Rabu, 16 April 2014

News /

Banjir Akan Lebih Parah

Senin, 24 Desember 2012 | 03:11 WIB

Baca juga

Jakarta, Kompas - Hari Senin (24/12), banjir diperkirakan kembali melanda wilayah Jakarta. Prediksi ini muncul karena hujan deras terus terjadi di hulu Sungai Ciliwung, Bogor, Minggu sore, menyebabkan ketinggian air di Bendung Katulampa, Bogor, mencapai 180 sentimeter atau Siaga II banjir.

Air dari hulu Ciliwung itu diperkirakan mencapai Jakarta hari Senin pagi, menggenangi sebagian permukiman warga di bantaran Ciliwung.

”Dengan ketinggian muka air Ciliwung 180 sentimeter, artinya ada kiriman air 372,8 meter kubik per detik ke Jakarta. Kami perkirakan air itu mencapai Depok setelah pukul 20.00, lalu mencapai Manggarai selepas subuh hingga pukul 07.00,” kata Andi Sudirman, penjaga Bendung Katulampa.

Andi memperkirakan dampak luapan air Ciliwung di hilir Jakarta lebih parah ketimbang sehari sebelumnya. Pada Sabtu pukul 17.00, ketinggian air Ciliwung 120 sentimeter, lalu mencapai Depok pukul 20.00 dengan titik tertinggi 230 sentimeter, lalu di Manggarai mencapai 770 sentimeter pada Minggu pukul 07.00. ”Senin pagi di Manggarai saya perkirakan bisa di atas 800 sentimeter. Soalnya di Depok sudah mencapai 290 sentimeter pada pukul 21.00,” katanya.

Kembali jebol

Minggu malam dari wilayah Depok dikabarkan, tanggul Kali Laya, Kelurahan Tugu, Cimanggis, Kota Depok, kembali jebol. Ratusan rumah di Perumahan Bukit Cengkeh 2 terendam hingga 1 meter. Pada hari yang sama juga terjadi longsor di Kompleks Pelni RT 009 RW 009 Kota Depok. Jebolnya tanggul ini terjadi ketika Kota Depok diguyur hujan sejak Minggu sore.

Banjir parah juga terjadi di wilayah Bandung, Jawa Barat. Hujan yang turun sejak Sabtu membuat Sungai Citarum meluap. Akibatnya, banjir menggenangi sejumlah tempat di enam kelurahan/desa di Kabupaten Bandung, Minggu.

Saat itu, ketinggian air 1-3 meter. Kondisi tersebut membuat ribuan warga mengungsi. Enam kelurahan/desa yang dilanda banjir berada di Kelurahan Pasawahan, Desa Cangkuang Wetan, Dayeuhkolot, dan Citeureup, di Kecamatan Dayeuhkolot. Selain itu, banjir juga terjadi di Kelurahan Baleendah dan Andir, Kecamatan Baleendah.

Informasi yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, hari ini banjir akan merendam kawasan bantaran Ciliwung hingga Kanal Banjir Barat, meliputi Kampung Melayu, Bidaracina, Bukitduri, Cawang, Pengadegan, Kebon Baru, Jati Pulo, Petamburan, Cikini, dan Rawa Kepak.

Nuryadi, Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga, memperkirakan, curah hujan di Puncak masih tinggi. Kondisi ini akan membuat permukaan air Ciliwung naik hari ini, dan warga di kawasan tersebut diminta waspada.

Hujan merata

Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam tiga hari hingga sepekan mendatang di Jakarta dan berbagai lokasi di sekitarnya berpotensi hujan. Potensi ini termasuk lokasi-lokasi wisata di selatan Jakarta, seperti Puncak, Bogor, atau Pantai Anyer, Banten, di sebelah barat Jakarta.

”Pertumbuhan awan akan sangat aktif terbentuk,” kata Kepala Pusat Informasi Meteorologi Publik pada BMKG Mulyono Prabowo. Wilayah Jakarta dengan pertumbuhan awan yang aktif akan meningkatkan intensitas hujan di wilayah selatan dan timur. Wilayah Jakarta utara juga berpotensi hujan ringan.

Saat ini terjadi garis konvergensi akibat pertemuan angin dari utara dan selatan. Garis itu memanjang dari Samudra Hindia di selatan Sumatera menuju selatan Kalimantan hingga selatan wilayah Sulawesi. ”Sifat hujannya akan awet. Sekarang sudah memasuki karakteristik musim hujan,” kata Mulyono.

Bibit siklon tropis juga ditengarai terjadi di utara Papua atau di sebelah timur perairan Filipina. Dampak ekor badai di kawasan tersebut biasanya meningkatkan intensitas curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Antisipasi banjir

Sejak Minggu malam, petugas di Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, mempersiapkan sejumlah tempat pengungsian dan perahu karet untuk evakuasi.

Lurah Kampung Melayu Bambang Pangestu sudah menyiapkan tiga lokasi pengungsian sejak Minggu malam, yaitu Kantor Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Rumah Sakit Hermina, dan gedung Tata Wabin. Ketiga tempat itu bisa menampung hingga 600 pengungsi.

Jika jumlah pengungsi mencapai 700 orang, Kantor Dinas Teknis Pekerjaan Umum DKI juga akan dibuka. ”Warga yang rumahnya terendam banjir pastinya ada ribuan,” kata Bambang.

Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta menyiagakan 41 pompa di pusat kota dan kawasan hilir sungai di Jakarta Utara. Akan tetapi, kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemprov DKI Jakarta Ery Basworo, kalau kembali terjadi curah hujan tinggi di tengah kota, banjir bisa terjadi lagi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia dan sekitarnya seperti hari Sabtu lalu.

Menurut Ery, banjir di kawasan Bundaran HI itu disebabkan tingginya curah hujan yang mencapai 150 milimeter. Padahal, rata-rata curah hujan Jakarta per bulan sekitar 300 milimeter. Akibatnya, Kali Cideng yang menjadi tempat pembuangan air di kawasan Bundaran HI penuh.

Sementara itu, Kanal Banjir Barat yang menjadi muara Kali Cideng saat itu juga penuh. ”Seluruh pompa kami bekerja. Saluran air juga tidak ada yang tersumbat. Sementara hujan sangat lebat dan kondisi Kali Cideng sedang penuh. Kali Cideng itu tempat pembuangan air dari kawasan Thamrin,” tutur Ery.

Dinas PU akan mempercepat menormalisasi kali, sungai, saluran, dan waduk melalui pendanaan Bank Dunia. Dinas PU juga mempercepat pembangunan sistem polder di beberapa lokasi, dari 47 sistem polder yang dibutuhkan, sudah terbangun 37 sistem polder, masih kurang 10.

Selain itu, tambah Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Arfan Arkilie, saat ini semua logistik untuk korban banjir sudah disiapkan. Logistik itu diserahkan kepada kelurahan untuk dibagikan kepada warga korban banjir. ”Semua logistik sudah ada di dapur umum di kelurahan yang rawan banjir. Bahan bantuan kami berikan di tingkat kelurahan agar dapat dimasak dan didistribusikan kepada warga,” katanya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, kemacetan arus lalu lintas luar biasa pada Jumat dan Sabtu lalu di Jakarta merupakan hal yang wajar dan bisa diprediksi. Sebab, di sejumlah tempat, badan jalan lebih rendah daripada lahan kiri-kanannya, dan sistem drainase lingkungan yang buruk.

”Kemacetan lalu lintas dua hari itu karena force majeure. Kita semua harus sama-sama memaklumi. Kalau badan jalan sudah tertutup air banjir atau genangan, bagaimana kendaraan mau lewat?” katanya.(RTS/MDN/NDY/GAL/NAW/SEM)


Editor :