Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

DPR Minta Kematian TKI Jangan Dianggap Biasa dan Rutin

Kompas.com - 27/04/2012, 14:10 WIB
Suhartono

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kematian tiga Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia jangan dianggap sesuatu yang biasa dan rutin karena seringnya TKI tewas saat bekerja di luar negeri.

Kematian Herman, Abdul Kadir Jaelani dan Mad Noon, akhir Maret lalu menunjukan bukti tiadanya koordinasi yang baik antara Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan lembaga terkait seperti badan yang mengawasi tenaga kerja. Penyebab lainnya adalah indikasi kuat keteledoran perwakilan RI di Malaysia.

Hal itu diungkapkan anggota Komisi IX DPR bidang tenaga Kerja dan Kesehatan Rieke Diah Pitaloka, Jumat (27/4/2012).

Bukti tiadanya koordinasi dan keteledoran itu karena pada 3 April 2012, biro pengiriman jenazah Malaysia, Poo Funeral Services mendatangi Perwakilan RI dan meminta keterangan bahwa ketiga TKI tersebut apakah memang betul ketiga TKI yang tewas itu warga negara Indonesia.

"Sijil kematian atau sertifikat kematian hanya menyatakan meninggal karena penembakan beruntun," kata Rieke, yang menaruh perhatian dalam kasus-kasus buruh dan TKI.

Selanjutnya, kata Rieke, perwakilan RI tidak menelusuri penyebab sesungguhnya kematian ketiga TKI. "Bahkan, perwakilan RI tidak mengawal pengembalian jenazahnya. Yang menanggung biaya pemulangan ketiga TKI itu justru keluarga dan kawan-kawan korban yang ada di Malaysia. Apakah ini tidak keterlaluan?"tanya kader PDI-Perjuangan itu lagi.

Oleh sebab itu, lanjut Rieke, pihaknya mendesak pemerintah RI, tanpa perlu pennunggu hasil otopsi ulang terhadap ketiga jenasah TKI itu untuk segera meminta keterangan diplomatik kepada pemerintah Malaysia terkait kronologis kematian TKI.

"Meminta hasil visum yang dilakukan RS Port Dickson di Malaysia, mempertanyakan secara tegas penembakan yang berindikasi tidak sesuai dengan prosedural, dan jangan sampai ada skenario hasilnya sebelum dilakukan otopsi ulang," pintanya.

Pemerintah, kata Rieke, harus berani menyatakan organ tubuh ketiga TKI itu lengkap.

"Salah satu ayah korban (Herman) yang hadir saat otopsi dari awal sampai seluruh bagian badan sudah diautopsi. Bahkan, kepala korban berisi sesuatu yang dibungkus plastik. Bagian atasnya seperti kosong, bagian perut acak-acakan, dan organ-organ yang sisa tidak bisa diidentifikasi lagi," demikian Rieke mengutip cerita Herman.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
    Video rekomendasi
    Video lainnya


    Terkini Lainnya

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    komentar di artikel lainnya
    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
    Close Ads
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com