Keluarga Ahmad Fathanah Nyatakan Tidak Terlibat - Kompas.com

Keluarga Ahmad Fathanah Nyatakan Tidak Terlibat

Kompas.com - 02/02/2013, 06:20 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com - Keluarga Ahmad Fathanah di Makassar menolak dikait-kaitkan dengan kasus yang dialami oleh orang dekat tersangka kasus suap impor daging sapi Lutfi Hasan Ishaq, yang kini menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Saya selaku kakak tertua sekaligus mewakili keluarga dari Ahmad Fathanah menolak untuk dikait-kaitkan dengan kasus yang membelit adik kedelapan itu karena kami semua sudah punya kehidupan sendiri-sendiri," ujar Zulkifli, di Makassar, Jumat (1/2/2013).

Ia mengatakan, kasus yang membelit saudaranya itu sempat membuat keluarga besarnya terpukul. Zulkifli mengatakan, adiknya itu meninggalkan Sulawesi Selatan sejak 15 tahun lalu.

"Adik saya itu sudah tinggalkan Makassar sudah 15 tahun dan saya tidak tahu apa bisnisnya di Jakarta dan apa saja yang dilakukannya karena dia itu sudah punya kehidupan sendiri, begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain," katanya.

Saat ditanya soal kedekatan Ahmad Fathanah dengan seorang gadis bernama Maharani Suciyono, Zulkifli mengaku tidak mengenal perempuan tersebut. Dia enggan berkomentar banyak soal pribadi Ahmad Fathanah.

Menurut Zulkifli, masalah yang menimpa Ahmad Fathanah adalah musibah bagi keluarganya dan tentunya musibah ini juga menimpa keluarga besarnya secara keseluruhan, maka dari itu dirinya merasa sangat prihatin.

"Meskipun demikian, kami juga menyadari bahwa segala sesuatu yang menyangkut sikap dan perbuatan serta pekerjaan yang dilakukan oleh adik kami sebagai orang yang telah dewasa adalah urusan pribadi," ucapnya.

Oleh karena itu, dalam menjalani hidup masing-masing usaha dan pekerjaan serta segala risikonya tidak terkait dengan masalah keluarga. Dirinya bersama keluarga besarnya berharap masalah ini segera selesai dan berdoa yang terbaik Ahmad Fathanah.

Diberitakan sebelumnya, KPK menetapkan empat tersangka dalam kasus dugaan penerimaan suap kebijakan impor daging sapi yaitu Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfhi Hasan Ishaaq dan orang dekatnya, Ahmad Fathanah, serta dua direktur PT Indoguna, yakni Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi.

Luthfi dan Fathanah diduga menerima suap terkait kebijakan impor sapi dari dua direktur PT Indoguna tersebut. Penetapan Luthfi sebagai tersangka ini berawal dari operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK, Selasa (29/1/2013) malam. Dari situ, KPK mengamankan empat orang, yakni Ahmad Fathanah, Arya Abdi Effendi, Juard Effendi, dan seorang wanita bernama Maharani.

Bersamaan dengan penangkapan tersebut, KPK menyita uang Rp 1 miliar yang disimpan dalam kantong plastik dan koper. Keempatnya lalu diperiksa seharian di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta. Melalui proses gelar perkara, KPK menyimpulkan ada dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan Luthfi sebagai tersangka.

Informasi dari KPK menyebutkan, uang yang dijanjikan PT Indoguna terkait kebijakan impor daging sapi ini mencapai Rp 40 miliar. Adapun uang Rp 1 miliar yang ditemukan saat penggeledahan tersebut diduga hanya uang muka. KPK juga telah menggeledah sejumlah tempat.

Atas kasus tersebut, Luthfi kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden PKS. Setelah menjalani pemeriksaan, ia pun langsung ditahan di Rutan Guntur.


EditorKistyarini
Komentar

Terkini Lainnya

Curi Motor Temannya Sendiri, Pelajar Pelaku Curanmor Ditangkap Polisi

Curi Motor Temannya Sendiri, Pelajar Pelaku Curanmor Ditangkap Polisi

Regional
Elektabilitas Jokowi Turun, PDI-P Akui Sektor Ekonomi Belum Optimal

Elektabilitas Jokowi Turun, PDI-P Akui Sektor Ekonomi Belum Optimal

Nasional
Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

Regional
Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

Internasional
Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

Megapolitan
Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

Nasional
Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

Regional
Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

Regional
Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

Regional
Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

Nasional
Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

Megapolitan
Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

Internasional
'Underpass' Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

"Underpass" Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

Megapolitan
Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

Internasional
Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

Regional

Close Ads X