Perburuan Burung Belibis Ancam Ekosistem Mahakam

Kompas.com - 18/01/2009, 04:44 WIB
Editor

SAMARINDA, MINGGU - Perburuan dan perdagangan besar-besaran  burung Belibis Kembang (Dendrocygna arcuata) di pedalaman Mahakam (Kaltim) masih terjadi. Meskipun burung Belibis bukan jenis satwa langka, namun penurunan populasinya diduga bisa menimbulkan gangguan keseimbangan ekosistem di kawasan itu.
     
Sejumlah warga dari kawasan pedalaman Mahakam di Samarinda, Sabtu mengaku bahwa perburuan dan perdagangan Belibis Kembang masih terjadi. Belibis Kembang menjadikan kawasan pedalaman Mahakam, khususnya Danau Malintang (11.000 Ha), Danau Jempang (15.000 Ha) dan Danau Semayang (13.000 Ha) serta danau-danau kecil di daerah itu sebagai habitatnya.
      
"Pedagang umumnya berasal dari Banjarmasin, warga lokal kurang menyukai daging Belibis Kembang," kata Samedi, warga pedalaman Mahakam. Ia menuturkan perburuan burung langka itu terus terjadi karena permintaan dagingnya dari sejumlah pedagang juga tinggi. Daging burung ini bisa dikonsumsi seperti daging unggas peliharaan yang lain, seperti ayam, bebek dan itik.
      
Pedagang daging Belibis Kembang menjualnya lagi ke warung-warung yang menjual menu daging satwa dilindungi itu. Rasa daging Belibis Kembang seperti rasa daging bebek sehingga ada yang menggemarinya, namun sebagian lagi tidak suka dengan alasan  bau daging kurang sedap.
      
Cara pemburu liar menangkap Belibis Kembang dengan cara menjaring atau menggunakan belibis pemikat (belibis yang sudah jinak). "Ketika ke kawasan pedalaman belum lama ini, memang satwa ini masih diburu karena tingginya permintaan dari pedagang daging Belibis Kembang," kata Hardy Purnama, salah seorang petugas  BKSDA (Balai Konservasi Sumber Sumber  Daya Alam) Kaltim ketika dikonfirmasikan.     
      
Ia menjelaskan bahwa apabila tingkat penangkapan melebihi ambang batas berkelanjutan, maka jenis ini diduga akan menjadi punah, sehingga  secara ekologis dalam beberapa waktu akan datang dampaknya akan dirasakan langsung oleh puluhan ribu nelayan di kawasan perairan darat dan danau itu.
      
Dampak dari terancamnya kelestarian Belibis Kembang akan dirasakan langsung nelayan, mengingat satwa ini berfungsi sebagai motor produktifitas danau Mahakam dengan menyebarkan biji-biji rumput serta berkontribusi memberikan nutrisi (kotoran) terhadap ikan.
       
Ia menilai memang perlu aturan mengenai kuota tentang populasi Belibis Kembang yang bisa diburu agar  tidak menganggu keseimbangan ekosistem.
        
Peneliti dari Universitas Amsterdam pada 2004, yakni  Gabriella Fredriksson bersama teman-temannya  sudah menemukan bukti bahwa  ada kegiatan penangkapan dan perdagangan burung Belibis Kembang dalam jumlah yang sangat besar di tiga danau besar di pedalaman Mahakam.
       
Populasinya saat itu, diperkirakan banyak, yakni mencapai puluhan hingga ratusan ribu ekor, hal ini dilihat dari jumlah hasil tangkapan dari para penangkap Belibis Kembang.
       
Data BKSDA menyebutkan bahwa pada 2004, tercatat  tiga pedagang belibis yang mempekerjakan lebih dari 50 penangkap secara permanen yang berasal dari Banjarmasin dengan jumlah tangkapan mencapai antara 120.000 sampai 165.000 ekor per tahun.
      
Sedangkan jumlah Belibis Kembang yang ditangkap dan diperdagangkan selama 17 bulan pada  2005-2006 berkisar 27.379 ekor. Pada musim kemarau (Juni-Oktober) antara tahun 2005 dan 2006 terjadi penurunan hasil tangkapan, hanya 42,16 persen atau sebesar 6.018 ekor.
       
Distribusi perdagangan belibis yang dilakukan empat kelompok penangkap/pedagang meliputi Samarinda, Bontang, Sangata, dan Loa Kulu (Kalimantan Timur), sedangkan distribusi ke Kalimantan Selatan adalah ke daerah Banjarmasin yang merupakan daerah penerima terbesar mencapai 95 persen.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Densus 88 Tangkap 12 Terduga Teroris di Jawa Timur

Densus 88 Tangkap 12 Terduga Teroris di Jawa Timur

Nasional
Bupati Terpilih Orient Kore Disebut WN AS, Hasil Pilkada Sabu Raijua Digugat ke MK

Bupati Terpilih Orient Kore Disebut WN AS, Hasil Pilkada Sabu Raijua Digugat ke MK

Nasional
KPK Minta Kepala Daerah yang Baru Dilantik Pegang Teguh Integritas

KPK Minta Kepala Daerah yang Baru Dilantik Pegang Teguh Integritas

Nasional
Elektabilitas Demokrat Diprediksi Meningkat jika Mampu Atasi Isu Kudeta

Elektabilitas Demokrat Diprediksi Meningkat jika Mampu Atasi Isu Kudeta

Nasional
Pimpinan Komisi IX Minta Pendataan Vaksinasi Gotong Royong Dibuat Detail

Pimpinan Komisi IX Minta Pendataan Vaksinasi Gotong Royong Dibuat Detail

Nasional
Keluarga Anggota DPR Divaksinasi Covid-19, Pemerintah Diminta Fokus pada Kelompok Prioritas

Keluarga Anggota DPR Divaksinasi Covid-19, Pemerintah Diminta Fokus pada Kelompok Prioritas

Nasional
Sekjen DPR: Semua Pegawai di Lingkungan DPR Divaksinasi Covid-19

Sekjen DPR: Semua Pegawai di Lingkungan DPR Divaksinasi Covid-19

Nasional
Langgar Etika, Marzuki Alie Dipecat Tidak Hormat dari Demokrat

Langgar Etika, Marzuki Alie Dipecat Tidak Hormat dari Demokrat

Nasional
Kemenkes: Peserta Vaksinasi Gotong Royong Dapat Kartu dan Sertifikat Elektronik

Kemenkes: Peserta Vaksinasi Gotong Royong Dapat Kartu dan Sertifikat Elektronik

Nasional
Isu Kudeta, Demokrat Pecat Marzuki Alie hingga Jhoni Allen dengan Tidak Hormat

Isu Kudeta, Demokrat Pecat Marzuki Alie hingga Jhoni Allen dengan Tidak Hormat

Nasional
Bio Farma Ditunjuk Jadi Importir dan Distributor Vaksinasi Gotong Royong

Bio Farma Ditunjuk Jadi Importir dan Distributor Vaksinasi Gotong Royong

Nasional
Soal Vaksinasi Gotong Royong, Anggota DPR: Jangan Sampai Muncul Kebocoran

Soal Vaksinasi Gotong Royong, Anggota DPR: Jangan Sampai Muncul Kebocoran

Nasional
KSPI Tolak jika Buruh Dibebankan Biaya Vaksinasi Covid-19

KSPI Tolak jika Buruh Dibebankan Biaya Vaksinasi Covid-19

Nasional
Kunjungi Banten, Gus AMI Singgung Masalah Pendidikan di Ponpes

Kunjungi Banten, Gus AMI Singgung Masalah Pendidikan di Ponpes

Nasional
Peserta Vaksinasi Covid-19 di DPR Mencapai 12.000 Orang

Peserta Vaksinasi Covid-19 di DPR Mencapai 12.000 Orang

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X