Kompas.com - 12/08/2012, 06:21 WIB
|
EditorReza Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com - Jusuf Kalla, ketua Palang Merah Indonesia (PMI) dan mantan wakil presiden Republik Indonesia menyesalkan aksi anarkis yang dilakukan sebuah ormas dengan melempari vihara dan kelenteng di Makassar, Sulawesi Selatan, dan aksi lainnya yang menyerang fasilitas pemerintah Myanmar. Penyerangan ini disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Rohingya, Myanmar.

Kalla, yang meninjau langsung ke daerah konflik di Myanmar antara etnis Rohingya dan Rakhine menjelaskan bahwa konflik tersebut bukanlah karena masalah agama. "Konflik ini, bukan karena agama. Hanya konflik internal yang melibatkan Rohingya dan Rakhine. Mereka saling menyerang dan korban jatuh dari Rohingya dan Rakhine," ujar Jusuf Kalla di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (11/8/2012).

Kalla menjelaskan, konflik yang terjadi di Myanmar lebih dikarenakan etnis Rakhine sebagai penduduk asli bersinggungan dengan penduduk pendatang, etnis Rohingya. Dia menambahkan korban yang jatuh dari pihak etnis Rohingya sebesar 60 persen, sisanya adalah etnis Rakhine.

Konflik tersebut, lanjutnya, lebih diperhatikan korban yang jatuh di kalangan etnis Rohingya sementara korban Rakhine jarang diangkat ke permukaan. Kalla mengungkapkan, korban dari kedua belah pihak tersebut harus dibantu, tanpa memandang keyakinan dari korban.

"Korban banyak dari Rohingya. Namun, Rakhine juga menjadi korban dari konflik internal tersebut. Jadi OKI dan pemerintah Myanmar sepakat untuk membantu dan menfasilitasi perdamaian,"ungkapnya.

Kalla menjelaskan juga bahwa rakyat Indonesia agar tidak mudah terpancing oleh provokasi ormas beragama tertentu yang justru akan menambah keruh kehidupan beragama di Indonesia. Ormas beragama yang tidak pernah datang langsung ke lokasi konflik tersebut, lanjutnya, tidak bijak untuk memicu konflik di tanah air yang justru dipicu oleh sentimen keagamaan.

OKI dan Pemerintah Myanmar, sambungnya, telah sepakat untuk berusaha agar konflik tidak membesar. Selayaknya, masyarakat Indonesia dapat berpikir jernih untuk tidak memperkeruh karena bagaimanapun juga penyerangan atas rumah ibadah tidak dibenarkan.

Sebelumnya, aksi solidaritas muslim Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh beberapa ormas di Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Jumat (10/8/2012) berlangsung anarkis. Para pengunjuk rasa melempari kelenteng Xian Ma dengan batu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.