Membuat Rumah Bernuansa Pabrik

Kompas.com - 05/05/2008, 11:46 WIB

Dinding semen bak benteng, dipadu plat besi berlubang-lubang kecil yang sudah berkarat dan seperti tersayat di beberapa bagian, adalah tampilan fasad rumah ini. Kesan yang muncul adalah “keras”. Satu-satunya “kelembutan” yang ada di sana hanyalah sebuah kaktus ukuran XL.

Ternyata dua hal yang dominan di bagian luar—yaitu dinding semen dan besi berkarat tadi—juga dominan di bagian dalam. Semua dinding dan lantai dibiarkan telanjang dalam warna abu-abu semen. Sementara besi—lengkap dengan karatnya—tersebar hampir di semua bagian rumah. Tapi herannya, dua hal tersebut tidak mengurangi kesan modern yang ada di rumah pasangan Irwan Edianto (34)—Melanie (34) ini.

Tertarik Pada Pabrik
Ide awalnya, menurut Melanie, ia dan suami ingin rumah yang nyaman untuk tempat anak bermain, jadi tidak boleh ada banyak “perhiasan”. Keinginan ini kemudian digabungkan dengan kesukaan Melani yang sedikit nyeleneh, yaitu menyukai bangunan yang menyerupai pabrik atau gudang. Selain itu ia juga menyukai barang-barang bekas dan tidak menyukai barang yang terlihat bagus atau mewah. Apakah mungkin ini karena ayah Melanie memiliki pabrik (percetakan)? “Ya, barangkali, juga, hahaha…,” canda Melanie.

Untuk menyampaikan gagasannya, Melanie memberikan satu contoh desain dari kumpulan referensi desain rumah yang rajin dikumpulkannya, kepada Andra Matin Architect. Aang—panggilan akrab Andra Matin selaku Principal di kantor konsultan ini, dibantu Sigit Kusumawijaya sebagai Project Architect menerjemahkan keinginan kliennya dengan menggunakan material dan finishing yang tampak kasar seperti besi berkarat, lantai semen, atau plafon rangka baja ekspos. Ruang-ruangnya pun dibuat blong dan tidak rumit—seperti pabrik—sehingga anak bisa bermain dengan leluasa.

Besi Karat
Rumah ini banyak menggunakan bahan besi. Selain ornamen pada fasad, anak tangga, kusen pintu, dan bahkan beberapa daun pintu, juga menggunakan besi. Yang menarik, besi ini sengaja dibuat berkarat sampai taraf tertentu, lalu diberi pelapis untuk menghentikan karatnya. Warna yang keluar adalah warna asli besi dengan noda-noda karat sebagai penghiasnya.

Warna Abu-abu
Untuk lantai dan dinding, pemilik rumah memilih untuk tidak melapisinya dengan keramik, marmer, atau bahan-bahan lain yang umum digunakan sebagai pelapis lantai. Pemilik rumah cenderung menampilkan acian untuk dinding dan semen yang diberi floor hardener untuk lantai. Meja breakfast yang ada di dekat dapur juga diperlakukan sama, yaitu tampil dalam warna abu-abu semen. Belang-belang yang muncul justru memberi kesan alami dan artistik.

Menurut Melanie, ia sangat senang bermain dengan warna, tapi ia juga mudah bosan. Bila warna ia mainkan pada dinding, ia akan sulit mengubahnya ketika bosan pada satu warna tertentu. Karena itu ia memilih untuk menggunakan warna dinding yang netral—abu-abu—dan memainkan warna pada perabot dan pernak-pernik lainnya. “Kalau bosan, saya bisa ubah kapan saja,” jelasnya.

Rangka Baja Ekspos
Masih dalam rangka menciptakan kesan pabrik, atap rumah ini menggunakan metal deck (berupa lembaran) yang memang sering digunakan di pabrik-pabrik dan struktur atapnya menggunakan baja. Untuk mengurangi panas, di bawah metal deck diberi lapisan glass wool. Kemudian untuk menahan glass wool ini, di bawahnya diberi lembaran aluminium foil yang juga mampu mereduksi panas. Di bawah aluminium foil, baru diletakkan rangka-rangka baja penahannya, persis seperti di pabrik-pabrik.

Kaca di Mana-mana
Untuk dinding yang berbatasan dengan area luar, lebih banyak digunakan bahan bening ini. Untuk jendela mati digunakan kaca setebal 8 mm, sedangkan untuk jendela dan pintu yang bisa dibuka digunakan kaca setebal 10 mm.

Dinding kamar tidur utama di lantai 2 juga menggunakan kaca. Agar tidak tembus pandang, kaca ini dilapis sandblast. Sedangkan antara kamar mandi dengan kamar tidur utama, kaca dibiarkan bening sehingga tembus pandang.

Selain membuat cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa, kaca menghadirkan kesan modern pada rumah ini. Kaca juga membuat bangunan ini menjadi “rumah bergaya pabrik”, tapi tidak seperti pabrik sungguhan.

(dek)
LOKASI: KEDIAMAN IRWAN EDIANTO—MELANIE, JAKARTA TIMUR


Editor

Close Ads X