Mengenal Perbankan Masa Lalu

Kompas.com - 16/01/2010, 16:10 WIB
Editoraegi

KOMPAS.com — Beberapa nama bank dari masa Batavia boleh jadi sudah sering disebut-sebut. Nama-nama bank seperti De Javasche Bank (kini Museum Bank Indonesia); Nederlandsche Handles Maatschappij-NHM (kini Museum Bank Mandiri); Chartered Bank of  India, Australia, and China (eks Bank Bumi Daya);  Hongkong & Shanghai Banking Corporation - Kantor Pajak Tambora; dan Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij – eks Bank Dagang Negara. Lantas bagaimana dengan De Post Paar Bank, De Algemene Volkscrediet Bank, atau Nationale Handle Bank?

De Post Paar Bank menjadi Bank Tabungan Pos tahun 1950 kemudian menjadi Bank Negara Indonesia (BNI) Unit V dan terakhir menjadi Bank Tabungan Negara (BTN) pada 1968. De Algemene Volkscrediet Bank tak lain adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Ekspor Impor (Bank Eksim) kemudian menjadi BNI Unit II untuk kemudian pada 1968 berdiri sendiri sendiri menjadi dua bank, BRI dan Bank Eksim. Nationale Handle Bank semula bernama Nederlandsche Indische Handels Bank (NIHB) kemudian menjadi BNI Unit IV dan pada 1968 menjadi Bank Bumi Daya (BBD) bersama dengan Chartered Bank of  India, Australia, dan China.

Dilihat dari sejarah perbankan di atas, lembaga perbankan yang kita kenal saat ini merupakan warisan sistem perbankan masa kolonial. Meski kini beberapa bank menjadi satu menggunakan nama yang lain, warisan itu tetap saja melekat.

Pada awalnya perbankan hanya berfungsi sebagai lembaga yang membantu pemerintah dalam penyaluran keuangan, terutama dalam sektor perdagangan. Selain mempunyai sistem kerja yang rapi, bangunan sebuah bank juga menentukan nasabah yang akan menitipkan uang dan atau barang berharga yang disimpan.

Bank tak hanya mempunyai gedung yang megah dan arsitektur yang indah, tetapi juga mempunyai sebuah ruang kluis (safe deposit) dengan dinding yang tebal, pintu berukuran sangat besar, kuat, dan kokoh dengan sistem kunci kombinasi. Bahkan, ruangan ini bersifat sangat rahasia sehingga tidak dicantumkan dalam denah bangunan. Jauh sebelum ada kluis, kasir bank merantai kotak uang pada kakinya pada saat tidur agar uang tak dicuri.

“Kalau ada pencuri masuk bank, sulit keluar karena bangunan bank masa lalu penuh ruang dan lorong. Bisa tersesat, apalagi orang yang baru pertama kali masuk. Jadi memang, Belanda sudah memerhatikan keamanan dan kenyamanan bangunan bank, itu semua supaya nasabah merasa aman,” tutur Kartum Setiawan, Ketua Komunitas Jelajah Budaya, dalam perbincangan di kawasan Kota Tua Jakarta beberapa waktu lalu.

Kini sisa bangunan perbankan masih bisa dilihat di kawasan bersejarah Kota Tua, baik yang masih aktif digunakan untuk kantor bank hasil nasionalisasi, maupun digunakan sebagai museum yang memamerkan rangkaian sejarah bank-bank pendahulunya.

Sekadar gambaran, gedung eks De Escompto Bank berarsitektur Indische terletak di pojok pertemuan Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Bank. Menempati lahan seluas 3.010 meter persegi, aset ini mlik Bank Mandiri. Bangunan cagar budaya ini awal mulanya merupakan Kantor Pusat De Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij di Batavia, yang dibeli tahun 1902.

Gedung kantor bank memiliki luas lantai seluruhnya 6.729 meter persegi. Gedung ini  menghadap ke Jalan Pintu Besar Utara terdiri atas dua lantai dibangun tahun 1904 dan mulai digunakan tahun 1905. Di dinding atas gedung ini terdapat ornamen lambang-lambang kota Hindia Belanda, seperti Surabaya, Batavia, dan Semarang, juga terdapat lambang kerajaan Belanda dan kota Amsterdam. Konstruksi utama bangunan ini beton bertulang dan menggunakan atap genteng tanah liat produksi Tan Liok Tiauw, Batavia dan Tijanting Plered SS Wall.

Sementara itu, di sudut Jalan Kalibesar Barat tak jauh dari De Javasche Bank (Museum Bank Indonesia), berdiri gagah gedung berkubah dari tahun 1920-an. Ini adalah gedung Chartered Bank, kini aset Bank Mandiri. Di bagian dalam gedung yang di zaman Belanda merupakan bank terkemuka ini terdapat lukisan patri menggambarkan orang sedang bekerja. Sebut saja orang menumbuk padi, pergi ke pasar, dan membawa getah karet. Kaca patri ini dibuat oleh J Sabel’s en Co yang pusatnya di Haarlem, Belanda. Di sini, kita juga bisa jumpai prasasti peletakan batu pertama yang di situ tertulis 27 Pebruari 1921.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cegah Intoleransi, Mendikbud Akan Keluarkan SE dan Buka 'Hotline' Pengaduan

Cegah Intoleransi, Mendikbud Akan Keluarkan SE dan Buka "Hotline" Pengaduan

Nasional
Kemenhan Buka Pendaftaran Komponen Cadangan setelah Terbit Peraturan Menteri

Kemenhan Buka Pendaftaran Komponen Cadangan setelah Terbit Peraturan Menteri

Nasional
Kemenkes Berharap WNI di Luar Negeri Mendapat Vaksin Covid-19 dari Pemerintah Setempat

Kemenkes Berharap WNI di Luar Negeri Mendapat Vaksin Covid-19 dari Pemerintah Setempat

Nasional
Pemerintah Akan Tindak Tegas Praktik Intoleransi di Sekolah

Pemerintah Akan Tindak Tegas Praktik Intoleransi di Sekolah

Nasional
Jumlah Vaksin Terbatas, Pemerintah Tak Prioritaskan Penyintas Covid-19 dalam Vaksinasi

Jumlah Vaksin Terbatas, Pemerintah Tak Prioritaskan Penyintas Covid-19 dalam Vaksinasi

Nasional
Nadiem: Sekolah Tak Boleh Wajibkan Siswa Berseragam Model Pakaian Agama Tertentu

Nadiem: Sekolah Tak Boleh Wajibkan Siswa Berseragam Model Pakaian Agama Tertentu

Nasional
Rizieq Shihab Dilaporkan soal Lahan Pesantren di Megamendung, FPI: Kami Punya Bukti

Rizieq Shihab Dilaporkan soal Lahan Pesantren di Megamendung, FPI: Kami Punya Bukti

Nasional
UPDATE: Sebaran 11.788 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.512 Kasus

UPDATE: Sebaran 11.788 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.512 Kasus

Nasional
UPDATE 24 Januari: Ada 80.114 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

UPDATE 24 Januari: Ada 80.114 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 24 Januari: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Mencapai 162.617

UPDATE 24 Januari: Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia Mencapai 162.617

Nasional
UPDATE: Bertambah 48.002, Total 8.754.507 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

UPDATE: Bertambah 48.002, Total 8.754.507 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 24 Januari: Bertambah 171, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Kini 27.835

UPDATE 24 Januari: Bertambah 171, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Kini 27.835

Nasional
UPDATE 24 Januari: Bertambah 7.751, Pasien Sembuh dari Covid-19 Kini 798.810

UPDATE 24 Januari: Bertambah 7.751, Pasien Sembuh dari Covid-19 Kini 798.810

Nasional
UPDATE: Bertambah 11.788, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 989.262

UPDATE: Bertambah 11.788, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 989.262

Nasional
Kematian Anggota FPI Dilaporkan ke Komite Antipenyiksaan Internasional

Kematian Anggota FPI Dilaporkan ke Komite Antipenyiksaan Internasional

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X