto (Studio Teater Garasi) pada 16 Januari 2008, riset aksi oleh aktor -pengamatan dan interview dengan orang-orang di jalan (Yogyakarta) dari bulan Februari-Maret 2008, rehearsal dan eksperimentasi, Pebruari – April 2008, rancang ruang (scenery) dan elemen-eleman visual (Maret – April 2008) dan diakhiri dengan finishing dan technical rehearsal pada Mei 2008.

Je.ja.l.an

Je.ja.l.an adalah seni pertunjukan teater tari (dance theatre) dan teater imaji (theatre of images) yang ingin bercerita tentang kontradiksi dan kontestasi yang ada di (pinggir) jalan di kota-kota di Indonesia. Kontradiksi dan kontestasi antara yang modern dan tradisional, yang kosmopolit dan kampungan, yang elit dan ‘kebanyakan’, yang berkuasa dan terpinggirkan, yang agung dan murahan, serta sederet kontradiksi lainnya. Kontradiksi dan kontestasi yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di jalan di kota-kota di Indonesia.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Editor
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X