Tan Malaka, Model Tokoh Politik Ideal

Kompas.com - 04/11/2010, 14:45 WIB
Editor

Bandung,Kompas - Tan Malaka adalah model ideal bagi tokoh politik dan kaum muda Indonesia. Ia berjuang tanpa pamrih demi kemerdekaan Indonesia. "Ia dibuang dan dipenjara pemerintah kolonial Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia. Namun, ia tidak menyerah dan terus mewujudkan cita-citanya melihat Indonesia merdeka 100 persen," ujar Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) Harry Poeze dalam diskusi dan peluncuran buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Rabu (3/11).

Tan Malaka adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia kelahiran Sumatera Barat pada 19 Febuari 1896 dan diperkirakan meninggal pada 16 April 1949 di Kediri. Ia adalah tokoh politik yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda dan RI era Soekarno. Pendiri Partai Murba ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia pada 1963.

Poeze mengatakan sikap politik yang diambil Tan Malaka sangat berbeda dengan mayoritas politikus Indonesia saat ini. Perjuangan yang dilakukan Tan Malaka dilakukan dengan kesungguhan hati dan rasa cinta kepada Indonesia. Meskipun harus meringkuk di penjara dan hidup di pembuangan, ia terus mendorong para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia untuk meraih kemerdekaan sepenuhnya. Poeze berharap, kiprah sosok yang telah dilupakan hampir 30 tahun ini bisa menjadi cermin semangat masyarakat Indonesia.

"Meskipun riwayat kematiannya belum terungkap jelas, saya yakin semangat Tan Malaka relevan dengan permasalahan Indonesia saat ini, khususnya rasa cinta dan berjuang demi Tanah Air," ujar Poeze.

Gagasan fantastis

Pembicara lainnya, Guru Besar Filsafat Unpar Bambang Sugiharto mengatakan, kiprah Tan Malaka memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda Indonesia. Bambang menyebutkan, Tan Malaka muda penuh dengan gagasan intelektual dan filosofis yang fantastis. Dengan segala keterbatasannya, ia konsisten memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat banyak gagasan dan idenya.

"Hal ini berbeda dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Wawasan lokal dan global yang dimiliki generasi muda sangat sempit. Penyebabnya, bisa berbagai hal, seperti malas membuka diri dan belajar atau terlalu puas dengan keadaannya saat ini," kata Bambang. (CHE)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.