Sabtu, 2 Agustus 2014

News /

BRICS Akan Dirikan Saingan Bank Dunia

Rabu, 27 Maret 2013 | 03:06 WIB

DURBAN, Rabu - BRICS sepakat membentuk sebuah bank pembangunan yang akan menjadi saingan Bank Dunia. Juga ada niat membentuk sebuah badan untuk tempat menampung cadangan devisa mirip Dana Moneter Internasional atau IMF guna membantu beberapa negara.

Inilah sepak terjang terbaru negara-negara BRICS, yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (Afsel). Para pemimpin lima negara itu sudah tiba di Durban, Afsel, Selasa (26/3), untuk menghadiri pertemuan puncak, Rabu ini.

”Sudah selesai. Kami membuat kemajuan yang sangat baik, para pemimpin akan memberikan detailnya nanti,” tutur Menteri Keuangan Afsel Pravin Gordhan seusai pertemuan tingkat menteri dengan para mitranya dari empat negara BRICS lainnya.

Sebelum pertemuan puncak itu, Presiden China Xi Jinping mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Afsel Jacob Zuma, di Pretoria. Zuma sangat bersemangat sebagai tuan rumah pertemuan BRICS dan berharap pertemuan ini bisa mendorong pembangunan negaranya.

”BRICS memberikan kesempatan bagi Afrika Selatan untuk mendorong daya saing negara dan beranjak lebih jauh untuk pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan,” ujar Zuma.

BRICS beranjak lebih jauh dari sekadar berbicara tentang kepentingan internal. Pembentukan bank pembangunan ini merupakan refleksi dari kekecewaan banyak negara di dunia tempat negara-negara maju telah menjadikan Bank Dunia sebagai alat politik ekonomi. Demikian juga IMF, telah dicurigai sebagai sarana bagi negara maju untuk melindungi kepentingannya.

Ujian kekompakan

Akan tetapi, masih muncul pertanyaan apakah BRICS benar-benar bisa beranjak lebih maju. Pembentukan bank pembangunan dan IMF tandingan merupakan ujian bagi kekompakan kelompok ini.

Ada masalah pendanaan dan bagi untung serta misi pendirian bank tersebut. China menginginkannya sebagai bank yang membantu penyaluran kredit ke banyak negara. Afsel menginginkan bank pembangunan itu fokus ke pembangunan Selatan-Selatan.

Di samping itu juga ada sejumlah masalah lain yang menjadi penghalang bagi BRICS beranjak lebih jauh. China dan India saling curiga soal isu keamanan dan hegemoni. China punya masalah dagang, termasuk praktik dumping yang dituduhkan Brasil. Antara China dan Rusia juga ada persaingan tersembunyi tentang siapa yang lebih kukuh sebagai adidaya dunia.

Kegagalan menyatukan visi akan menjadi hal yang mempermalukan BRICS. ”Ironisnya, barangkali masalah internal BRICS yang akan menjadi masalah bagi dunia pada masa depan,” kata Daniel Twining dari lembaga nonpartisan Amerika Serikat, German Marshall Fund.

Dengan demikian, China sebenarnya sedang kesulitan meraih status pemimpin global. Namun, jika BRICS mampu mengatasi berbagai masalah itu, hal tersebut akan menjadi langkah maju.

Jika berhasil, BRICS bisa melakukan sesuatu yang lebih baik demi sebuah dunia yang lebih berimbang. Itu juga akan memberi pesan kepada AS dan Eropa bahwa kekuatan dunia sekarang tak berimbang. Juga akan ada pesan bahwa tatanan dunia sekarang saat ini tak lagi bisa bekerja efektif.

Terus melaju

Lepas dari beberapa masalah internal tersebut, kemajuan ekonomi BRICS dianggap sebagai sebuah sinyal soal pembangunan dunia yang sedang berubah. Kecenderungan ini sudah tak terbantahkan.

Ini terlihat dari total nilai produk domestik bruto (PDB) BRICS sebesar 25 persen dari total PDB dunia. BRICS juga memiliki 40 persen dari total penduduk dunia.

Jim O’Neill, Ketua Goldman Sachs Asset Management, mengatakan, pertemuan BRICS saat Eropa sedang dilanda kemelut keuangan merupakan sinyal tentang perubahan pola pembangunan dunia.

Perdagangan di antara negara maju turun 6 persen dalam empat tahun terakhir. Di sisi lain, pertumbuhan perdagangan di antara sesama negara berkembang naik 38 persen. Ini data yang diperlihatkan Ebrahim Rahbari dan Deimante Kupciuniene, dua ekonom dari Citi Group.

Posisi BRICS kini juga tak lagi dilihat sebagai sebuah kekuatan ekonomi semata. BRICS, misalnya, sudah diminta para aktivis untuk lebih berperan aktif dalam persoalan Suriah. Para aktivis hak asasi manusia dari lima negara BRICS telah mendesak para pemimpin mereka menekan Suriah agar memberikan akses pada badan-badan kemanusiaan.

Presiden Rusia Vladimir Putin, pekan lalu, juga berkeinginan agar BRICS lebih proaktif dan solid dalam agenda global. (AFP/AP/REUTERS/mon)


Editor :