Jumat, 31 Oktober 2014

News / Kesehatan

Perubahan Kelamin karena Sex Ambiguity

Selasa, 9 September 2008 | 07:27 WIB

KASUS yang menimpa Nia Andina alias Nizar Ramadhan hanya terjadi pada satu dari 20.000 kelahiran. Namun demikian, menurut spesialis andrologi dari RSUD Dr Soetomo, dr Susanto Sp And, apa yang terjadi pada Nia tak bisa persis disebut sebagai kasus kelamin ganda atau hermaprodit.

“Lebih tepatnya adalah (kasus) ketidakjelasan jenis kelamin atau ambiguous genitalia atau sex ambiguity,” jelas Susanto ketika dihubungi Surya, Senin (8/9) malam.

Kelainan itu terjadi karena adanya sel yang tidak membelah dengan sempurna saat janin dalam kandungan, terutama pada sel kelaminnya sehingga membentuk dua kelamin.

Selanjutnya, untuk proses penanganan medis guna menentukan kecondongan kuat jenis kelamin, harus lebih dulu menjalani pemeriksaan berupa Cario Typing atau Sex Cromosome. Pemeriksaan tersebut berupa pengambilan darah, yang kemudian disaring menjadi inti sel yang dalamnya mengandung DNA. DNA inilah yang akan menunjukkan kromosom sel, yang salah satunya kromosom jenis kelamin. “Dari situ bisa ditentukan pilihan jenis kelamin apa yang lebih tepat,” kata Susanto.

Kelainan berupa ketidakjelasan jenis kelamin ini bervariasi bentuknya. Mulai dari hipospadia (kelainan pada saluran kencing) sampai bentuk kelamin luar (perempuan atau laki-laki) yang tak normal.

Hipospadia sering menyulitkan penentuan jenis kelamin, terutama pada bayi baru lahir. Pada kelainan ini, saluran kencing bayi tidak berakhir di ujung penis, tapi terputus di tengah saluran. Karena itu, jalan keluar urine ada di tengah bawah batang penis, pada daerah perineal di dekat anus atau di antara buah zakar.

Kalau lubang itu cukup besar, ini memberikan kesan mirip lubang kemaluan perempuan. Apalagi pada bayi baru lahir, buah zakar belum begitu besar atau belum turun dari rongga perut sehingga keberadaan lubang abnormal ini mengesankan kantong buah zakar seperti bibir vagina.

Kasus yang lebih kompleks disebut true hermaphroditism, yakni terdapat dua macam gonad (indung telur dan testis). Secara sitogenetik (ilmu tentang sel dan genetika), pada penderita terdapat dua macam kromosom seks, yaitu XY (laki-laki) dan XX (perempuan) dengan perbandingan bervariasi.

Keadaan ini disebut mosaicism. Pada kasus ini psikiater atau psikolog diharapkan lebih berperan, terutama dalam membantu menentukan pilihan jenis kelamin yang dikehendaki si penderita kelainan.

Kasus Ambiguous Genitalia ini sangat berbeda dengan kasus transjender atau operasi ganti kelamin. Ahli bedah plastik dari RSUD Dr Soetomo, Prof Dr dr Djohansjah Marzoeji Sp BP, menyebutkan, pada kasus transjender pasien memiliki bentuk kelamin yang jelas, tapi dia ingin mengubahnya menjadi kelamin yang berbeda.

“Hal ini terjadi akibat pengaruh kejiwaan si pasien yang berimbas pada perilaku,” ucap Djohansjah, yang menggemparkan dunia kedokteran Indonesia saat melakukan operasi transjender pada Dorce tahun 1980-an. (rie)


Editor :
Sumber: