Mubarak Kian Terpojok, Massa Tak Surut

Kompas.com - 01/02/2011, 09:34 WIB
EditorEgidius Patnistik

KAIRO, KOMPAS.com — Para pemrotes antipemerintah Mesir berencana mengadakan pawai besar, Selasa (1/2/2011) ini, dalam kampanye mereka untuk menggulingkan Presiden Hosni Mubarak. Di sisi lain, tentara menjamin rencana unjuk rasa besar itu tidak akan dihalangi dengan mengatakan, tuntutan rakyat Mesir sah dan tentara tidak akan menembak mereka.

Meski Mubarak telah mengumumkan kabinet baru, yang tidak menyertakan lagi menteri dalam negeri yang selama ini ditakuri secara luas, dan wakil presiden yang baru diangkat telah menawarkan pembicaraan dengan oposisi, para pengunjuk rasa terus maju dengan tujuan tunggal mereka, yaitu Mubarak harus turun dari jabatannya. Para pemrotes juga telah mengumumkan pemogokan umum tanpa batas waktu dan menyerukan "pawai satu juta orang" di Kairo pada hari Selasa ini, yang merupakan hari kedelapan aksi protes yang telah merenggut setidaknya 125 nyawa dalam bentrokan antara demonstran dengan polisi. Pawai sejuta orang juga akan digelar di kota pelabuhan Mediterania, Alexandria. Layanan kereta api nasional dibatalkan dalam sebuah upaya jelas untuk menghalangi protes.

Rencana demonstrasi-demonstrasi itu akan terjadi saat pasukan polisi telah kembali ke jalan-jalan kota Kairo setelah dua hari absen secara misterius. Absennya polisi itu, menurut para pengunjuk rasa, merupakan cara untuk menabur rasa tidak aman. Polisi telah diperintahkan untuk kembali ke jalan-jalan pada hari Senin setelah absen dua hari. Ketidakhadiran mereka tetap tidak terjelaskan secara resmi, tetapi itu menyebabkan kota itu menjadi surga bagi para penjarah dan napi yang kabur, dan warga membentuk kelompok pertahanan diri untuk melindungi lingkungan mereka.

Namun, tetap tidak diketahui, apa yang akan dilakukan polisi dalam menghadapi pemogokan dan pawai. Sementara para tentara telah menyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak akan menghadapi para demonstran. "Untuk bangsa besar Mesir, angkatan bersenjata Anda, mengakui hak-hak sah rakyat, mereka (tentara) tidak menggunakan dan tidak akan menggunakan kekuatan terhadap orang-orang Mesir," kata militer dalam sebuah pernyataan.

Puluhan ribu demonstran telah memadati Alun-alun Pembebasan Tahrir  (Tahrir Liberation Square) di Kairo, yang menjadi episentrum tuntutan untuk mengakhiri korupsi dan penindasan polisi yang tak akan terlupakan selama 30 tahun pemerintahan Mubarak. "Kami akan tinggal di alun-alun sampai pengecut itu turun," teriak kerumunan orang itu.

Eid Mohammed, seorang penyelenggara protes, kepada AFP mengatakan, "Telah diputuskan semalam, akan ada pawai satu juta orang pada Selasa. Kami juga memutuskan untuk memulai pemogokan umum tanpa batas waktu."

Dalam menghadapi protes terbesar selama masa jabatannya itu, Mubarak yang semakin terpojok telah menunjuk wakil presiden untuk pertama kalinya dan perdana menteri baru dalam sebuah upaya putus asa untuk tetap berkuasa. Sebuah kabinet baru yang diumumkan Senin tidak mampu menenangkan para pengunjuk rasa. Namun, pencopotan Menteri Dalam Negeri Habib al-Adly, yang pasukan keamanannya terkenal karena secara sistematis melanggar hak asasi manusia, disambut baik warga Mesir.

"Kami tidak akan mendapat perubahan kecuali Mubarak turun," kata salah seorang pengunjuk rasa yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. Seorang pengunjuk rasa lain, Rifat Ressat, mengatakan, "Kami ingin perubahan pemerintah yang lengkap dengan otoritas sipil."

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X