Ritual Hamis Batar Akan Mewarnai Pekan Cinta Sejarah NTT - Kompas.com

Ritual Hamis Batar Akan Mewarnai Pekan Cinta Sejarah NTT

Kompas.com - 03/09/2012, 15:16 WIB

KUPANG, KOMPAS.com- Kegiatan Pekan Nasional Cinta Sejarah atau PNCS Nusa Tenggara Timur  akan berlangsung  di Kupang, 10 - 15 September 2012. Rangkaian kegiatannya antara lain akan ditandai ritual hamis batar, yakni ritual adat masyarakat Timor bermakna syukuran sekaligus "pendinginan" hasil panen terutama jagung, sebelum dikonsumsi.         

Hal itu disampaikan oleh Kepala UPT Museum NTT, Leonardus Nahak dan Kepala UPT Arkeologi, Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas Budaya dan Priwisata NTT, Alexander  Bell di Kupang, Senin (3/9/2012). Percakapan itu terkait rencana kegiatan PNCS tersebut, yang sedianya akan dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti.          

Jika di wilayah Kabupaten Belu dan sekitarnya, ritual itu disebut hamis batar, di kawasan Amfoang (Kabupaten Kupang) hingga Molo (Kabupaten Timor Tengah Selatan) dengan sebutan hainiki pensufa. "Di kalangan orang Timor terutama di pedesaan, ritual itu dikenal luas dan tetap dipertahankan hingga sekarang," jelas Leonardus Nahak.          

Masyarakat NTT termasuk Timor sejak lama mengandalkan jagung sebagai bahan pangan utamanya, meski belakangan gengsinya mulai tergusur oleh nasi beras. Andalan dimaksud dimungkinkan oleh topografi NTT yang kering hingga lebih potensial menjadi lahan kebun jagung.           Namun bagi sebagian besar masyarakat NTT - terutama di pedesaan - jagung tidak sekadar bahan pangan. Tanaman semusim itu- dan juga padi - diyakini sebagai tanaman pangan yang memiliki "roh" hingga budidayanya selalu disertai ritual khusus termasuk hamis batar atau hainiki pensufa tersebut.          

Di pedesaan Timor, ritual hamis batar atau hainiki pensufa ditandai arakan potongan batang jagung berbuah matang dan dinilai terbaik. Panenan itu diambil dari kebun masing masing keluarga. Setelah berkumpul di pelataran kampung, hasil panen itu selanjutnya secara bersama diarakkan menuju rumah adat dalam suasana penih kegembiraan.


EditorTjahja Gunawan Diredja

Close Ads X