Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Investigasi Kasus Penembakan Empat WNI di Malaysia

Kompas.com - 17/10/2013, 19:36 WIB
Sandro Gatra

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan, pemerintah tengah mencari tahu bagaimana kronologis penembakan terhadap empat warga negara Indonesia oleh kepolisian Malaysia.

Muhaimin menjelaskan, awalnya pihaknya ingin mendapat kepastian apakah memang mereka bekerja sebagai TKI atau hanya melakukan kunjungan untuk urusan tertentu. Hanya, mereka tidak tercatat sebagai TKI resmi.

"Ini yang kita telusuri. Belum ada titik terang. Investigasinya oleh KBRI dan KJRI supaya tahu kebenarannya mereka ke situ dalam rangka apa. Kalau dia tidak salah, ditembak, ya kita protes," kata Muhaimin di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis ( 17/10/2013 ).

Tidak ingin campuri

Di tempat yang sama, Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin mengaku tidak ingin mencampuri kedulatan hukum di Malaysia. Aparat Kepolisian Malaysia, kata Amir, tentu mempunyai cara sendiri untuk menegakkan hukum di negaranya.

"Kita tentunya mengharapkan hukum ditegakkan dan keadilan diberikan kepada korban," kata Amir.

Seperti diberitakan, keempat WNI yang ditembak mati semuanya berasal dari Nusa Tenggara Barat. Mereka, yakni Hafat bin Angang, Iknoriansyah, Hery Setiawan, dan Wahyudi. Laporan yang diterima pemerintah Indonesia, Kepolisian Malaysia menyebut keempat WNI itu diduga melakukan perampokan rumah.

Jenazah keempatnya sudah tiba di NTB pada Rabu ( 16/10/2013 ) malam, diantar oleh perwakilan Kedubes RI di Malaysia, Kementerian Luar Negeri, dan beberapa anggota keluarga. Keluarga meyakini mereka bukan perampok.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

 PAN Nilai 'Presidential Club' Sulit Dihadiri Semua Mantan Presiden: Perlu Usaha

PAN Nilai "Presidential Club" Sulit Dihadiri Semua Mantan Presiden: Perlu Usaha

Nasional
Gibran Ingin Konsultasi ke Megawati untuk Susun Kabinet, Politikus PDI-P: Itu Hak Prerogatif Pak Prabowo

Gibran Ingin Konsultasi ke Megawati untuk Susun Kabinet, Politikus PDI-P: Itu Hak Prerogatif Pak Prabowo

Nasional
LPAI Harap Pemerintah Langsung Blokir 'Game Online' Bermuatan Kekerasan

LPAI Harap Pemerintah Langsung Blokir "Game Online" Bermuatan Kekerasan

Nasional
MBKM Bantu Satuan Pendidikan Kementerian KP Hasilkan Teknologi Terapan Perikanan

MBKM Bantu Satuan Pendidikan Kementerian KP Hasilkan Teknologi Terapan Perikanan

Nasional
PAN Siapkan Eko Patrio Jadi Menteri di Kabinet Prabowo-Gibran

PAN Siapkan Eko Patrio Jadi Menteri di Kabinet Prabowo-Gibran

Nasional
Usai Dihujat Karena Foto Starbucks, Zita Anjani Kampanye Dukung Palestina di CFD

Usai Dihujat Karena Foto Starbucks, Zita Anjani Kampanye Dukung Palestina di CFD

Nasional
Kemenag: Jangan Tertipu Tawaran Berangkat dengan Visa Non Haji

Kemenag: Jangan Tertipu Tawaran Berangkat dengan Visa Non Haji

Nasional
'Presidential Club' Dinilai Bakal Tumpang Tindih dengan Wantimpres dan KSP

"Presidential Club" Dinilai Bakal Tumpang Tindih dengan Wantimpres dan KSP

Nasional
Soal Presidential Club, Pengamat: Jokowi Masuk Daftar Tokoh yang Mungkin Tidak Akan Disapa Megawati

Soal Presidential Club, Pengamat: Jokowi Masuk Daftar Tokoh yang Mungkin Tidak Akan Disapa Megawati

Nasional
Gaya Politik Baru: 'Presidential Club'

Gaya Politik Baru: "Presidential Club"

Nasional
Kemenag Rilis Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji, 22 Kloter Terbang 12 Mei 2024

Kemenag Rilis Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji, 22 Kloter Terbang 12 Mei 2024

Nasional
Luhut Minta Orang 'Toxic' Tak Masuk Pemerintahan, Zulhas: Prabowo Infonya Lengkap

Luhut Minta Orang "Toxic" Tak Masuk Pemerintahan, Zulhas: Prabowo Infonya Lengkap

Nasional
PDI-P Yakin Komunikasi Prabowo dan Mega Lancar Tanpa Lewat 'Presidential Club'

PDI-P Yakin Komunikasi Prabowo dan Mega Lancar Tanpa Lewat "Presidential Club"

Nasional
Zulhas: Semua Mantan Presiden Harus Bersatu, Apalah Artinya Sakit Hati?

Zulhas: Semua Mantan Presiden Harus Bersatu, Apalah Artinya Sakit Hati?

Nasional
Soal 'Presidential Club', Yusril: Yang Tidak Mau Datang, Enggak Apa-apa

Soal "Presidential Club", Yusril: Yang Tidak Mau Datang, Enggak Apa-apa

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com