Keluarga Korban Desak Presiden Bentuk TGPF

Kompas.com - 05/04/2013, 00:55 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Puluhan orang anggota keluarga empat korban tewas di Lembaga Pemasyarakataan (Lapas), Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dinihari lalu, mendatangi taman nostalgia, gong perdamaian, Kota Baru, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (4/4/2013).

Di sana mereka membacakan pernyataan sikap yang intinya meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membentuk dan memimpin Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

Dalam pernyataan sikap yang diterima Kompas.com, keluarga korban LP Cebongan sangat kecewa dengan simpang siurnya pernyataan yang berkembang di publik.

"Kami menilai, berbagai pernyataan tersebut sangat tidak etis, tendensius dan tidak berprikemanusiaan. Kami pun menilai peristiwa penyerangan itu merupakan kejahatan kemanusiaan yang merendahkan nilai-nilai dan martabat kemanusiaan," kata Viktor Manbait, kakak kandung salah satu korban.

Menurut Viktor, sebagai warga negara, keluarga korban merasakan negara telah absen dalam peristiwa berdarah di LP Cebongan, seharusnya setiap warga negara merasakan keamanan di bawah perlindungan aparatur negara.

"Kami kecewa karena negara tidak hanya gagal melindungi namun pembiaran yang terjadi menjadi bentuk keterlibatan negara membantai warganya sendiri,"kata Viktor.

"Kami mengetahui dari pemberitaan, saat ini kepolisian menyelidiki peritiwa tersebut. Demikian pula pihak TNI telah membentuk tim investigasi. Tak ketinggalan Komnas HAM yang telah memulai penyelidikan dengan mengunjungi tempat peristiwa dan memeriksa saksi-saksi," jelasnya.

Viktor melanjutkan, keluarga empat korban penembakan menyambut baik berbagai upaya penyelidikan itu, meskipun bagi keluarga, respon yang ada lebih lambat dari apa yang menjadi harapan keluarga.

"Kami keluarga korban menuntut kebenaran atas peristiwa tersebut, bukan kesimpulan dan opini yang jauh dari fakta. Dalam suasana duka yang mendalam, atas kepergian keempat saudara dan keluarga, kami menyatakan, pentingnya Presiden SBY segera membentuk dan memimpin Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus penyerangan di LP Cebongan 23 Maret 2013," sambung Viktor.

Selain itu, Viktor menambahkan, keluarga korban menuntut pertanggungjawaban Kapolda DIY atas kebijakan dan ketidakmampuannya memberi perlindungan kepada para tahanan di LP Cebongan.

Keluarga menilai Kapolda DIY patut diperiksa TGPF yang dibentuk oleh Presiden karena indikasi pembiaran atas ancaman yang telah diketahuinya.

"Keluarga juga meminta Presiden sebagai panglima tertinggi TNI untuk memerintahkan kepada pimpinan TNI membuka diri dan bekerjasama kepada TGPF dan segera memerintahkan kepada panglima TNI untuk membubarkan tim investigasi internal TNI yang dibentuk KSAD, karena keluarga menilai tim internal TNI yang terbentuk tidak mampu memberi kebenaran atas peristiwa yang terjadi karena faktor independensi dalam penyelidikan,"jelasnya. K57-12).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X