Latih Anak Berempati dengan Berbagi - Kompas.com

Latih Anak Berempati dengan Berbagi

Kompas.com - 03/08/2012, 16:55 WIB

KOMPAS.com - Orangtua perlu melatih anak untuk memiliki kepedulian terhadap sesama, dengan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Latihan ini semestinya dilakukan tak hanya memanfaatkan momentum Ramadhan melainkan menjadi kebiasaan selama 11 bulan sebelumnya.

Prinsip inilah yang dijalankan keluarga Shahnaz Haque dan Gilang Ramadhan. Bagi Shahnaz, mencontohkan anak berbagi dan peduli terutama kepada kalangan tak berpunya setiap hari akan menumbuhkan rasa empati secara alami dalam diri anak.

"Salah kalau tiap bulan puasa kita berubah menjadi malaikat. Namun kebanyakan orang memang ingin berbuat baik di bulan Ramadhan, itulah mengapa kita merindukan Ramadhan. Jadi, untuk melatih anak agar punya kepedulian enggak bisa hanya dalam satu bulan, harus dilatih 11 bulan, lebih mantap lagi di bulan Ramadhan," jelas Shahnaz saat berbincang dengan Kompas Female, di sela kegiatan ABC Dapur Peduli berbagi paket berbuka puasa kepada 1000 dhuafa di kawasan masjid Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta, beberapa waktu lalu.

Shahnaz dan Gilang mengajak serta tiga buah hatinya dalam kegiatan berbagi ini. Tujuannya bukan semata untuk memeriahkan acara namun memberikan contoh langsung bagaimana orangtua aktif terlibat dalam kegiatan sosial. "Mengajak anak ke masjid, di mana semua orang berkumpul dari berbagai kalangan, si kaya dan si miskin, mengaji, berbagi kepada orang yang membutuhkan, sudah sering kami lakukan bersama  anak-anak," tuturnya.

Menurutnya, kebiasaan berkumpul dan berbaur dengan berbagai kalangan terutama kaum dhuafa, membuat anak-anak lebih berempati terhadap orang lain. Anak-anak juga menjadi lebih cepat dan tahu harus melakukan apa jika melihat ada orang lain yang membutuhkan.

Kepedulian yang tertanam dalam diri tiga putrinya ini juga terlatih karena kebiasaan Shahnaz dan Gilang yang selalu menyediakan makanan kecil, buku, dan permen di mobil. Setiap kali mendapati pemulung atau anak jalanan selama keluarganya berkendara, Shahnaz membiasakan anak-anaknya untuk berbagi terutama buku bacaan.

"Siapa bilang anak jalanan nggak mau baca, setiap kali kami berikan buku bacaan, mereka menepi membaca buku yang kami berikan, nggak lagi sibuk ngamen," jelasnya.

Pembiasaan seperti ini, berbagi dan berbaur bersama kalangan tak berpunya, penting dilakukan orangtua terhadap anak-anak. Bukan sekadar mengajak anak, namun memberikan contohnya langsung secara terus-menerus.

"Anak-anak nggak lahir dalam keadaan susah, bahaya kalau tiga anak kami ini hanya terbiasa hidup mapan, tidak merasakan mereka yang kesusahan. Tidak akrab dengan kesusahan. Jangan sampai mereka nanti tumbuh besar menjadi perempuan yang hanya mencari pria kaya karena terbiasa hidup enak. Dekat dengan orang miskin membuat kaya hati. Namun kita tidak mengasihani, tapi berbuat sesuatu, melakukan aksi nyata," ungkapnya.

Atas rasa peduli yang dilatih Shahnaz dan Gilang terhadap ketiga putrinya, orangtua muda ini mengaku anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berempati dan kreatif. Shahnaz bercerita, "Pernah, si kecil dapat nasi bungkus, lalu ia lihat pemulung dan ia memberikannya langsung kepadanya tanpa bertanya lagi kepada saya. Meski setelahnya dia menodong saya makan enak, ya tidak apa, yang terpenting bagi saya, anak-anak tahu harus berbuat apa kepada lingkungannya."

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorDini

    Close Ads X