Rabu, 23 April 2014

News /

Anggota ASEAN Gagal Sepakat

Sabtu, 14 Juli 2012 | 02:25 WIB

Baca juga

PHNOM PENH, JUMAT - Seperti dikhawatirkan sebelumnya, pertemuan ke-45 antarmenteri luar negeri negara anggota ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, akhirnya gagal menghasilkan dokumen komunike bersama, terutama tentang kode tata berperilaku di Laut China Selatan.

Kegagalan, yang menurut banyak kalangan baru pertama kali terjadi dalam sejarah ASEAN, itu terutama dipicu perpecahan tajam antarnegara anggota ASEAN sendiri, yakni Filipina dan tuan rumah Kamboja.

Mereka berbeda pandangan soal formulasi isi komunike bersama, terutama soal perlu tidaknya memasukkan insiden sengketa wilayah di perairan sekitar Beting Scarborough di Laut China Selatan.

Sekitar sebulan lalu, Filipina dan China sempat beradu tegang di perairan sekitar beting itu. Keduanya sama-sama mengirim kapal demi menunjukkan klaim masing-masing di sana.

”Saya telah meminta komunike bersama tak perlu menyebut sengketa di situ. Namun, ada negara anggota (ASEAN) yang berulang kali ngotot memasukkannya,” ujar Menlu Kamboja Hor Namhong, Jumat (13/7).

Ia menambahkan, dirinya juga telah menegaskan kalau pertemuan antarmenlu ASEAN bukanlah sebuah mekanisme persidangan tempat vonis atas sebuah sengketa diputuskan.

Selama ini China diketahui menentang upaya-upaya ”internasionalisasi” isu sengketa Laut China Selatan.

Dalam banyak kesempatan, China menegaskan, mereka hanya mau isu sengketa diselesaikan secara bilateral antarnegara pengklaim.

China sejak awal mengklaim seluruh wilayah Laut China Selatan dan bersengketa dengan empat anggota ASEAN, yakni Malaysia, Brunei, Filipina, dan Vietnam.

Sikap tuan rumah Kamboja dikecam keras Filipina dan Vietnam. Filipina bahkan secara terang-terangan menuduh sikap Kamboja itu dipengaruhi China.

Menlu Filipina Albert del Rosario menuduh Kamboja membela China dengan ”secara konsisten” menentang usulannya untuk memasukkan isu Beting Scarborough dalam komunike bersama.

Filipina juga mengecam China, yang menggunakan kekuatannya untuk menekan Kamboja dan juga menunjukkan sikap bermuka dua dalam persoalan itu.

Kecewa tetapi yakin

Saat dihubungi melalui telepon, Menlu RI Marty Natalegawa mengakui, ASEAN memang gagal mencapai konsensus dalam bentuk komunike bersama.

Akan tetapi, lanjut Marty, hal itu sama sekali tak berpengaruh pada masa depan proses pembahasan kode tata berperilaku (COC) Laut China Selatan, antarnegara anggota ASEAN dan China.

Menurut Marty, komunike bersama hanyalah persoalan prosedural. Proses pembahasan COC ASEAN-China masih berjalan di jalur yang benar.

”Kejadian ini saya yakin tak akan berpengaruh di masa depan. Memang sangat mengecewakan, tetapi jangan sampai itu mengurangi momentum pencapaian COC. Apalagi, ketika Indonesia memimpin ada banyak yang telah dicapai,” ujar Marty.

Dalam pernyataan Kamis malam, Menlu China Yang Jiechi kembali menegaskan sikap negaranya yang menganggap ”tak ada sengketa” di wilayah perairan sekitar Beting Scarborough atau yang mereka sebut Huayang.

”Kami berharap pihak Filipina bisa menghadapi kenyataan itu dan berhenti membuat masalah,” ujar Yang.

Sementara itu, walau mengaku bersikap netral, Amerika Serikat menunjukkan ketertarikan untuk terlibat dalam persoalan Laut China Selatan. Salah satunya dengan menyampaikan komitmen memperkuat kemampuan militer Filipina dan Vietnam.

Pihak AS berdalih, mereka punya kepentingan besar menjaga kebebasan navigasi di perairan itu. (AP/AFP/REUTERS/DWA)


Editor :