Senin, 22 Desember 2014

News /

PELARIAN NENENG

Berenang ke Pantai hingga Samarkan Wajah buat Pulang

Kamis, 14 Juni 2012 | 04:00 WIB

Keinginan Neneng Sri Wahyuni untuk pulang ke Indonesia begitu besar. Neneng tak tahan hidup sebagai pelarian di negeri orang. Meski tinggal di apartemen di kawasan mewah Kuala Lumpur, Malaysia, bersama tiga anaknya, Neneng tak tenang.

Namun, menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi, yang menetapkannya sebagai buronan sejak jadi tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pembangkit listrik tenaga surya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, bukan pilihan. Dengan uang yang dimilikinya, Neneng ingin tetap hidup bebas tanpa kekangan penjara.

Lalu, diputuskanlah, Selasa (12/6) pagi menjadi waktu yang tepat untuknya pulang. Karena telah dinyatakan buron sejak Agustus 2011 dan tak tertangkap, Neneng menyangka KPK menyerah. Dia tak sadar, ada petugas KPK berbulan-bulan mengintainya di Kuala Lumpur.

Rencana pulang ke Indonesia disiapkan. Dua orang Malaysia, Mohamad Hasan bin Khusi dan R Azmi bin Muhamad Yusof, dibayar Neneng untuk membantunya agar tak terdeteksi KPK. Salah satu warga negara Malay- sia ini diduga Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto penasihat Kerajaan Malaysia.

Dari dua warga Malaysia inilah, Neneng mendapat kapal ke Batam. Berangkat dari Malaysia pada Selasa pagi, Neneng sampai di perairan Batam Selasa sore. Saat mendekati perairan Batam, Neneng melakukan aksi yang tergolong nekat.

Informasi yang diperoleh Kompas dari KPK menyebutkan, untuk menghindari petugas imigrasi di Batam, dari kapal yang ditumpanginya, Neneng meloncat ke laut. Dia berenang mendekati pantai. Usahanya berhasil. Neneng tak ketahuan aparat imigrasi dan lolos sampai ke pusat kota Batam.

Di Batam, Neneng menginap di hotel di kawasan Nagoya. Untuk menyamarkan identitasnya, Neneng memakai krim masker di wajah. Penyamaran yang dilakukan Neneng rupanya berjalan mulus. Tak ada yang sadar akan wajah salah satu buronan yang paling dicari KPK ini.

Dari Malaysia, KPK rupanya telah mengendus kaburnya Neneng hingga ke Batam. KPK mendapatkan informasi dari Batam, Neneng hendak ke Jakarta Rabu pagi menggunakan pesawat Garuda. Info sedikit meleset karena Neneng menggunakan Citilink. KPK sempat kesulitan karena Neneng tak memakai nama sebenarnya di manifest pesawat. Ini berkat dua warga Malaysia yang telah membantunya sejak merencanakan kepulangannya ke Indonesia dari Malaysia. ”Butuh uang seharga sebuah rumah untuk membayar dua warga Malaysia ini,” kata salah seorang pejabat di KPK.

Karena info keliru soal pesawat yang ditumpangi Neneng, KPK tak bisa menangkapnya di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi, begitu keberadaannya di Jakarta dipastikan, petugas KPK yang memburu Neneng telah disiapkan di semua titik yang mungkin didatangi. Termasuk di rumahnya, Jalan Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Di rumahnya, pelarian Neneng berakhir.

Neneng mempersiapkan semua kepulangannya ke Indonesia dengan mengelabui KPK. Koper dan semua perlengkapannya disiapkan di mobil yang lain saat dirinya hendak menuju rumah.

Jakarta hanya tujuan antara. Tujuan akhir Neneng Pekanbaru, Riau, tempat dia bersama suaminya, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, membuka PT Anugrah Nusantara tahun 1999.

Neneng pulang duluan. Baru setelah merasa aman di Indonesia, dia merencanakan kepulangan anak-anaknya yang masih ditinggal di Malaysia.

(KHAERUDIN)


Editor :