Jumat, 1 Agustus 2014

News / Megapolitan

Jirung, Si Anjing Petarung

Sabtu, 9 Mei 2009 | 10:58 WIB

KOMPAS.com — Selain sebagai hewan piaraan nan manis, beberapa jenis anjing ternyata bisa menjadi hewan petarung seperti halnya ayam aduan. Laiknya dua petinju di atas ring, anjing petarung ini juga siap adu kuat habis-habisan menghadapi lawannya. Namun, yang perlu diingat, tak semua anjing bisa menjadi anjing petarung.

Nah, salah satu jenis anjing yang kesohor sebagai jago berkelahi adalah jirung. Ini anjing lokal namun masih keturunan dari jenis pitbull yang kesohor sebagai anjing laga.

Anjing yang mempunyai ciri khas bagian hidungnya hitam legam ini memang punya watak pantang menyerah dalam menghadapi lawannya. Watak anjing ini benar-benar bernyali tebal sehingga mampu menyihir para pecinta anjing di Tanah Air sejak 1997.

Salah satu penggemar berat anjing petarung adalah Tony Jusuf. Direktur PT Sigma Bangun Persada ini mengaku langsung kagum melihat sifat petarung si jirung.

Berangkat dari kekaguman itu pula, Tony bersama penggemar jirung yang lain membentuk perkumpulan penggemar anjing petarung pada 2005. Di samping Tony, para pendiri perkumpulan yang bernama Indonesia Pit Dog Club (IPDC) ini antara lain Herwan Gozali, Agus Bambang, Nano Yogananta, Christian, Rudy Jusuf, Agam, Benjamin Ginting, Johan, Stanley, dan Zaldy Lee.

Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota IPDC semakin bertambah. Penggemarnya pun menyebar ke beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Manado, dan Medan.

Entah disengaja atau tidak, dari sekitar 200 anggota klub jirung ini kebanyakan pengusaha. Walhasil, untuk mempertemukan para anggota saja susahnya minta ampun. Kalaupun semua bisa kumpul, terjadinya satu tahun sekali saja. “Kalau sekadar berbagi informasi, kami bisa adakan pertemuan kecil-kecilan,” ujar Herwan Gozali, penggemar jirung yang juga Direktur Operasional PT Express Taksi.

Meski banyak anggota yang berasal dari Jakarta, bukan berarti markas besar pecinta jirung ada di Ibu Kota. “Justru base camp kami ada di Yogyakarta,” tutur Tony Jusuf.

Dipilihnya kota Sri Sultan ini bukan tanpa alasan. Pertama, banyak penggemar anjing petarung berasal dari Kota Gudeg. Lantas, lokasi Yogya yang berada di tengah-tengah sepertinya gampang dicapai dari segala penjuru Tanah Air.

Selain itu, Herwan menambahkan bahwa kekerabatan di Yogyakarta lebih kental. Dan, yang lebih penting, untuk mengurus izin bertarung tidak berbelit. “Yogya identik dengan kesejukan. Jadi, kami bisa melaksanakan ajang pertarungan jirung sambil liburan bersama keluarga,” kata Herwan.

Makanya, para anggota klub jirung ini saban tahun pasti berkumpul di Kota Pelajar. Biasanya pertemuan itu diadakan antara Agustus dan November mengambil tempat di Bumi Perkemahan Wana Gondang, Kaliurang. Di sanalah festival anjing petarung mereka gelar.

Salah satu tujuan pendirian klub ini, menurut Tony, adalah untuk mendapatkan anjing petarung lokal yang tangguh. Selain itu, kalau bisa, dapat berbicara di tingkat internasional. Maka, “ajang pertarungan” di Yogya ini sekaligus untuk mencari bibit-bibit juara.

Untuk mempersiapkan jirung, para penggemar biasanya melatih mereka secara bersama-sama. IPDC sendiri mengagendakan acara latihan bersama ini sebanyak tiga kali dalam setahun. Latihan ini lazimnya mereka selenggarakan menjelang turnamen digelar. “Sebelum bertanding, jirung harus berlatih minimal selama dua bulan,” papar Nano Yogananta, pencinta jirung yang punya usaha di bidang desain kreatif.

Latihan bersama biasanya berlangsung pada Desember, Maret, atau April. Oh, ya, para anggota juga kerap melakukan latih tanding jirung di luar agenda yang telah ditetapkan.

Kisah para maniak beralih minat ke anjing ras pitbull ini seru juga. Lihat saja pengalaman Herwan. Sebelumnya, ia memang pencinta anjing. Beragam jenis anjing telah ia koleksi. Namun, setelah melihat karakter jirung, ia langsung jatuh hati. Anjing ini memang tangkas. Daya tahan tubuhnya kuat, dan yang tak kalah penting, perawatan jirung terbilang mudah. “Beri makan yang cukup, kasih vitamin, dan selalu jaga kebersihan kandang. Itu sudah cukup,” kata Herwan, yang tak segan-segan berburu pitbull sampai ke Thailand untuk mendapatkan bibit yang tangguh.

Tony pun terpukau dengan sifat dasar anjing ini yang pantang menyerah. Menurutnya, jirung tidak cengeng meski terluka. Ia akan terus bertahan hingga akhir hayat. Binatang ini juga tidak gentar bila menghadapi musuh berapa pun jumlahnya. “Karakter ini sangat cocok dan harus dimiliki seorang pengusaha seperti kami,” tandasnya.

Namun, kegarangan jirung saat bertanding seolah sirna jika bertemu dengan sang tuan. Yang muncul adalah sifat bersahabat. “Dia bisa mengenali pemilik dan lingkungannya,” kata Tony yang memiliki tujuh ekor jirung di rumahnya, kawasan Meruya. Karena itu pula, jirungnya sangat membantu untuk menjaga keamanan rumah.

Lantas, bagaimana dengan tudingan bahwa hobi aduan seperti ini identik dengan judi? Untungnya, dalam kamus komunitas pencinta jirung, tidak ada bumbu perjudian di dalam laga jirung. Justru ajang ini lebih banyak untuk mencari jirung sejati. “Intinya bukan menang atau kalah, tapi melatih anjing-anjing itu agar lebih tangguh,” ujar Tony.

Lewat komunitas ini, para penggemar anjing petarung dididik untuk mengadu anjing dengan benar. Sebab, adu jirung juga memiliki aturan khusus yang wajib dipatuhi. Misalnya, ukuran sasana tanding harus seluas 4 x 4 m dengan ketinggian ring 60 cm.

Anjing yang diadu harus sehat dan berjenis kelamin sama. Jantan harus lawan jantan, betina harus lawan betina. “Sama halnya dengan manusia, kekuatan fisik lelaki lebih besar ketimbang perempuan. Jadi, kalau jirung ini diadu sesama jenis agar kekuatannya imbang,” kata Herwan yang memiliki empat anjing petarung. Biasanya para pehobi jirung lebih suka mengadu anjing jantan karena kekuatannya lebih besar.

Saat si jirung bertempur memperebutkan kehormatan, para pehobi bakal memerhatikan betul kondisi fisik anjing petarung ini selama berkelahi. Tatkala salah satu dari jirung terluka parah, maka pertarungan harus dihentikan. Dan, bilamana jirung sudah sering kali menghindar dari lawan, pertarungan juga harus dihentikan. “Kami tidak boleh memaksakan anjing untuk bertarung,” tandas Nano. Haram hukumnya kalau dalam pertarungan itu ada anjing yang sekarat atau mati.

Polah jirung pun tak lepas dari aturan. Kalau jirung itu menggigit atau menyerang manusia saat bertanding, dia langsung dicoret dari pertandingan. Lalu si jirung segera diamankan supaya tidak membahayakan.

Meski begitu, kegemaran adu jirung ini tetap menuai pro dan kontra. Bagi yang kontra, mereka melihat ajang adu anjing ini sebagai bentuk kekejaman, dan sangat sadis, walau pada dasarnya anjing merupakan binatang petarung. “Ini, kan, hobi. Kami tentu tidak asal mengadu anjing,” dalih Tony.

Tony menjelaskan bahwa pertarungan jirung ini tak beda dengan olahraga tinju. Adu anjing juga mengenal peraturan. Selain itu, pertarungan jirung harus memenuhi persyaratan yang aman.

Bak pertarungan tinju internasional, dalam setiap turnamen laga jirung, panitia akan menyediakan pula tim dokter, juri, dan wasit yang profesional. “Semuanya bisa dipertanggungjawabkan, event kami juga disetujui oleh pihak yang berwenang,” kata Tony.

Komunitas ini berharap, jirung bisa mendapat pengakuan sebagai anjing jenis petarung dari Indonesia. Dengan demikian, nasibnya tidak seperti anjing kintamani yang hanya diakui secara nasional. “Kami berharap jirung dikenal dan diakui di mata internasional sebagai anjing petarung dari Indonesia,” harap Tony. (Fransiska Firlan/KONTAN)


Editor :
Sumber: