Senin, 22 September 2014

News / Megapolitan

Timses Foke-Nara Tak Bermaksud Perkeruh Suasana

Jumat, 10 Agustus 2012 | 20:29 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Isu bermuatan suku, agama, ras dan antargolongan kembali mencuat jelang putaran kedua pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Kali ini isu muncul langsung dari tim sukses pasangan nomor urut 1, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli, akibat pemukulan salah satu santri di Pondok Pesantren Riyadul Mu'minin, Jelambar, Jakarta Barat.

Sekretaris Tim Sukses Foke-Nara, Budi Siswanto, menampik bahwa pihaknya sengaja menyebarluaskan info tersebut untuk memperkeruh suasana. Pihaknya mengirimkan info pemukulan tersebut lantaran simpatisannya yang menjadi korban. "Kami hanya ingin memberitahukan bahwa simpatisan kami di pesantren itu dipukuli orang," kata Budi saat dihubungi, Jumat (10/8/2012).

Ia juga menolak jika pihaknya disebut melakukan fitnah terhadap pasangan nomor urut tiga. Menurutnya, pihaknya tidak pernah berkata bahwa pemukul santri tersebut adalah simpatisan Jokowi-Ahok. "Tidak ada. Belum komentar juga. Biarkan polisi saja yang menyelesaikan," ujar Budi.

Budi mengakui bahwa pihaknya telah menyerahkan kasus ini ke polisi untuk pengusutan lebih lanjut. Ketika dimintai tanggapan bahwa ternyata pemukulan ini tidak ada hubungan dengan Pilkada DKI Jakarta, ia hanya mengatakan pihaknya telah memercayakan masalahnya pada yang berwajib. "Ya sudah kalau tidak ada kaitannya dengan Pilkada DKI, biar polisi saja," katanya.

Kabar mengenai penganiayaan terhadap seorang santri di Jelambar itu disampaikan langsung oleh Ketua Media Centre Tim Sukses Foke-Nara, Kahfi Siregar, melalui pesan berantai dengan Blackberry Messenger. Dalam pesan itu jelas disebutkan bahwa seorang santri di Ponpes Riyadul Mu'minin, Jelambar Baru, Grogol Petamburan, Jakbar, bernama Yusuf menjadi korban penganiayaan. Relawan Fauzi-Nara itu diduga dianiaya oleh simpatisan Jokowi-Ahok. Pesan itu juga menyebutkan etnis terduga pelaku. Akibat insiden itu, Yusuf mengalami luka lebam, pingsan, dan mata tidak bisa melihat.

Ketika hal itu dikonfirmasi kepada korban pemukulan, Yusuf dengan tegas membantah bahwa insiden itu terkait dengan Pilkada DKI Jakarta. Yusuf menyatakan bahwa kasus ini murni perselisihan biasa antarwarga. Ia sendiri sudah melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan pelaku bernama Ronald dan kawan-kawannya ke Polsektro Tanjung Duren, Jakarta Barat. Dalam tahap mediasi, kedua belah pihak sudah mau berdamai.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto meminta agar jangan sampai ada pihak yang berusaha memperkeruh suasana dengan isu-isu SARA yang sengaja diembuskan. "Kalau ada pihak yang memanfaatkan momen ini dan menghubungkannya dengan Pilkada, faktanya tidak sampai ke situ. Ini sengketa kecil, murni pidana," katanya.


Penulis: Riana Afifah
Editor : Laksono Hari W