Polri: Kapolres Raja Ampat Seharusnya Tahu Bisnis Aiptu Labora

Kompas.com - 28/05/2013, 13:53 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Markas Besar Kepolisian RI tak menampik mutasi jabatan Kapolres Raja Ampat dan Sorong, Papua, terkait kasus dugaan rekening gendut anggota Polres Raja Ampat Aiptu Labora Sitorus. Kedua Kapolres itu seharusnya mengetahui dan mengawasi kegiatan yang dilakukan Labora hingga dapat berbisnis.

"Pimpinan menganggap keduanya wajib mengetahui apa yang terjadi di wilayahnya sehingga keputusan ini dilaksanakan," terang Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Agus Rianto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (28/5/2013).

Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Taufik Irpan, yang sebelumnya menjabat Kapolres Raja Ampat, dimutasi ke bagian Staf Perencanaan dan Anggaran Polda Papua. Sementara AKBP Gatot Aris Purbaya yang sebelumnya menjabat Kapolres Sorong dimutasi ke Direktorat Lalu Lintas Polda Papua. Serah terima jabatan berlangsung di Markas Polda Papua, Jayapura, Senin (27/5/2013).

Adapun Kapolres Raja Ampat kini dijabat AKBP Bartholomeus Meison Sagala yang sebelumnya menjabat Kapolres Waropen dan Kapolres Sorong kini dijabat AKBP Harry Goldenhardt. Meski tidak membawahi langsung Labora, Kapolres Sorong dinilai ikut bertanggung jawab. Sebab, kegiatan bisnis Labora di bidang migas dan kayu beroperasi di Sorong.

"LS adalah anggota Polres Raja Ampat, tapi lokasinya, peristiwa juga ada di Sorong. Jadi, kedua ini harusnya wajib tahu dulu sebelum pihak yang lain," kata Agus.

Labora merupakan tersangka kasus dugaan bisnis BBM ilegal dan kayu ilegal serta tersangka dugaan tindak pidana pencucian uang. Anggota Polri dilarang berbisnis seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang peraturan disiplin Polri.

Kasus Labora mencuat setelah adanya laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait rekening mencurigakan yang disebut senilai Rp 1,5 triliun milik Labora. Laporan yang dikirim oleh PPATK itu merupakan akumulasi transaksi Labora dari tahun 2007 hingga 2012. Setelah diselidiki, rekening Labora rupanya terkait dua perusahaan, yaitu PT Seno Adi Wijaya yang bergerak di bahan bakar minyak (BBM) dan PT Rotua yang bergerak di bidang kayu.

Labora mengaku memiliki usaha di bidang migas dan kayu. Namun, menurut dia, bisnis itu legal. PT Rotua dan PT Seno Adi Wijaya dibeli oleh istri Labora tak lebih dari sepuluh tahun lalu. Jajaran direksi perusahaan itu ditempati oleh orang-orang dari dalam keluarga besarnya. Istri Labora menjadi komisaris, adik iparnya menjadi direktur, dan kepemilikan saham dibagi juga kepada dua anaknya.

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Panglima TNI Minta Babinsa Ikut Sosialisasikan Kebiasaan Baru

    Panglima TNI Minta Babinsa Ikut Sosialisasikan Kebiasaan Baru

    Nasional
    Pemerintah Beri Santunan Rp 300 Juta untuk 22 Tenaga Medis Penerima Bintang Tanda Jasa

    Pemerintah Beri Santunan Rp 300 Juta untuk 22 Tenaga Medis Penerima Bintang Tanda Jasa

    Nasional
    Amien Rais Sebut Perkembangan Politik di Era Jokowi Semakin Kurang Demokratis

    Amien Rais Sebut Perkembangan Politik di Era Jokowi Semakin Kurang Demokratis

    Nasional
    KPK Selidiki Kasus Korupsi di Balik Mundurnya Kepsek di Indragiri Hulu

    KPK Selidiki Kasus Korupsi di Balik Mundurnya Kepsek di Indragiri Hulu

    Nasional
    Bawaslu Ungkap 4 Modus Politisasi SARA yang Potensial Terjadi di Pilkada 2020

    Bawaslu Ungkap 4 Modus Politisasi SARA yang Potensial Terjadi di Pilkada 2020

    Nasional
    Klaster Sekolah  Bermunculan, Ini Komentar Satgas Covid-19

    Klaster Sekolah Bermunculan, Ini Komentar Satgas Covid-19

    Nasional
    Wapres Minta Kementerian Bangun Kepercayan Publik soal Penanganan Covid-19

    Wapres Minta Kementerian Bangun Kepercayan Publik soal Penanganan Covid-19

    Nasional
    Saat Sri Mulyani Mengenang 'Tukang Mebel' 22 Tahun Lalu yang Kini Jadi Presiden

    Saat Sri Mulyani Mengenang 'Tukang Mebel' 22 Tahun Lalu yang Kini Jadi Presiden

    Nasional
    Doni Monardo Daftar Jadi Relawan Vaksin Covid-19

    Doni Monardo Daftar Jadi Relawan Vaksin Covid-19

    Nasional
    Wapres Minta Kementerian/Lembaga Siapkan Skenario jika Tak Bisa Serap Anggaran

    Wapres Minta Kementerian/Lembaga Siapkan Skenario jika Tak Bisa Serap Anggaran

    Nasional
    Jerinx Ditahan, Ini Pesan Satgas Covid-19 untuk Figur Publik

    Jerinx Ditahan, Ini Pesan Satgas Covid-19 untuk Figur Publik

    Nasional
    Masker Medis Bekas Dijual Lagi, Kemenkes: Jangan Buang Sembarangan

    Masker Medis Bekas Dijual Lagi, Kemenkes: Jangan Buang Sembarangan

    Nasional
    Sebaran 2.098 Kasus Baru Covid-19, DKI Jakarta Tertinggi dengan 608

    Sebaran 2.098 Kasus Baru Covid-19, DKI Jakarta Tertinggi dengan 608

    Nasional
    Polri Dukung Pemberian Sanksi Sosial untuk Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19

    Polri Dukung Pemberian Sanksi Sosial untuk Pelanggar Protokol Kesehatan Covid-19

    Nasional
    Kemenlu: 718 WNI Jemaah Tabligh Masih di Luar Negeri, 701 di India

    Kemenlu: 718 WNI Jemaah Tabligh Masih di Luar Negeri, 701 di India

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X