Rabu, 1 Oktober 2014

News /

Ujian Nasional Tetap Jadi Syarat

Selasa, 23 April 2013 | 01:58 WIB

Jakarta, Kompas - Hasil ujian nasional SMA sederajat tetap menjadi syarat masuk perguruan tinggi negeri walaupun banyak terjadi kekacauan. Meskipun demikian, nilai ujian nasional tidak diberi bobot khusus dalam penilaian calon mahasiswa baru yang masuk lewat jalur undangan dan ujian tulis.

Jalur undangan mulai tahun ini bernama Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Adapun jalur ujian tulis bernama Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Idrus Paturusi mengatakan, perankingan calon mahasiswa baru yang bakal diterima melalui jalur SNMPTN sudah selesai dilakukan karena melihat dari prestasi siswa saat di semester satu hingga semester lima SMA sederajat. SBMPTN mengandalkan hasil tes tertulis.

”Kalau ada skor siswa yang sama, baru memakai hasil ujian nasional untuk memilih calon mahasiswa yang memenuhi standar,” kata Idrus, yang juga Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (22/4).

Akhmaloka, Ketua Umum SNMPTN dan SBMPTN 2013, mengatakan, salah satu kriteria untuk diterima di perguruan tinggi negeri adalah siswa harus lulus ujian nasional.

”Jika lulus ujian nasional, berarti siswa dinyatakan lulus dari SMA/SMK sederajat, berapa pun nilai ujian nasionalnya,” kata Akhmaloka, yang juga Rektor Institut Teknologi Bandung. Jadi, kata Akhmaloka, ujian nasional itu syarat perlu untuk masuk perguruan tinggi negeri.

Rektor Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Pratikno mengatakan, dalam penerimaan mahasiswa baru lewat jalur SNMPTN, nilai ujian nasional tidak diperhitungkan. PTN hanya akan melihat nilai rapor siswa sebagai penilaian utama. Nilai ini kemudian dicocokkan dengan akreditasi sekolah, prestasi sekolah, dan prestasi siswa.

Begitu juga dalam jalur SBMPTN, nilai ujian nasional tidak berpengaruh. ”Tetapi siswa harus lulus UN terlebih dahulu untuk bisa diterima di PTN,” kata Pratikno.

Di Nusa Tenggara Barat, Rektor Universitas Mataram Sunarpi menjelaskan, perguruan tinggi juga dilibatkan dalam penyelenggaraan ujian nasional SMA/MA/ SMK tahun ini. Di NTB juga terjadi persoalan dalam penyelenggaraan ujian nasional, terutama naskah soal yang terlambat datang. ”Kesalahan itu bukan terletak di perguruan tinggi, tetapi di percetakan,” kata Sunarpi.

Akibat naskah soal datang terlambat, sejumlah daerah pun terlambat menyelenggarakan ujian nasional. Meskipun demikian, kebocoran soal bisa diminimalkan karena terdapat 20 variasi soal dalam setiap paket ujian. Karena itu, pihaknya memutuskan hasil ujian nasional akan tetap menjadi bahan pertimbangan diterima tidaknya calon mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN. Jalur SBMPTN lebih mengutamakan hasil ujian tulis.

Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Djoko Santoso secara terpisah juga menegaskan, hasil ujian nasional akan menjadi ”tiket” masuk PTN.

Diperhitungkan di UNM

Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta Ravik Karsidi menegaskan, nilai ujian nasional tidak berpengaruh dalam seleksi mahasiswa baru. ”Jika lulus dari sekolah, pasti lulus UN sehingga siswa bisa mengikuti seleksi masuk PTN melalui berbagai jalur,” kata Ravik.

Kendati demikian, di Universitas Negeri Makassar (UNM), nilai ujian nasional akan tetap diperhitungkan dalam penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN. Dibuatnya 20 variasi soal diyakini cukup efektif dalam mencegah terjadinya kebocoran soal. ”Namun, jika nanti ada kebijakan baru dari Kemdikbud yang meminta nilai UN diabaikan karena banyak terjadi kekeliruan dalam penyelenggaraannya, kami akan mengikuti kebijakan itu,” kata Rektor UNM Arismunandar.

Wakil Rektor I Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Achmad Syahrani mengatakan, Unair tidak bisa mengambil kebijakan sendiri soal pemanfaatan nilai ujian nasional untuk penerimaan calon mahasiswa baru. Unair masih menunggu keputusan 62 rektor PTN dalam rapat Majelis Rektor pertengahan Mei nanti. ”Semuanya tergantung dari rapat Majelis Rektor tersebut,” kata Syahrani.

Menurut Idrus Paturusi, pelaksanaan ujian nasional yang kacau tahun ini menjadi perhatian PTN dan akan dibahas dalam pertemuan Majelis Rektor.

”Kekacauan UN ini bukan kesalahan siswa. Jangan mereka dikorbankan lagi. Makanya, nanti kami akan bicarakan lagi soal pertimbangan nilai UN untuk masuk PTN. Kami berupaya meminimalkan korban dari pihak siswa,” kata Idrus.

Rochmat Wahab, Sekretaris Umum SNMPTN dan SBMPTN 2013, mengatakan, panitia SNMPTN tentu akan membahas persoalan ujian nasional SMA sederajat dalam pertemuan Majelis Rektor.

”Masukan dari berbagai PTN soal UN dan pemanfaatannya untuk seleksi calon mahasiswa baru nanti akan dipertimbangkan,” kata Rochmat, yang juga Rektor Universitas Negeri Yogyakarta,

Syahrani menyayangkan banyaknya persoalan dalam ujian nasional 2013, termasuk pelaksanaan yang tidak serentak. ”Bahkan sampai ada yang bilang bahwa ujian kali ini bukan ujian nasional, melainkan ujian regional,” katanya.

Menurut Syahrani, hasil ujian nasional SMA sederajat yang akan diumumkan pada 25 Mei mendatang dari provinsi yang pelaksanaannya terlambat dapat dijadikan bahan pertimbangan mengambil berbagai kebijakan.

(ELN/LUK/ELD/ILO/RIZ/EKI)


Editor :