Selasa, 2 September 2014

News / Kesehatan

Soal Transplantasi Ginjal, Wanitalah Pahlawannya

Sabtu, 31 Mei 2008 | 16:23 WIB

JAKARTA, MINGGU - Transplantasi ginjal bukan hal baru di Indonesia. Sejak dimulai 1977, sudah ada sekitar 550 pasien gagal ginjal yang melakukannya pada 10 rumah sakit. Donor ginjal sehat ke pasien gagal ginjal ini dianggap sebagai solusi terbaik bagi para pasien gagal ginjal kronik.

Khusus bagi kaum perempuan, RS PGI Jakarta sebagai salah satu rumah sakit yang sering melakukan transplantasi ini punya catatan tersendiri. Dari 283 kali melakukan tranplantasi ginjal hingga saat ini, Minggu (31/5), semua pendonor ginjal adalan kaum wanita.

Hal itu diakui Direktur Ketua RS PGI Cikini Dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH, Dipl. "Belum ada satu pun laki-laki yang donor ginjal di sini. Semuanya perempuan," ujar Tunggul dalam Seminar Awam 'Mandiri dengan Transplantasi Ginjal' di RS PGI Cikini.

Di Indonesia, katanya, tranplantasi ginjal belum menjadi sesuatu yang favorit bagi penderita gagal ginjal kronik. Padahal, jumlah pasien cukup banyak dan negara ini telah memasuki 31 tahun sejak transplantasi pertama dilakukan di RSCM dan RS PGI Cikini pada 1977.

Salah satu kendalanya, para pasien mengganggap cara ini butuh biaya relatif mahal. Untuk melakukan transplantasi ginjal, pasien membutuhkan dana sekitar Rp 50 juta sampai Rp 120 juta. Aspek nonmedis lain yang juga masih menjadi kendala pelaksanaan transplantasi yakni kurangnya pendonor ginjal.

Selama ini, sebagian besar pendonor ginjal berasal dari anggota keluarga dekat dan yang masih hidup. Padahal di negara lain seperti Amerika Serikat, yang paling banyak adalah donor jenazah (cadaveric donor).

Di Indonesia, meskpiun para tokoh masyarakat dan rohaniawan telah menandatangani kesepakatan agar bisa mendonorkan ginjal dari jenazah, rupanya masih jauh dari kenyataan. Persoalan etika, biaya dan hukum masih membayangi keinginan para pendonor maupun anggota keluarganya untuk melakukan transplantasi ginjal.

"Misalkan sebelum mati ia bersedia mendonorkan ginjalnya. Tapi pada saat setelah meninggal anggota keluarganya berkata lain karena pertimbangan moral," ujar Tunggul, yang juga menjadi salah satu anggota tim transplantasi RS PGI Cikini, Jakarta.

Didonor saudara

Seminar ini juga menghadirkan pasien yang pernah mengalami transplantasi ginjal, Eva Rianti. Pada kesempatan itu Eva mengisahkan bahwa dirinya sempat divonis gagal ginjal pada tahun 2001. Mantan pramugari Garuda Indonesia itu sangat terkejut. Pasalnya, saat itu ia merasa berada dalam kondisi yang sehat. Sesak nafas yang dialaminya dianggap sebagai penyakit yang ringan.

Upaya pengobatan alternatif coba ditempuhnya, tetapi malah memperparah kondisinya. Cuci darah pun ditempuhnya. Dalam rentang waktu 10 hari ia sudah melakukannya tiga kali. Melihat kondisi Eva, salah satu adiknya, Lidia, memutuskan untuk mendonorkan ginjalnya buat Eva.

Setelah berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui baik buruknya, keduanya memutuskan melakukkannya. "Transplantasinya terjadi bulan Agustus 2002," kenang Eva.

Kini, kondisi keduanya baik. Di depan para peserta seminar, Lidia mengatakan ia ikhlas melakukan donor ginjal buat saudaranya. "Saya anggap itu tindakan yang benar," ujarnya.


Editor :