Dada Rosada Enggan Ungkap Sumber Suap

Kompas.com - 21/05/2013, 02:20 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa Wali Kota Bandung Dada Rosada sebagai saksi kasus dugaan suap kepada Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung Setyabudi Tejocahyono terkait pengurusan perkara korupsi dana bantuan sosial, Senin (20/5). Dada diperiksa KPK selama sekitar 10 jam.

Dada menjawab singkat saat ditanya apa materi pemeriksaan KPK terhadapnya. ”Sesuai dengan surat panggilan saja,” katanya.

Saat ditanya tentang dugaan adanya patungan dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Pemerintah Kota Bandung untuk menyuap Setyabudi, Dada menjawab, ”Nanti. Belum. Tenang-tenang.” Ditanya mengapa pemeriksaannya berlangsung lama, dia mengatakan, ”Ya, kan, shalat dulu, makan dulu, segala macam.”

Dada tak meladeni lagi pertanyaan wartawan seputar sumber uang suap untuk Setyabudi dan dugaan keterlibatannya dalam kasus ini.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan, uang suap untuk Setyabudi diduga berasal dari patungan kepala dinas atau pimpinan SKPD di lingkungan Pemkot Bandung. ”Sebagian dana memang dari situ, sebagian lainnya dari yang lain,” katanya.

Sumber lain itu, lanjut Bambang, salah satunya diduga berasal dari pinjaman pihak ketiga.

Jumat lalu, KPK menggeledah rumah dinas dan pribadi Dada di Bandung. Hasil penggeledahan cukup banyak dan bisa membuat kasus ini melebar serta menyasar banyak pihak. ”Ada sejumlah dokumen yang disita dari rumah Dada Rosada. Jenisnya apa, tidak diinformasikan ke saya,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP.

Johan mengatakan, pemeriksaan Dada tidak berkaitan dengan penggeledahan rumahnya. Pemeriksaan sudah direncanakan sebelum penggeledahan.

KPK menetapkan empat tersangka dalam kasus ini, yakni Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung Setyabudi Tejocahyono; orang dekat Dada, Toto Hutagalung; Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Pemkot Bandung Hery Nurhayat; dan Asep Triatna. Nama terakhir adalah suruhan Toto yang memberikan uang suap kepada Setyabudi.

Selain mengusut otak pelaku penyuapan, KPK juga berkonsentrasi pada pihak-pihak yang diduga ikut menerima suap. KPK meyakini, bukan hanya Setyabudi hakim di Pengadilan Negeri Bandung yang menikmati suap untuk mengurus perkara korupsi dana bantuan sosial. (BIL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.