Kompas.com - 02/08/2013, 10:35 WIB
Kemacetan terjadi di ruas jalan yang terletak di sekitar Pasar Leles, Garut, Jawa Barat, Senin (30/7/2013). Jalan ini merupakan jalur alternatif bagi para pemudik yang melalui jalur selatan atau seputar Nagreg. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Kemacetan terjadi di ruas jalan yang terletak di sekitar Pasar Leles, Garut, Jawa Barat, Senin (30/7/2013). Jalan ini merupakan jalur alternatif bagi para pemudik yang melalui jalur selatan atau seputar Nagreg.
Penulis M Suprihadi
|
EditorTri Wahono


KOMPAS.com 
- Selain kondisi badan jalan dan ketertiban pemudik, faktor lain yang perlu diperhatikan di sepanjang jalur mudik adalah lampu pengatur lalu lintas di daeah-daerah.

Arus yang tinggi dari arah barat (Jakarta ke Jawa Tengah), sudah selayaknya diikuti dengan pengaturan lalu lintas yang memadai. Tidak bisa hanya diserahkan kepada polisi yang harus bekerja keras di perempatan-perempatan jalan.

Pejabat daerah, khususnya dinas perhubungan setempat, mestinya tak bisa bekerja biasa-biasa saja atau business as usual. Mereka tetap harus di lapangan, memantau situasi lalu lintas dan kemudian berkoordinasi dengan petugad yang di kantor untuk setiap saat men-setting ulang nyala lampu pengatur lalu lintas di kotanya.

Pengalaman bertahun-tahun mudik lewat jalur selatan Jabar-Jateng selama ini menunjukkan, kerap kali kemacetan terjadi karena lampu menyala hijau dari arah barat (saat arus mudik) yang terlalu singkat, belasan detik saja.

Padahal, arus dari timur (utama) dan selatan-utara yang umumnya dari kampung kampung sangat kosong. Akibatnya, antrean pemudik sangat panjang dan tidak jarang kemudian terjadi penyerobotan jalur yang kemudian menimbulkan kemacetan parah. Hal yang sama terjadi saat arus balik.

Arus dari timur sangat tinggi, tetapi lampu menyala hijau tetap saja belasan detik saja. Kondisi seperti itu biasa terjadi di Ciamis (Jabar), Gombong, Kebumen, Kutoarjo (Jateng), dan beberapa perempatan lain di DI Yogyakarta.

Mestinya, saat arus mudik (sebelum Lebaran) lampu menyala hijau dari arah barat diperpanjang, katakanlah menjadi 120 detik, sedangkan dari timur, utara dan selatan diperpendek.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebaliknya, saat arus balik lampu menyala hijau dari arah timur yang diperpanjang. Dengan demikian, panjang antrean kendaraan bisa dikurangi dan peluang menyerobot jalur ditekan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KJRI Jeddah: Belum Ada Kepastian Kapan Jemaah Indonesia Bisa Masuk Arab Saudi

KJRI Jeddah: Belum Ada Kepastian Kapan Jemaah Indonesia Bisa Masuk Arab Saudi

Nasional
Jokowi Targetkan RI Jadi Kiblat Industri Halal Dunia pada 2024

Jokowi Targetkan RI Jadi Kiblat Industri Halal Dunia pada 2024

Nasional
Tidak Ada Lagi Seat Distancing, Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Wajib PCR

Tidak Ada Lagi Seat Distancing, Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Wajib PCR

Nasional
Menko PMK: Kesadaran akan Pentingnya Inklusi Digital bagi Lansia Perlu Ditumbuhkan

Menko PMK: Kesadaran akan Pentingnya Inklusi Digital bagi Lansia Perlu Ditumbuhkan

Nasional
Airlangga Sebut Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Lebih Rendah dari India

Airlangga Sebut Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Lebih Rendah dari India

Nasional
Syarat Perjalanan Terbaru untuk Pengemudi Kendaraan Logistik: Wajib Pakai PeduliLindungi

Syarat Perjalanan Terbaru untuk Pengemudi Kendaraan Logistik: Wajib Pakai PeduliLindungi

Nasional
Ilmuwan WHO Sebut Vaksinasi Dapat Membentuk Herd Immunity secara Aman

Ilmuwan WHO Sebut Vaksinasi Dapat Membentuk Herd Immunity secara Aman

Nasional
Wapres: Pembangunan SDM Tidak Akan Tercapai jika Anggaran Tak Tepat Sasaran

Wapres: Pembangunan SDM Tidak Akan Tercapai jika Anggaran Tak Tepat Sasaran

Nasional
Aturan Terbaru Penerbangan Jawa-Bali: Penumpang Wajib Bawa Hasil PCR, Antigen Tak Berlaku

Aturan Terbaru Penerbangan Jawa-Bali: Penumpang Wajib Bawa Hasil PCR, Antigen Tak Berlaku

Nasional
Ada Karantina dan PCR, Biaya Umrah Diprediksi Naik 30 Persen

Ada Karantina dan PCR, Biaya Umrah Diprediksi Naik 30 Persen

Nasional
Pengamat: Kasus Korupsi 4 Kader Golkar Tak Pengaruhi Elektabilitas, Publik Cepat Lupa

Pengamat: Kasus Korupsi 4 Kader Golkar Tak Pengaruhi Elektabilitas, Publik Cepat Lupa

Nasional
Vaksin Booster, Apakah Penting untuk Tubuh? Ini Penjelasan Dokter WHO

Vaksin Booster, Apakah Penting untuk Tubuh? Ini Penjelasan Dokter WHO

Nasional
Dua Tahun Jokowi-Ma'ruf, Diplomasi Pertahanan dan Modernisasi Alutsista

Dua Tahun Jokowi-Ma'ruf, Diplomasi Pertahanan dan Modernisasi Alutsista

Nasional
Komjen Paulus Waterpauw Dilantik Jadi Deputi di BNPP Kemendagri

Komjen Paulus Waterpauw Dilantik Jadi Deputi di BNPP Kemendagri

Nasional
Aturan Naik Pesawat-Kereta Terbaru: Wajib Gunakan PeduliLindungi

Aturan Naik Pesawat-Kereta Terbaru: Wajib Gunakan PeduliLindungi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.