Wa Ode Janji Terbuka

Kompas.com - 27/01/2012, 01:49 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Anggota Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, Wa Ode Nurhayati, berjanji akan terbuka. Dia bertekad akan mengungkapkan peran pimpinan Badan Anggaran DPR, terkait dengan korupsi alokasi dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah tahun 2011, ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kader Partai Amanat Nasional (PAN) itu, Kamis (26/1), datang ke KPK untuk diperiksa sebagai tersangka kasus korupsi Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID) tahun 2011. ”Di hadapan penyidik, saya akan menerangkan datanya,” papar Wa Ode.

Wa Ode datang ke Gedung KPK didampingi penasihat hukumnya, Wa Ode Nur Zaenab. Dia juga menyatakan, tidak memiliki kewenangan untuk mengalokasikan anggaran di Badan Anggaran (Banggar) DPR.

Seusai diperiksa KPK, Wa Ode langsung ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta. Dia keluar sekitar pukul 21.00 dan langsung dibawa dengan mobil tahanan menuju ru- tan. ”Ia ditahan selama 20 hari ke depan,” kata Johan Budi SP, Juru Bicara KPK. Wa Ode disangka menerima pemberian hadiah terkait alokasi dana PPID itu.

Hadiah, berupa uang, diduga diberikan oleh pengusaha Fahd A Rafiq. Akan tetapi, Wa Ode mengaku tidak tahu saat ditanya penyidik, apakah benar diberi uang oleh Fahd A Rafiq. ”Saya tidak tahu. Tanyakan ke penyidik saja,” ujar Wa Ode lagi.

Namun, Wa Ode tidak membantah kalau dirinya mengenal Fahd A Rafiq. ”Kami kebetulan sama-sama pengurus di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Saya hanya mengenal beliau sebatas itu. Tidak lebih,” ujarnya.

Sehari sebelumnya, KPK menetapkan Fahd A Rafiq sebagai tersangka baru dalam kasus suap PPID tahun 2011 di DPR. ”Dalam pengembangan penyidikan, KPK menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi dana PPID, yakni F dari swasta sebagai tersangka,” kata Johan Budi di Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

F disebut-sebut adalah Fahd A Rafiq, pengusaha yang juga Ketua Umum Generasi Muda (Gema) Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR).

Penetapan tersangka Fahd dilakukan setelah KPK menemukan dua alat bukti. Fahd diduga sebagai pihak yang memberikan hadiah kepada Wa Ode. ”Kami menduga ia memberikan hadiah pada penyelenggara negara yang juga sudah ditetapkan jadi tersangka,” jelas Johan.

Namun, tak disebutkan berapa jumlah uang atau hadiah yang diberikan kepada Wa Ode. Pemberian itu diduga terkait bantuan pengalokasian dana bidang infrastruktur jalan pada PPID untuk Kabupaten Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Bener Meriah di Provinsi Aceh. (ray)



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.