Wilmar Pindahkan Pabrik ke Indonesia

Kompas.com - 08/02/2011, 11:31 WIB
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com — Produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia, Wilmar International Ltd., kian serius melebarkan sayap usahanya di Indonesia. Perusahaan yang bermarkas di Singapura ini berniat memindahkan enam pabriknya dari Malaysia dan China ke Indonesia. Nilai pabrik pengolahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tersebut mencapai 900 juta dollar AS.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, Wilmar akan melakukan relokasi pabriknya secara bertahap dalam waktu dua tahun. "Terhitung mulai tahun ini," ujar Hidayat, Senin (7/2/2011).

Menurut Hidayat, awalnya Wilmar ingin merelokasi pabriknya ke Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dipilih karena fasilitas infrastrukturnya memadai sehingga relokasi bisa segera dilakukan. Namun, pemerintah meminta Wilmar agar juga mengembangkan industri hilir di luar Jawa, yaitu Riau yang menjadi salah satu sentra perkebunan sawit.

Wilmar sudah menyanggupi permintaan tersebut. Namun syaratnya, pemerintah harus membantu mengembangkan infrastruktur, terutama akses jalan menuju pelabuhan.

Selebihnya, Wilmar menyanggupi membangun sendiri beberapa fasilitas, seperti pembangkit listrik, pelabuhan, dan pipanisasi gas. “Dia keberatan kalau langsung di Riau karena infrastrukturnya mesti dilengkapi. Tapi, saya menganjurkan dilakukan bersamaan, baik di Gresik maupun di Riau,” kata Hidayat.

Merespons permintaan Wilmar, pemerintah berjanji tidak hanya memperbaiki jalan, tetapi juga kondisi pelabuhan di Riau, bahkan juga Pelabuhan Kuala Tanjung di Sei Mangke, Sumatera Utara. Ini adalah salah satu kluster industri hilir kelapa sawit di wilayah Sumatera Utara.

Selain infrastruktur, Wilmar juga meminta ada insentif yang menguntungkan bagi investor yang masuk industri hilir CPO. Secara prinsip, menurut Hidayat, Presiden setuju untuk memberikan fasilitas fiskal dan nonfiskal bagi program hilirisasi industri CPO. Insentif itu bisa berupa insentif ataupun disinsentif.

Selama ini, Wilmar Indonesia sudah bergerak di perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 350.000 hektar. Di industri hilir CPO, Wilmar antara lain memproduksi minyak goreng dan biodiesel. Minyak gorengnya dipasarkan dengan merek Sania dan Fortune.

Max Ramajaya, Manajer Pengembangan Bisnis Wilmar menolak berkomentar mengenai rencananya tersebut. "Persoalan ini sudah kami serahkan kepada Kementerian Perindustrian, biarkan mereka yang memberikan informasi," ujar Max. (Herlina KD, Yudo Widiyanto, Petrus Dabu, Noverius Laol/Kontan)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.