Jumat, 25 April 2014

News / Regional

Menuai Rezeki dari Budi Daya Pisang...

Kamis, 4 Desember 2008 | 21:24 WIB

Baca juga

Oleh: Harry Susilo

"Pisang ini biasa dijual di pasar swalayan, harganya Rp 15.000 per sisir," ucap Widodo (49) seraya menjulurkan satu sisir pisang ambon berwarna hijau muda yang kemudian diletakkannya di atas meja kayu di hadapannya.

Padahal, Widodo menjual pisang tersebut hanya Rp 9.000-Rp 10.000 per sisir, yang terdiri atas 20 buah, kepada para pengepul. Kendati demikian, ketua kelompok tani Alam Usaha Agung ini tidak pernah merisaukannya. "Budi daya pisang itu menguntungkan, perawatannya mudah, dan hasilnya lumayan," ucapnya, Rabu (3/12), sambil tersenyum.

Baginya, harga jual pisang kepada konsumen dengan harga jual dari petani masih sepadan. Terlebih lagi, harga pisang selalu menanjak setiap tahunnya. Tak heran, Widodo bersama sekitar 600 petani dan buruh tani di Desa Bangunsari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, masih mengandalkan pisang untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Sejak mulai berbudi daya pisang pada awal tahun 2003, Widodo belum pernah dikecewakan dengan komoditas andalan desanya ini. "Awalnya saya hanya memiliki lahan 0,75 hektar, sekarang sudah 7 hektar. Semua itu didapat dari hasil budi daya pisang," tutur Widodo.

Untuk satu kali masa panen pisang raja bulu di atas lahan satu hektar misalnya, Widodo bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 105 juta per tujuh bulan. Jika dipotong biaya produksi untuk membeli bibit, pupuk, sewa tenaga kerja, dan pembuatan drainase dengan total pengeluaran sekitar Rp 27 juta, ia masih bisa mengantongi Rp 78 juta per hektar.

Jumlah itu sudah dikurangi dengan tanaman pisang yang rusak karena terserang jamur, kata bapak empat anak ini. Pisang raja bulu tersebut dijualnya seharga Rp 6.000-Rp 7.000 per sisir atau Rp 35.000 per tandan.

Belum lagi jika pisang ambon yang dipanennya. Widodo memperkirakan bisa memperoleh sekitar Rp 100 juta untuk satu kali panen di atas lahan satu hektar.

Menguntungkan

Sebelum beralih ke pisang, petani di Desa Bangunsari umumnya menanam jagung dan cabai untuk bersandar hidup. Namun, tidak stabilnya harga dua komoditas tersebut membuat sebagian petani beralih ke komoditas lain, termasuk di antaranya pisang. "Saya sudah pernah coba menanam tebu untuk dikirim ke Pabrik Gula Sragi, tetapi hasilnya tetap lebih menguntungkan pisang," kata Widodo.

Alhasil, Widodo hanya menanami seluruh lahannya dengan pisang. Lahan 5,5 hektar untuk pisang ambon dan 1,5 hektar lagi ditanami pisang raja bulu.

Dedi Mulyadi (35), petani pisang lainnya di Desa Bangunsari, juga memperoleh berkah dari hasil budi daya pisang. Ia mampu memperoleh penghasilan Rp 2,5 juta per bulan dari hasil menanam pisang di lahan seluas seperdelapan hektar dan menjadi buruh tani. Hasilnya bisa untuk menyekolahkan anak, ucap mantan buruh pabrik yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) ini.

Setelah terkena PHK, bapak satu anak ini langsung menekuni dunia pertanian. Kemudian dalam jangka waktu empat tahun, Dedi akhirnya berhasil memiliki lahan sendiri seluas 1.250 meter persegi yang ditanami pisang. "Padahal, waktu awal bertani, saya masih menyewa lahan yang saya gunakan untuk menanam," katanya.

Sandaran hidup

Kepala Desa Bangunsari Nurqosim mengatakan, sejak tahun 2003, budi daya pisang menjadi sandaran hidup sekitar 600 keluarga di desanya. Dari sekitar 200 hektar luas lahan pertanian di desanya, 148 hektar di antaranya ditanami pisang raja bulu dan ambon, sedangkan sisanya cabai dan jagung.

Masyarakat meyakini, budi daya pisang bisa menghasilkan keuntungan yang memadai asal diikuti dengan pemasaran yang baik. Untuk itu, lanjut Nurqosim, kelompok tani pisang di daerahnya telah memiliki mitra kerja dengan PT Sunrise di Jakarta untuk memasarkan produk mereka.

Kepala Dinas Pertanian Kendal Subaedi mengakui, pisang ambon yang dihasilkan di Kecamatan Patebon dipasarkan ke sejumlah kota, seperti daerah Bandungan, Kabupaten Semarang, dan daerah Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Sementara untuk pisang raja bulu dipasarkan ke Jakarta dan sebagian diekspor ke Jepang.

Kendati demikian, belum ada daerah lain di Kabupaten Kendal yang memanfaatkan lahannya untuk budi daya pisang. Alhasil, dalam kurun waktu tiga tahun, luas lahan yang ditanami pisang di Kabupaten Kendal terus menurun. Menurut data Dinas Pertanian Kendal, luas lahan yang ditanami pisang pada tahun 2005 mencapai 5.088,1 hektar, pada tahun 2006 menjadi 3.825,3 hektar, dan menyusut kembali menjadi 3.678,7 hektar pada tahun 2007.

Tak ayal, penyusutan tersebut diikuti dengan jumlah produksi. Pada tahun 2005, Kabupaten Kendal bisa memproduksi 238.079 kuintal pisang, kemudian menjadi 208.851 kuintal pada tahun 2006, dan 202.407 kuintal pada tahun 2007. "Pisang yang ada di daerah lain, kebanyakan hanya ditanam di lahan pekarangan sebagai tanaman pelengkap, seperti pisang kepok," ucap Subaedi.  


Editor :