Inilah Lompat Batu Nias!

Kompas.com - 17/08/2009, 18:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Orang bijak mengingatkan agar kita hendaknya tidak melupakan adat dan kebudayaan, seperti yang diungkapkan dalam pepatah "jangan seperti kacang yang lupa pada kulitnya".

Filosofi inilah yang mendasari Idealisman Dachi, seorang pengusaha SPBU di Jalan Pegangsaan, Semper, Jakarta Utara, ketika mengadakan perlombaan "Lompat Batu Nias", atau yang lebih populer dengan nama Hombo Batu, Senin (17/8), guna memeriahkan HUT ke-64 Kemerdekaan RI. Dua belas orang rantau asal Nias berpartisipasi dalam cabang lomba tersebut.

"Dengan lomba ini, saya berharap mereka tidak akan lupa dengan tradisi nenek moyang mereka," ujar Idealisman, yang juga anggota DPR RI, kepada Kompas.com, Senin (17/8) di SPBU 34, Semper, Jakarta Utara.

Menurut Idealisman, dan juga Every Darling Martho Dachi (21), salah satu peserta, tradisi hombo batu ini membutuhkan konsentrasi tinggi dan kekuatan fisik. "Kuncinya adalah atur langkah kaki. Ketika menginjak batu ancang-ancang, kaki harus mampu menolak sehingga bisa menghasilkan lompatan yang tinggi. Selain itu, ketika bertolak, pandangan harus ke depan, jangan ke bawah," ujar Every.

Bagi peserta yang mampu meloncat tiga kali berturut-turut tanpa menyentuh batu, yang tingginya mencapai dua meter, Idealisman memberikan hadiah uang tunai Rp 100.000. Namun, bagi para peserta, bukan materi yang mereka incar. "Ini nostalgia saja. Sudah tiga tahun saya tidak hombo batu," ujar Every, yang juga karyawan sebuah bank swasta di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat itu.

Every mengatakan, sebelum merantau ke Jakarta, hombo batu merupakan kegiatan rutin yang kerap dilakukannya. Tiga tahun tidak bersentuhan dengan hombo batu, Every mengaku sempat grogi. "Saya sempat deg-degan juga," ujarnya.

Idealisman yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat itu mengatakan, lompat batu Nias ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini memasuki tahun ketiga. Walaupun terkesan kolot, cabang lomba ini selalu mendapat tempat di hati para pemuda Nias.

"Setiap tahun, selalu ada belasan orang yang ikut," tambahnya. Ebenezer, salah satu peserta, mengatakan, setiap tahun dirinya tidak pernah absen mengikuti lomba ini. "Ini mengingatkan masa-masa remaja saya dan teman-teman di Nias," akunya.

Apa yang dilakukan Idealisman ini patut diacungi jempol. Di tengah semarak HUT RI, yang dipenuhi dengan cabang-cabang lomba rutin, seperti makan kerupuk dan balap karung, ternyata masih ada cabang lomba yang tidak hanya mendidik, tapi juga melestarikan budaya nenek moyang.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Editor
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X