Minggu, 20 April 2014

News / Megapolitan

Sosiolog: SARA Jangan Dibahas di Ruang Publik

Minggu, 12 Agustus 2012 | 07:39 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com - Sosiolog Nuril Huda menyarankan agar setiap pihak mulai menekan isu terkait SARA sebisa mungkin di ruang publik. Pasalnya, berkaca dari histori yang dimiliki Indonesia, isu SARA bisa menimbulkan konflik horizontal yang hebat.

"SARA ini sangat berbahaya. Tidak boleh disinggung atau tidak boleh dibicarakan secara terbuka. Biarkan persoalan SARA, penilaian kita ini menjadi rahasia masing-masing, harus kita sembunyikan," ungkap Nuril, Minggu (11/8/2012), dalam dialog di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat.

Nuril ketika itu memberikan pandangan terkait kompetisi Pilkada DKI Jakarta 2012 yang diwarnai isu SARA. Menurutnya, dalam konteks sejarah, Indonesia yang disebut beragam juga masih menjadikan isu SARA sebagai momok.

Ada banyak contoh yang menggambarkan betapa isu SARA begitu berbahaya memicu potensi konflik horizontal. Misalnya konflik Ambon, kerusuhan Mei 1998, dan konflik Sampit.

"Ini semua justru menimbulkan kebencian antar etnis, ras, agama, golongan. Jangan sampai SARA dijadikan komoditas," kata Nuril. Nuril mengungkapkan isu SARA sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda melalui politik devide et impera (pecah belah) yang diterapkan Belanda ketika itu.

"Sebenarnya, isu SARA ini dikeluarkan awal mulanya untuk memecah suatu kelompok tanpa perlu mengeluarkan energi besar," kata Nuril.

Dengan catatan sejarah ini, Nuril menilai masyarakat Indonesia kelas tradisional masih sangat terpengaruh akan isu SARA. Namun, untuk masyarakat kelas menengah ke atas, isu SARA tidak akan efektif.

"Bagi yang dipojokkan dengan isu SARA, maupun yang memojokkan sebenarnya tidak ada yang untung dari wacana ini," pungkas Nuril.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Reza Wahyudi