Pendapatan Trans-Jogja Masih Jauh dari Target

Kompas.com - 19/06/2008, 20:54 WIB
Editor

YOGYAKARTA, KAMIS - Pendapatan bus Trans-Jogja sejak diluncurkan Februari lalu masih jauh dari target pendapatan tahun 2008 sebesar Rp 15 miliar ini. Sejak peluncuran hingga bulan Mei, target pendapatan baru tercapai 18,7 persen.

Hal itu terungkap dalam Rapat Kerja Komisi B DPRD DIY dengan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DIY, Kamis (19/6) di DPRD DIY. Berdasarkan data BPKD DIY, pendapatan bus Trans-Jogja bulan Februari-saat masa uji coba-sebesar Rp 240 juta, bulan Maret Rp 868,196 juta, bulan April Rp 788,6 juta, dan bulan Mei 908,1 juta. Jumlah pendapatan yang diperoleh itu sama dengan 18,7 persen dari target pendapatan 2008.

Anggota Komisi B Roesdiharjo mengungkapkan, jika pendapatan bulan Februari tidak dimasukkan dalam perhitungan target pendapatan, karena masih dalam masa uji coba, seharusnya pendapatan dalam tiga bulan berikutnya yaitu Maret-Mei mencapai 24 persen dari taget.

"Tetapi sekarang baru 18 ,7 persen. Berarti perlu dilakukan evaluasi terhadap jalur dan faktor-faktor lainnya, " ungkapnya.


Meski demikian, pihaknya bisa memahami jika pendapatan Trans-Jogja di bawah target pendapatan yang ditetapkan karena relatif masih baru sehingga load factor belum optimal. Namun, peningkatan pendapatan perlu segera diupayakan agar beban subsidi dari APBD untuk menutup biaya operasional kendaraan (BOK) bisa dikurangi.

Namun, menurut Bambang Wisnu Handoyo, Kepala BPKD DIY, target utama diluncurkannya bus patas Trans-Jogja bukan pada perolehan pendapatan, namun untuk perbaikan sistem transportasi angkutan umum perkotaan di DIY.  

Untuk Trans-Jogja memang target utama pemerintah provinsi bukan pada besarnya pendapatan. "Tetapi, bus Trans-Jogja targetnya merubah transportasi di DIY dalam rangka perbaikan sistem transportasi bus umum kita," katanya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DIY Sigit Haryanto mengungkapkan, agar mencapai titik impas antara BOK dengan pendapatan yang diperoleh maka tingkat load factor atau keterisian penumpang harus mencapai 54 persen. Sedangkan saat ini, load factor Trans-Jogja baru mencapai 30 persen pada hari-hari biasa, dan 35 persen pada hari libur.

Adapun untuk meningkatkan jumlah penumpang, strategi yang dilakukan adalah tidak menaikkan tarif penumpang meskipun harga BBM naik. Menurut Direktur PT Jogja Tugu Trans, operator Trans-Jogja, Poerwanto Johan Riyadi, BOK Trans-Jogja per bulan rata-rata mencapai Rp 2,2 miliar.

 

 



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X