Main Angklung di Saung Mang Udjo

Kompas.com - 09/04/2008, 11:55 WIB
Editor

Mau coba main angklung? Tak perlu canggung bila sebelumnya Anda tidak pernah kenal musik. Dengan panduan seniman-seniman di Saung Mang Udjo, dalam seketika kita akan sanggup membawakan lagu I Have a Dream dalam suatu konser.

Itulah daya tarik utama Saung Angklung Mang Udjo. Pengunjung rumah seni yang terletak di kawasan Padasuka, Bandung, itu tidak dibiarkan hanya duduk diam menunggu suguhan. Dipandu oleh MC yang komunikatif dan seniman-seniman berusia 4-16 tahun yang atraktif, suasana ruang pertunjukan tak berdinding yang mampu menampung 500 orang itu menjadi hangat dan meriah.

Saung Angklung Mang Udjo adalah semacam rumah, sanggar, atau padepokan seni yang terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung Timur. Meski berada di pinggir jalan, letak padepokan seluas sekitar dua hektar itu seperti tersembunyi di antara pemukiman penduduk yang padat.

Bedanya dengan rumah penduduk, kawasan padepokan dinaungi oleh rimbunnya pohon bambu wulung dan kelapa. Jadi begitu masuk, suasana sesak padatnya perkampungan segera tergantikan oleh sejuknya belaian daun bambu.

Bengkel Alat Musik

Saung Mang Udjo didirikan pada tahun 1967 oleh seniman angklung terkemuka, (alm) Udjo Ngalagena (1927-2001). Salah satu misi rumah seni ini adalah untuk melestarikan dan mengembangkan musik bambu.

Selain pepohonan bambu, di kompleks rumah seni itu terdapat bengkel pembuatan serta tempat-tempat penyimpanan angklung yang siap diekspor ke Korea, Jepang, Belanda, Jerman, Perancis, dan Amerika. Jadi selain menikmati atraksi permainan musik, pengunjung juga bisa menyaksikan para pekerja membuat angklung.

Di tempat itu pula setiap hari seusai jam sekolah puluhan anak dari kampung sekitar diajari menyanyi, menari, dan memainkan angklung. Kemudian pada sore harinya, yaitu setiap pukul 15.30 hingga 17.30, semuanya diikutsertakan dalam pentas untuk menghibur pengunjung.

"Mereka yang terlibat dalam pertunjukan ini berusia antara tiga hingga 16 tahun," tutur Ika dan Mayang, mantan pemain angklung yang kini lebih sering berperan sebagai MC.

Tak hanya kesenian yang diajarkan kepada mereka. Di usia yang masih sangat muda, bocah-bocah itu juga dilatih berbahasa Inggris. Jangan heran kalau di tengah pertunjukan, seorang bocah yang baru saja menyuguhkan atraksi berani bicara di tengah panggung, "My name is Rian. I am six years old..." dan seterusnya.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X