Jangan Lupa Tes Kesehatan Sebelum Menikah

Kompas.com - 30/01/2010, 17:19 WIB
Editordin

KOMPAS.com - Hari pernikahan sudah di depan mata. Undangan sudah disebar, gedung sudah di-booking, Anda pun telah menyusun tema pernikahan yang romantis di pinggir pantai. Tetapi, apakah Anda melewatkan sesuatu? Ah ya, ternyata cek kesehatan untuk Anda dan pasangan, atau pre-marital check up.

Pre-marital check up adalah yang paling sering dilupakan oleh pasangan yang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Padahal, tes kesehatan untuk pria maupun wanita ini tergolong penting.

''Pada dasarnya check up ini dilakukan untuk mencari tahu apakah ada penyakit keturunan ataukah sifat-sifat hormonal dari kedua pasangan,'' tutur dr Frizar SpOG, dari Klinik Prodia, saat talkshow Pre-Marital Check Up di Wedding Expo 2010, Jakarta Convention Center, Jumat (29/1/2010).

Ada tujuh jenis paket pemeriksaan yang dilakukan saat pre-marital check up, dengan memeriksa darah hingga air seni. Ada sejumlah manfaat yang bisa diperoleh dari pemeriksaan kesehatan ini, antara lain:

1. Mencari tahu apakah mungkin salah satu pasangan memiliki penyakit keturunan seperti diabetes, jantung, asma, dan lain-lain.

2. Mengetahui apakah ada penyakit yang mungkin diturunkan kepada anak, misalnya thalasemia (penyakit kerusakan darah yang mengharuskan transfusi darah seumur hidup). Pasangan yang memiliki penyakit seperti ini dianjurkan untuk tidak memiliki anak. Selain itu juga untuk melihat apakah ada penyakit lain seperti tumor, penyakit menular seksual, atau potensi anak mengalami down syndrome.

3. Penyakit menahun yang diderita, seperti lever. Sebelum menikah penyakit ini harus disembuhkan dulu.

4. Mencari tahu kecocokan rhesus pasangan. Bagaimana kalau salah satu rhesus pasangan berbeda dengan pasangan lainnya? Kemungkinan besar mereka tidak bisa memiliki anak.

5. Penyakit-penyakit yang mempengaruhi kelainan-kelainan bayi nantinya, seperti apakah perempuan mengidap toksoplasma.

6. Penyakit-penyakit yang menyebabkan kemandulan, atau bagaimana kondisi kesuburan salah satu dari pasangan.

7. Mencari tahu apakah pasangan Anda benar-benar laki-laki atau perempuan. ''Sebab ada salah satu sindrom yang bernama feminisasi penis. Secara fisik ia perempuan dan punya suara perempuan, mungkin dia tidak punya penis, tapi ia tidak bisa dibuahi karena hormon-hormonnya tidak bekerja. Ia juga tidak memiliki rahim untuk mengandung,'' jelas Frizar.

Nah, untuk itulah Frizar menyarankan agar pasangan yang hendak melanjutkan ke jenjang pernikahan untuk melakukan tes kesehatan bersama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.