Gelung Gunung Disuguhkan Dalam SIEM

Kompas.com - 29/10/2008, 01:27 WIB
Editor

MAGELANG, SELASA--Salah satu bagian dari Komunitas Lima Gunung Magelang, menyuguhkan "Konser Gelung Gunung" (KGG) dalam  Festival Solo Internasional Etnik musik (SIEM) 2008 mulai 28 Oktober hingga 1 November 2008 di Keraton Mangkunegara, Solo, Jawa  Tengah.

"KGG menampilkan sajian musik etnik dengan warna lain, akan dikemas dengan memasukkan unsur-unsur seni pertunjukan tarian rakyat," kata pengarah KGG, Rakhmad Murti Waskito, di Magelang, Selasa.

KGG ditampilkan pada hari kedua SIEM , Rabu (29/10), antara pukul 19.00 hingga 22.00 WIB bersama lima grup dari daerah lainnya yang mengikuti even tersebut.

Ia mengatakan, sekitar 40 seniman yang umumnya para petani terutama dari Desa Petung, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, di kawasan lereng Gunung Merbabu yang tergabung dalam Grup Lumaras Budaya menyajikan KGG dengan durasi sekitar 30 menit.

Persiapan pentas KGG untuk SIEM, kataya, telah dimulai sejak bulan Agustus 2008 lalu. Seniman petani itu akan berkolaborasi dengan belasan perempuan anggota Sanggar Fatma Erobik dari kawasan Gunung Tidar, Kota Magelang, dalam menyuguhkan KGG.

Setiap penari yang sekaligus pemusik, kata Waskito yang berasal dari komunitas Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, di lereng Gunung Merapi Kabupaten Magelang itu, menata rambutnya dengan berbagai ragam gelung.

"Makanya namanya KGG, ada banyak bentuk gelung rambut yang ternyata indah, punya makna sendiri-sendiri, yang selalu kita jumpai setiap hari," katanya di sela perbincangan dengan sejumlah tokoh Komunitas Lima Gunung Magelang lainnya.

Berbagai alat musik tradisional yang mengiring KGG antara lain "truntung", kelinting, bende, kentongan bambu sepanjang sekitar tiga meter, dan genta, Iringan musik itu ditata oleh pemusik, Suwandi.

Seniman tari dari Merapi, Wenti "Ledhek" Nuryanti, dan pesinden, Mbok Ribut, akan memerkuat suguhan KGG. KGG, berupa pentas massal dengan memadukan seni pertunjukkan dan seni musik.

Kemasan tarian tradisional gunung yang menjadi bagian kental dari KGG antara lain tari topeng ireng, grasak, tarian musik truntung, performance, dan tembang Jawa.

KGG, kata Waskito yang juga pengajar Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya itu, berbicara tentang lingkaran relasi kehidupan baik secara kelompok maupun individu dengan media seni dan memertemukan berbagai perbedaan kehidupan sosial menjadi suatu harmoni.

Ia mengatakan, seni pertunjukkan tidak bisa tampil secara terpisah dengan bentuk seni lainnya karena hakikatnya menjadi bagian dari pertunjukkan tentang persoalan hidup manusia setiap hari.

Ia menjelaskan, KGG bukan semata-mata sajian seni tetapi simbol kekuatan sosial budaya dan sosial kesenian petani pedesaan di kawasan lima gunung di Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh).

"Bukan persoalan ’art-nya’ yang utama, tetapi dibalik pentas itu ada nilai sosial budaya, sosial kesenian, ada pertemanan antarmanusia yang erat, yang berrelasi dengan alam gunung, kalau bicara kesenian terus mungkin akan habis, tetapi bicara persoalan hidup dan kesenian selalu hidup di masyarakat dan menjadi suatu karya seni yang unik," katanya.

Tokoh utama Komunitas Lima Gunung Magelang, Sutanto Mendut, mengatakan, seni yang etnik dipastikan karya manusia berotak cerdas sedangkan sebutan untuk suatu karya sebagai etnik dilakukan oleh manusia pada masa mendatang.

"Yang etnik pasti karya otak brilian, bukan sekadar yang kasat mata, karya etnik sekarang hasil kerja otak cerdas manusia masa lalu, Borobudur contohnya, pasti karya nenek moyang bangsa yang cerdas, karya cerdas zaman sekarang akan dikatakan etnik oleh generasi masa mendatang," katanya.

Suatu karya seni yang etnik, katanya, pasti memiliki ketebalan dan kedalaman nilai, yang mampu menginspirasi penciptanya pada masa lalu.

Misalnya, katanya, keterampilan menabuh musik gamelan akan menunjukkan kaki dan tangan penabuhnya yang etnik, kostum tarian tradisional topeng ireng, grasak, dan warok menunjukkan nilai etnik dari pakaian itu.

Sutanto yang akan menjadi salah satu panelis dalam forum SIEM itu menyatakan khawatir bahwa pemahaman suatu karya yang etnik sebatas segala hal yang kasat mata.

"Tentu karya etnik dihasilkan dari suatu perenungan yang terus menerus, karya etnik bisa dihasilkan siapa saja yang cerdas, bisa seorang guru, rakyat, petani, seniman, dan juga para nabi, mereka yang selalu berpikir, mengajak berpikir, dan bukan mengajak menghafal, mereka yang melahirkan berbagai ilham," katanya.

Institusi pendidikan seperti sekolah memiliki tugas mentransformasikan karya etnis supaya kandungan nilainya bisa dipahami dan dikembangkan oleh setiap generasi, kata Sutanto Mendut.(ANT)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X