Rabu, 30 Juli 2014

News /

Masyarakat Bali Diminta Tenang

Sabtu, 26 Januari 2013 | 03:16 WIB

Denpasar, Kompas - Gubernur Bali I Made Mangku Pastika meminta masyarakat Bali agar tidak turut terpancing aksi anarki di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Para penegak hukum dan pemerintah setempat sudah bertindak untuk memulihkan kondisi dan suasana aman.

Pastika mengatakan hal itu menanggapi aksi keprihatinan atas kekerasan terhadap etnis minoritas yang digelar eksponen masyarakat Bali dalam Forum Solidaritas dan Setia Nusantara di Balai Wantilan DPRD Bali di Denpasar, Jumat (25/1).

Menurut Pastika, kekerasan tidak dapat diselesaikan dengan kekerasan. Upaya mengakhiri kekerasan justru dapat dilakukan dengan tindakan damai dan tanpa kekerasan. Namun, penyelesaian jangka pendek terhadap aksi anarki yang terjadi hanya dengan penegakan hukum yang tegas dan adil.

”Kita semua prihatin atas kejadian di negara ini. Akan tetapi, prihatin saja tidak cukup. Harus ada langkah sistematis dan terus-menerus untuk mengingatkan bahwa kita semua bersaudara,” kata Pastika.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Arif Wachyunadi mengatakan, Polri dan TNI bersama pemerintah daerah setempat sudah mengambil langkah untuk mengamankan suasana di Sumbawa Besar. Khusus di Bali, polisi bersama warga sepakat dan berkomitmen untuk menjaga keamanan Bali.

Minta tegas

Forum Solidaritas dan Setia Nusantara, eksponen masyarakat Bali yang menggelar aksi keprihatinan atas kasus kekerasan di Sumbawa, mendesak pemerintah dan aparat keamanan bertindak tegas dan adil dalam menegakkan hukum terhadap pihak yang terlibat langsung dan tidak langsung, yang menyebabkan terjadinya tragedi kemanusiaan itu.

Koordinator Aksi Forum Solidaritas dan Setia Nusantara I Gde Made Sadguna menyampaikan tuntutan agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah merehabilitasi, merenovasi, dan melakukan pemulihan korban secara layak dan manusiawi.

Selain dihadiri Gubernur Bali dan Kapolda Bali, forum penyampaian aspirasi keprihatinan atas kasus kekerasan di Sumbawa itu juga dihadiri Ketua DPRD Bali Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, kalangan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali, dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali.

Mulai pulih

Warga Kabupaten Sumbawa keturunan Bali, yang mengungsi di markas TNI dan Polri terkait kerusuhan akibat terprovokasi isu bernuansa suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) yang mencuat Selasa (22/1), mulai kembali ke rumahnya.

”Informasi dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa sejak kemarin (Kamis) sore sudah ada pengungsi pulang ke rumahnya,” kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretaris Daerah NTB Tri Budiprayitno di Mataram, Jumat.

Pengungsi kembali ke rumah masing-masing karena situasi keamanan makin kondusif. ”Hari ini (Jumat) dikabarkan ada juga yang akan pulang ke rumahnya, dan akan difasilitasi pemerintah daerah, termasuk pasokan bantuan tanggap darurat dalam 12 hari ke depan,” ujarnya.

Pembenahan rumah warga yang terkena kerusuhan itu juga melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat setempat. Jumlah pengungsi sekitar 1.000 jiwa, tersebar di tiga lokasi, yakni Markas Kodim Sumbawa, Markas Kompi Senapan B Batalyon Infanteri (Yonif) 742/SYB, dan di Markas Polres Sumbawa.

Janjikan bantuan

Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, Rabu (23/1), sempat berdialog dengan pengungsi sekaligus berjanji bagi warga yang jadi korban kerusuhan dan rumahnya rusak akan dibantu pemerintah provinsi dan kabupaten. Bahkan, Bupati Sumbawa Jamaludin Malik diminta memberikan bantuan darurat dan menyiapkan program bantuan usaha mikro kecil, mengingat banyak di antara para pengungsi berprofesi pedagang.

Menurut keterangan Polda NTB, dalam kerusuhan yang dipicu isu menyesatkan yang mengaitkan kecelakaan lalu lintas dengan SARA itu, 35 unit rumah dibakar, puluhan rumah lainnya rusak berat, 2 unit toko dan 2 swalayan juga dijarah dan dibakar.

Selain itu, 4 mobil dan 7 sepeda motor dibakar, 1 unit hotel (Hotel Tambora) dibakar, dan 1 bengkel dirusak dan dijarah. Tujuh sepeda motor lainnya dirusak, 6 unit toko dibakar, dan 142 unit kios di Pasar Seketeng, Kecamatan Sumbawa, juga dibakar.

Isu menyesatkan itu muncul pasca-tewasnya Arniati (30) dalam kecelakaan sepeda motor yang dikendarai kekasihnya, Brigadir Polisi I Gede Eka Swarjana (31). Kecelakaan terjadi Sabtu (19/1) sekitar pukul 23.00 Wita di jalan raya jurusan Sumbawa-Kanar Kilometer 15-16 di dekat tambak udang Dusun Empang, Kecamatan Labuhan Badas, Sumbawa. Sebanyak 33 orang ditetapkan jadi tersangka. (COK/Antara)


Editor :