Menkes : Cegah Infeksi E.coli dengan PHBS

Kompas.com - 07/06/2011, 08:49 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Wabah bakteri E.coli yang saat ini menimpa Eropa khususnya Jerman tidak dapat dianggap sebagai masalah yang sepele. Walaupun sampai saat ini kasusnya belum ditemukan di tanah air, namun upaya pencegahan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) diharapkan bisa mengurangi dampak risiko seseorang dari penyakit tersebut.

"Masyarakat harus tetap waspada. Waspada dalam artian, menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih sehat). "Artinya apa? cuci tangan sebelum makan, kemudian setelah dari wc (buang air besar) cuci tangan pakai sabun," kata Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, di Gedung Kementrian Kesehatan, Senin, (6/6/2011) kemarin.

Menurut Endang, wabah E.coli yang saat ini sedang terjadi di Eropa kemungkinan besar disebabkan karena kebiasaan mengonsumsi sayuran mentah yang tidak dicuci. "Kita menganjurkan, kalau bisa dimasak matang. Kalau tidak mau, paling tidak di cuci dulu," imbuhnya.

Menkes mengatakan, sejauh ini sayur-sayuran di Indonesia masih aman untuk di konsumsi. Meskipun dirinya tidak mengetahui betul apakah Indonesia termasuk salah satu negara yang mengimpor sayuran dari Eropa. "Itu harus ditanyakan ke Kementerian Pertanian," terangnya.

Menkes menambahkan, bahwa pada dasarnya infeksi yang disebabkan setiap jenis E.coli memiliki kesamaan sehingga masyarakat tidak perlu panik.

"Wabah E.coli yang sedang heboh di Eropa karena strainnya baru. Strain tersebut, tahan atau resisten terhadap antibiotik," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengatakan, sebagai langkah antisipasi dan pencegahan, pihaknya telah membuat edaran di tempat-tempat tertentu seperti misalnya bandara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bandara itu hanya anjuran bahwa untuk mereka yang datang dari Jerman terutama sakit perut di bandara apalagi ada diare dan berdarah, maka orangnya harus diamati. Bentuk edarannya adalah seperti itu," cetusnya.

Sebagaimana telah diwartakan sebelumnya, Tjandra mengungkapkan, masa inkubasi penyakit bisa berkisar antara tiga sampai delapan hari, rata-rata empat hari di mana sebagian besar pasien dapat sembuh dalam 10 hari. Tetapi pada keadaan khusus yang kini juga terjadi pada sebagian kasus di Eropa, penyakit dapat berlanjut menjadi gawat dan berat, yang disebut dengan haemolytic uraemic syndrome (HUS). HUS ditandai dengan kegalalan ginjal akut, anemia dan kekurangan trombosit dan juga gangguan neurologis sampai stroke dan koma.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.