Kinerja Industri Terus Menurun

Kompas.com - 08/06/2013, 03:16 WIB
Editor

Bandung, Kompas - Pemerintah dinilai terlambat melakukan perlindungan dan pengamanan terhadap industri lokal saat menghadapi Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) atau perdagangan bebas lainnya. Akibatnya, kinerja industri dalam negeri terus menurun seiring dengan derasnya produk dan jasa impor karena bea masuk terlalu liberal.

Hal itu dialami kalangan industri di Jawa Barat yang sejak tahun 2006 kinerjanya terus menurun, seperti dilansir Forum Ekonomi Jawa Barat (FEJ), Jumat (7/6), di Bandung.

FEJ mencatat, sejak tujuh tahun lalu, sekitar seribu industri/ pabrik di Jabar menghentikan operasi atau menurun kinerjanya. Secara nasional, industri yang menurun kinerjanya mencapai 2.000-an.

Pelajaran ini menunjukkan, penurunan kinerja industri yang terjadi tidak semata-mata akibat krisis global tahun 2008 dan 2010 yang masih berlanjut, tetapi juga karena produk Jabar tidak mampu bersaing dengan produk impor. Dampaknya, jumlah tenaga kerja menurun dan makin tumbuhnya sektor informal dan usaha mikro akibat terbatasnya lapangan kerja.

”Jabar merupakan barometer nasional karena lebih dari 50 persen manufaktur nasional ada di Jabar,” ujar Ketua FEJ Jajat Priatna Purwita.

Kontribusi produk domestik regional bruto Jabar tahun 2012 tercatat 14,2 persen atau berada pada urutan ketiga nasional setelah DKI Jakarta (16,20 persen) dan Jawa Timur (14,85 persen). Struktur ekonomi Jabar pada triwulan IV-2012 didominasi sektor industri pengolahan (35,44 persen), perdagangan, hotel dan restoran (24,78 persen), serta pertanian (9,73 persen).

Bagaimana daerah mampu mempertahankan kontribusinya pada ekonomi nasional di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global dan ancaman membanjirnya produk impor lantaran perjanjian kerja sama. Salah satu perjanjian kerja sama yang segera dilaksanakan adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ahli ekonomi yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung Ina Primiana menegaskan, diperlukan sinergitas di antara pengusaha, akademisi, dan pemerintah untuk menghadapi diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 agar tidak terjadi seperti saat ACFTA diterapkan. (dmu)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.