Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Capres Adu Konsep Ekonomi

Kompas.com - 23/06/2014, 15:49 WIB


Oleh: Yuliana Rini DY

KOMPAS.com - Kualitas ekonomi yang rendah diikuti ketimpangan kesejahteraan menjadi topik pada debat calon presiden yang digelar 15 Juni lalu. Konsep dan rencana Prabowo Subianto dan Joko Widodo dalam meyakinkan masyarakat diuji. Mereka berlomba menawarkan solusi terbaik bagi kesejahteraan di dalam panggung debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum tersebut.

Masyarakat tetap antusias mengikuti materi debat yang bertema "Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial" tersebut. Hasil jajak pendapat Kompas, minggu lalu, menunjukkan, 8 dari 10 responden mengikuti perdebatan. Sebagian besar menyaksikan siaran langsung di televisi dan sisanya mengikuti beritanya melalui media massa yang lain.

Tidak bisa dimungkiri, kondisi ekonomi makro mengalami kemajuan dalam dua periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Data membuktikan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6 persen per tahun. Pendapatan per kapita meningkat dari Rp 6,6 juta (2004) menjadi Rp 9,8 juta (2013). Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melonjak dari Rp 374 triliun (2004) menjadi Rp 1.683 triliun (2013). Angka kemiskinan turun dari 16,66 persen (2004) menjadi 11,37 persen (2013). Tingkat pengangguran juga berkurang dari 9,8 persen (2004) menjadi 6,25 persen (2013).

Namun, di sisi lain, ada peningkatan ketimpangan pendapatan antara kelompok miskin dan kelompok kaya. Rasio gini, yang mengukur angka kesenjangan, pada tahun 2013 mencapai 0,41. Padahal, sepuluh tahun yang lalu hanya 0,32 sehingga artinya kesenjangan pendapatan makin tinggi. Kondisi ini berimplikasi pada kesenjangan akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Ini berarti kemajuan ekonomi makro belum mampu menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, sumbangan sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) anjlok dari 28 persen (2004) menjadi 23,7 persen (2013). Fenomena ini kerap disebut "deindustrialisasi". Padahal, sektor padat karya menjadi tumpuan penyerapan tenaga kerja, selain pertanian.

Beragam persoalan itu dapat ditangkap Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Secara umum, Prabowo-Hatta menawarkan delapan agenda. Prabowo akan membangun kedaulatan pangan, energi, dan sumber daya alam. Dari sisi pembangunan manusia, pasangan ini akan mereformasi pendidikan serta meningkatkan program kesehatan, sosial, agama, budaya, dan olahraga.

Jokowi-Jusuf Kalla (JK) menawarkan revolusi mental yang diurai menjadi 31 agenda strategis, 19 agenda di antaranya tentang ekonomi dan kesejahteraan. Di bidang pendidikan, pasangan ini akan mengevaluasi kurikulum pendidikan dengan memberikan bobot besar terhadap budi pekerti dan pembangunan karakter. Mereka juga akan menerbitkan undang-undang wajib belajar 12 tahun dan bebas biaya pungutan. Kedaulatan pangan dan energi menjadi perhatian khusus bagi Jokowi-JK. Kedaulatan pangan berbasis agrobisnis kerakyatan dijalankan, misalnya dengan menyusun kebijakan impor pangan.

Visi-misi yang panjang dari kedua pasang kandidat—Prabowo-Hatta sebanyak 9 halaman dan Jokowi-JK sebanyak 41 halaman—diperas dan dirangkum oleh kedua capres.

Improvisasi

Dalam debat 15 Juni lalu, Prabowo melakukan improvisasi dengan mengeluarkan pernyataan di luar materi yang tercantum dalam visi-misinya, misalnya pernyataan akan menutup ”kebocoran” keuangan dan kekayaan negara sebesar Rp 1.000 triliun, bahkan Rp 7.200 triliun. Pernyataan ini memicu kritik pemerintah dan pengamat anggaran negara bahwa angka yang disajikan minim validasi. Demikian juga pertanyaan Jokowi tentang TPID (tim pemantauan dan pengendalian inflasi daerah) yang menuai keriuhan di media sosial. Ada yang mendukung dengan asumsi bahwa presiden harus tahu aspek-aspek permasalahan daerah. Sebaliknya, ada yang menganggap pertanyaan tersebut terlalu teknis bagi seorang presiden.

Sebenarnya, TPID yang dibentuk sejak 2008 oleh Bank Indonesia bersama kementerian terkait ini punya tujuan khusus, antara lain, meningkatkan kesadaran daerah terhadap dampak inflasi bagi pembangunan dan kesejahteraan. Karena inflasi sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, mengelola inflasi sangat membantu kesejahteraan masyarakat.

Secara umum, jajak pendapat menunjukkan, kedua capres berhasil meyakinkan publik responden dalam mengatasi ketimpangan ekonomi dan kesejahteraan. Namun, intensitasnya berbeda. Pasangan Prabowo-Hatta mampu meyakinkan 2 dari 5 responden. Adapun Jokowi-JK meyakinkan 3 dari 5 responden.

Sebagian masyarakat menjadikan debat presiden ini sebagai ajang untuk memantapkan pilihan. Terbukti, 7 dari 10 responden tidak akan mengubah pilihannya. Namun, ada pula yang sebaliknya. Sebanyak 1 dari 10 responden menyatakan mengubah pilihannya, baik dari pasangan Jokowi-JK menjadi ke pasangan Prabowo-Hatta maupun sebaliknya.

Apa pun kelebihan yang dimiliki setiap capres dan pasangannya tampaknya akan tetap membuat masyarakat menunggu debat capres sesi berikutnya. (Litbang Kompas)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Tanggal 7 Mei 2024 Memperingati Hari Apa?

Tanggal 7 Mei 2024 Memperingati Hari Apa?

Nasional
Gunung Raung Erupsi, Ma'ruf Amin Imbau Warga Setempat Patuhi Petunjuk Tim Penyelamat

Gunung Raung Erupsi, Ma'ruf Amin Imbau Warga Setempat Patuhi Petunjuk Tim Penyelamat

Nasional
Cak Imin: Bansos Cepat Dirasakan Masyarakat, tapi Tak Memberdayakan

Cak Imin: Bansos Cepat Dirasakan Masyarakat, tapi Tak Memberdayakan

Nasional
Cak Imin: Percayalah, PKB kalau Berkuasa Tak Akan Lakukan Kriminalisasi...

Cak Imin: Percayalah, PKB kalau Berkuasa Tak Akan Lakukan Kriminalisasi...

Nasional
Gerindra Lirik Dedi Mulyadi untuk Maju Pilkada Jabar 2024

Gerindra Lirik Dedi Mulyadi untuk Maju Pilkada Jabar 2024

Nasional
Gibran Ingin Konsultasi ke Megawati soal Susunan Kabinet, Masinton: Cuma Gimik

Gibran Ingin Konsultasi ke Megawati soal Susunan Kabinet, Masinton: Cuma Gimik

Nasional
Kementerian KP Perkuat Standar Kompetensi Pengelolaan Sidat dan Arwana

Kementerian KP Perkuat Standar Kompetensi Pengelolaan Sidat dan Arwana

Nasional
Bupati Sidoarjo Berulang Kali Terjerat Korupsi, Cak Imin Peringatkan Calon Kepala Daerah Tak Main-main

Bupati Sidoarjo Berulang Kali Terjerat Korupsi, Cak Imin Peringatkan Calon Kepala Daerah Tak Main-main

Nasional
Wapres Ajak Masyarakat Tetap Dukung Timnas U-23 demi Lolos Olimpiade

Wapres Ajak Masyarakat Tetap Dukung Timnas U-23 demi Lolos Olimpiade

Nasional
Gibran Ingin Konsultasi dengan Megawati terkait Susunan Kabinet

Gibran Ingin Konsultasi dengan Megawati terkait Susunan Kabinet

Nasional
Soal Dukungan PKB untuk Khofifah, Cak Imin: Kalau Daftar, Kita Sambut

Soal Dukungan PKB untuk Khofifah, Cak Imin: Kalau Daftar, Kita Sambut

Nasional
Jubir Sebut Luhut Hanya Beri Saran ke Prabowo soal Jangan Bawa Orang 'Toxic'

Jubir Sebut Luhut Hanya Beri Saran ke Prabowo soal Jangan Bawa Orang "Toxic"

Nasional
Muslimat NU Kirim Bantuan Kemanusiaan Rp 2 Miliar ke Palestina

Muslimat NU Kirim Bantuan Kemanusiaan Rp 2 Miliar ke Palestina

Nasional
Luhut Minta Prabowo Tak Bawa Orang 'Toxic', Projo: Nasihat Bagus

Luhut Minta Prabowo Tak Bawa Orang "Toxic", Projo: Nasihat Bagus

Nasional
Buktikan Kinerja Unggul, Pertamina Hulu Energi Optimalkan Kapabilitas Perusahaan

Buktikan Kinerja Unggul, Pertamina Hulu Energi Optimalkan Kapabilitas Perusahaan

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com