Sabtu, 29 November 2014

News / Megapolitan

Nikmatnya Berwisata ke Pemandian Air Panas

Sabtu, 3 Mei 2008 | 14:27 WIB

BERWISATA ke pemandian air panas tampaknya belum menjadi pilihan banyak warga Jakarta dan sekitarnya. Barangkali karena konotasi air panas identik dengan mereka yang butuh berobat. Padahal, berendam di air panas sembari menikmati keindahan alam sungguh mengasyikkan.

Tak sulit mencari pemandian air panas di sekitar Jakarta. Datang saja ke Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di sana ada tiga tempat wisata air panas, yakni Wisata Air Panas Ciparai di kawasan Gunung Salak Endah, Desa Ciparai, Kecamatan Pamijahaan.Lalu, Taman Wisata Air Panas Tirta Sanita Gunung Kapur di Kampung Ciseeng, Kecamatan Parung, dan pemandian air panas Goenoeng Pancar di Babakanmadang. Jarak ketiga tempat pemandian itu dari Jakarta rata-rata di bawah 100 kilometer.

Setiap tempat wisata air panas ini memiliki pesona. Tempat Wisata Air Panas Ciparai yang berada di lembah memiliki pemandangan indah dan berbagai fasilitas, seperti penginapan dan tempat outbond.

Pemandian air panas Goenoeng Pancar berjarak sekitar 12 kilometer dari Sentul (sekitar 72 km dari Jakarta), memiliki ciri khas air panas yang tak berbau belerang. "Kandungan belerang dalam air panas di tempat ini lebih rendah dibanding pemandian air panas lainnya di Bogor dan Ciater," kata pemilik dan pengelola air panas Goenoeng Pancar, Lies Suparman (46).

Adapun ciri khas kawasan wisata Tirta Sanita di Ciseeng adalah gunung kapur yang tingginya 6-20 meteran yang menjadi sumber air panas bermineral itu. Pengunjung juga bisa mendaki gunung kapur yang menjadi tempat hidup biawak dan musang.

Selain menyediakan fasilitas mandi atau berendam air panas, di Tirta Sanita juga ada fasilitas outbond dengan biaya per paket mulai dari Rp 110.000 sampai Rp 250.000 per orang.

Yang patut diketahui, biaya masuk ke tiga tempat wisata tersebut cukup murah. Untuk masuk ke tempat itu cukup membayar Rp 2.000 hingga Rp 10.000 per orang. Tarif masuk per mobil Rp 1.000 sampai Rp 10.000.

Biaya untuk berendam air panas di pemandian umum (ramai-ramai dengan banyak orang) ada yang gratis karena sudah termasuk tiket masuk ke arena pemandian air panas. Ada pula yang Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per orang.

Biaya ini dikenakan bila Anda ingin berendam di dalam tempat khusus, atau menjalani terapi pengobatan dengan air mineral di Goenoeng Pancar.

Menapaki 200 tangga

Mengunjungi Wisata Air Panas Ciparai tak hanya menikmati air panas di kolam dan pancuran. Akan tetapi, juga menikmati keindahan alam Pegunungan Halimun-Salak.

Lokasi wisata ini salah satu dari beberapa lokasi wisata di kawasan Gunung Salak Endah (GES) yang berhawa sejuk.

Air Panas Ciparai berada di sebuah lembah di mana di dasar lembah itu mengalir Sungai Cikuluwung. Dinding-dinding lembah itu adalah kaki Gunung Salak sehingga untuk mencapai pusat lokasi wisata ini harus menapaki sekitar 200 anak tangga.

Kondisi jalan setapak selebar dua meter itu cukup bagus, tetapi pengunjung tetap harus berhati-hati karena tebingnya cukup curam dan berbelok-belok, di sisi kiri terdapat jurang. Apalagi pagar besi untuk berpegangan tidak tepat berada di sisi jalan setapak tersebut. Dengan demikian, agak sulit untuk diandalkan oleh para pengunjung untuk jadi alat berpegangan saat menapaki jalan itu.

Di tempat ini terdapat beberapa bak berendam di beberapa kamar. Selain itu, air panas juga dialirkan ke delapan pancuran di pinggir Sungai Cikuluwung. Satu pancuran air panas malah berada di ”dinding” sungai.

”Selain airnya hangat juga mengandung mineral belerang dan garam. Jadi, banyak yang datang ke sini selain untuk wisata juga untuk mengobati penyakit kulit, rematik, atau sendi-sendi yang kaku,” kata Haji Unang, salah seorang pengelola saung di kawasan wisata itu.

”Pengunjung juga memanfaatkan kerak-kerak di dinding kolam. Kerak itu dilumurkan ke wajah atau badannya. Mereka bilang bisa untuk menghaluskan kulit dan menyembuhkan jerawat,” tambah Hajjah Siti Chorijah, istri Unang.

Untuk ke kawasan wisata ini, dari pusat Kota Bogor bisa menggunakan kendaraan umum atau angkutan kota. Namun, untuk bisa mencapai lokasi harus tiga kali berganti angkot, yakni dari Terminal Barangsiang.

Apabila penumpang angkot hanya seorang, sopir bisa saja tak bersedia meneruskan perjalanan sampai dekat tujuan. Untuk bisa sampai di tujuan harus diteruskan naik ojek. Biasanya ongkos naik ojek dari kawasan GES sampai lokasi wisata sekitar Rp 5.000.

Mengingat lokasi yang cukup jauh dari Kota Bogor dan terdapat banyak obyek wisata di kawasan ini, sebaiknya Anda bermalam.

Di sana banyak vila atau rumah penduduk yang dapat disewa. Tarifnya mulai dari Rp 100.000 per kamar, per rumah, per malam-Rp 1,5 juta per vila per malam. Untuk makan bisa minta disediakan pemilik rumah atau vila. Bisa juga beli di warung-warung yang ada, atau masak sendiri karena ada penginapan membolehkan dapurnya dipakai untuk memasak sendiri.

Khusus di Wisata Air Panas Ciparai, pasangan Siti Chorijah-Unang menyediakan sedikitnya sepuluh saung dan fasilitas organ tunggal, serta seperangkat alat musik lainnya.

”Syaratnya, penyewa saung harus beli makan di warung kami. Terserah maunya makan apa, warung kami akan menyediakannya. Mulai dari mi rebus, karedok, sampai sayur asem dengan ikan asinnya. Biayanya dari Rp 5.000 sampai paling mahal Rp 40.000 per orang,” kata Ny Siti Chorijah.

Wisata air panas Tirta Sanita Ciseeng yang berada di area seluas 12 hektar, selain menyediakan kolam berendam dan kamar berbak perendam, juga menyediakan pesanggrahan, tempat permainan anak, serta fasilitas outbound.

Menurut Agus Simaladewa, Supervisor PT Supra Piranti Wisata Ria, pengelola wisata air panas di Ciseeng ini menyediakan paket menginap dan pelatihan, serta paket wisata.

Adapun tempat pemandian air panas Goenoeng Pancar dibangun di atas lahan 10 hektar. Kawasan yang banyak menjadi pilihan warga Jakarta dan Bogor untuk berwisata ini dulu korban gusuran dan berada di dalam kawasan hutan milik Perhutani. Akan tetapi, menurut pemiliknya, Lies Suparman, ia sudah memiliki lahan tersebut dan mendapat izin mengelola sumber air panas di sana.

Jalan menuju tempat wisata itu tak terlalu lebar dan beberapa kilometer masih rusak.

Yang menjengkelkan, pengunjung yang hendak menuju kawasan tersebut harus membayar retribusi yang dikenakan pengurus desa setempat. Walau besar kutipan tak seberapa, tetapi pengunjung banyak mengeluhkannya. Kutipan itu dianggap mengganggu perjalanan.


Editor :