Kutil, Kardinah, Dan Bu Sardjoe

Kompas.com - 17/11/2009, 15:19 WIB
Editor

Oleh Yono Daryono

Di Tegal, perjuangan membentuk kekuasaan dan kepemimpinan baru setelah Proklamasi Kemerdekaan RI memiliki dinamikanya sendiri yang kompleks. Lebih kurang dua bulan setelah proklamasi, dan disusul hilangnya pemerintahan Jepang, muncul petualang-petualang politik. Awal November 1945, bergejolak suatu gerakan rakyat yang dikenal dengan "Peristiwa Tiga Daerah", suatu peristiwa dalam sejarah revolusi Indonesia yang terjadi di Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Karesidenan Pekalongan, Jawa Tengah.

Saat itu, semua elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana, dan camat), dan sebagian besar kepala desa "didaulat" dan diganti aparat pemerintahan baru, yang terdiri atas aliran-aliran Islam, Sosialis, dan Komunis. Sebagai pemimpin atau menurut istilah Achmad sebagai algojo adalah Sakyani alias Kutil (Tegal Berjuang, Achmad, 1986: 13). Mereka dengan sengaja melempar isu-isu yang isinya menghasut rakyat yang berdampak rakyat menaruh dendam terhadap para pejabat pamong praja dan Kepolisian Negara bekas peninggalan pemerintahan Jepang.

Pamong praja dan kepolisian bekas pemerintahan Jepang bertugas mendampingi Komite Nasional Indonesia (KNI) menjalankan pemerintahan di daerah. KNI Tegal, oleh para petualang politik, dianggap belum cukup dan tidak mampu, maka muncullah hasutan dan suara-suara "minir" menghendaki digantinya para pejabat pemerintah daerah yang semasa pemerintahan Jepang memegang puncuk pimpinan.

Rakyat Tegal protes dan menghujat serta melakukan aksi kekerasan terhadap Residen Pekalongan Mr Besar, Wali Kota Tegal R Soengeb Reksoatmodjo, Bupati Brebes Sarimin Reksodihardjo, Bupati Tegal RS Soenaryo, Bupati Pemalang R Rahardjo. Mereka dianggap sebagai antek-antek NICA (Netherlands Indies Civil Administration)-Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang dipersiapkan untuk memerintah kembali setelah Jepang kalah.

Bupati Tegal Soenaryo, anak angkat Kardinah, menjadi salah satu target gerakan Kutil. Akan tetapi, sebelum aksi Kutil untuk menculik dan membunuh Bupati Tegal tercapai, Soenaryo diselamatkan oleh Mansyur dari Pemuda API (Angkatan Pemuda Indonesia). Penyelamatan Soenaryo berdampak pada Kardinah yang saat itu ada di lingkungan kabupaten Tegal. Kardinah menjadi sasaran kemarahan rakyat, didombreng dipermalukan di depan umum lalu diarak keliling kota dengan pakaian goni dan diancam untuk dibunuh. Ini menjadi peristiwa gelap bagi Kardinah. Sejak peristiwa itu, orang Tegal tidak tahu di mana Kardinah berada. Salah satu tokoh emansipasi wanita dari "Tiga Serangkai", pejuang kemanusiaan, adik RA Kartini ini "hilang".

Sebagai istri Bupati Tegal Reksonegoro X yang menjabat pada 1908-1930, Kardinah telah mewujudkan cita-cita Kartini. Di Tegal, Kardinah bukan saja membangun rumah sakit, melainkan juga sekolah kepandaian putri untuk gadis pribumi, membuat buku-buku pelajaran tentang membatik dan memasak serta membangun rumah jompo. Mengingat besarnya jasa-jasa Kardinah bagi masyarakat Tegal khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya menjadikan warga Tegal merasakan kehilangan tokoh panutan yang telah menyumbangkan karya nyata dan bermanfaat bagi masyakarat luas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bu Sardjoe (Sumiati Sardjoe), istri Wali Kota Tegal Sardjoe yang menjabat pada 1967-1979, seorang ibu yang tiada henti-hentinya mencari tahu keberadaan Kardinah, orang yang pada 1927 mendirikan rumah sakit di Tegal dan cukup dikenal di Karsidenan Pekalongan. Pertanyan itu muncul karena sejak Pertistiwa Tiga Daerah, Kardinah tidak diketahui di mana rimbanya.

Jejak Kardinah semenjak peristiwa itu seperti tenggelam ditelan bumi. Orang Tegal tidak ada yang tahu keberadaan Kardinah. Kardinah cuma tinggal cerita dari mulut ke mulut. Dari sini kemudian Sumiati Sardjoe sebagai wanita yang paling bertanggung jawab terhadap perkumpulan wanita Tegal (GOW= Gabungan Organisasi Wanita) mencari keberadaan Kardinah. Pada 1970, ketika acara pertemuan GOW di Semarang, secara tidak sengaja Sumiati Sardjoe duduk bersebelahan dengan Soemiani Sosrohadikoesoemo. Sumiati Sardjoe mengeluhkan tentang upayanya mencari jejak Kardinah. Mendengar keluhan itu, Soemiani merasa iba, lalu mengatakan dirinya adalah keponakan Kardinah, putri RA Soematri, adik Kardinah. Kardinah ada di Salatiga, rumahnya berhadapan dengan rumahnya. Saat itu pula Sumiati Sardjoe ingin dipertemukan dengan Kardinah, tetapi Soemiani melarangnya karena Kardinah setiap kali mendengar kata Tegal trauma, ingat saat Kutil menganiayanya.

Masih curiga

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X