Selasa, 23 September 2014

News / Coretan Ringan

Disambut Tembakan Salvo di Vierkant

Senin, 25 Juni 2012 | 15:22 WIB

SAAT utusan asing sampai di pangkalan laut, mereka akan ditemui oleh syahbandar. Mereka disambut dengan tembakan salvo, lantas dibawa ke pabean. Di sini mereka ditemui oleh komite para pembesar atas nama Pemerintah Tinggi.

Setelah beramah tamah, para utusan diantar ke penginapan khusus duta besar di Vierkant (pabean). Ketika menuju tempat penguasa, mereka menaiki kereta kenegaraan. Surat yang mereka bawa diletakkan di atas nampan perak atau emas, ditutupi dengan kain satin kuning dan dinaungi payung kuning.

Kereta itu dihela oleh empat ekor kuda. Geraknya perlahan-lahan karena didahului oleh satu kompi tentara kavaleri dan satu kompi pasukan infanteri. Arak-arakan yang berjalan lambat itu melewati sepanjang jalan raya utama Batavia. Di belakang kereta, berjalan lambat arak-arakan budak Kompeni. Mereka membawa hadiah, diikuti panitia penyambutan yang berkereta.

Setiba di gerbang benteng, semua orang harus turun dari kereta. Pintu masuk sengaja dimuat kecil untuk faktor keamanan. Utusan dan para pengiring selanjutnya memasuki halaman istana dan melewati dua baris pasukan tombak. Di tangga di depan gedung pemerintah, dua penasihat sudah menanti. Terompet mulai dibunyikan dan gendang ditabuh. Disusul tembakan senapan dan salvo dari meriam. Uniknya, jumlah tembakan senapan dan meriam tergantung kedudukan utusan tersebut. Semakin banyak tembakan, berarti semakin tinggi kedudukan utusan.

Setelah itu utusan diperkenankan memasuki ruang pertemuan, untuk bertemu gubernur jendral. Setelah semua orang duduk, surat diserahkan dan hadiah dipajang di atas meja. Surat dibuka, lalu dibaca keras-keras oleh pemandu acara. Ini untuk surat yang ditulis dalam bahasa Melayu atau Portugis. Jika ditulis dalam bahasa lain, surat harus diserahkan kepada para ahli untuk dipahami isinya.

Sesuai kebiasaan, utusan ditawari sirih pinang dan seteguk anggur. Sementara pejabat Belanda mengisap pipa tanah liat. Setelah itu, utusan diantar keluar seperti saat mereka tiba. Saat ini sejumlah surat tentang hubungan diplomatik masih tersimpan rapi di museum-museum Belanda.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

 


Editor : Pingkan