Jumat, 19 Desember 2014

News / Megapolitan

Keluarga Tetap Tegar

Selasa, 22 Mei 2012 | 16:04 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Cuaca cerah mengiringi proses persemayaman korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (22/5/2012). Dengan berselimut duka, keluarga korban datang secara beriringan sejak pukul 07.30 pagi tadi. 

Para keluarga korban duduk di bawah tenda-tenda yang disediakan. Jarak mereka hanya sekitar 30 meter dari jasad para korban di dalam peti jenazah. Hari ini merupakan kesempatan terakhir mereka melihat 45 jenazah korban kecelakaan Pesawat Sukhoi Superjet-100 yang jatuh di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/5/2012) lalu.

"Saya siap melihat kondisi jasad anak saya, bagaimanapun keadaannya," ujar Terry Rompas, ayah dari Suzana Famela Rompas, salah seorang pramugari Sky Aviation yang turut dalam joy flight naas tersebut.

"Tidak ada rasa takut sama sekali. Karena bagaimanapun, dia anak saya," lanjut Terry, mengungkapkan ketegarannya.

Sebelum diperkenankan melihat anggota keluarganya dalam peti, sebanyak tiga orang perwakilan keluarga mendaftarkan diri terlebih dahulu ke posko ante mortem untuk dilakukan interview dengan psikolog untuk melihat kesiapan mental mereka. Selanjutnya, petugas memanggil satu persatu perwakilan keluarga untuk melihat langsung jasad anggota keluarga di dalam peti jenazah, termasuk keluarga Terry yang datang bersama satu keluarga besarnya dari Bunta, Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.

"Apa yang Tuhan sudah buat, kerja keras pemerintah, kami puas," ujarnya, usai melihat jenazah anak keempat dari empat bersaudara tersebut.

Berharap transparansi penyelidikan

Tak ada lagi yang bisa mengembalikan 45 korban meninggal itu. Kini, tinggal manusialah yang harus mengambil hikmah atas pelajaran hidup yang berharga ini agar tidak lagi terulang di waktu yang akan datang.

"Memang, kalau bisa secara terbuka proses penyelidikannya itu, supaya kita keluarga korban mengetahui apa yang terjadi dalam musibah itu," lanjut Terry.

Namun, Terry mengakui, dirinya tak berharap banyak terhadap kebijakan pemerintah sekarang untuk merealisasikan apa yang menjadi harapannya itu.

"Kalau boleh, bisa transparan percakapan pilot itu, supaya bisa lihat masalahnya apa. Tapi, ya, kalau boleh," ujarnya.

Sebagai keluarga yang dirugikan atas musibah tersebut, ia juga mendesak pemerintah agar menanggapi serius seringkali terjadinya kecelakaan di Gunung Salak.

"Sudah berapa kali ada pesawat jatuh, pemerintah memberikan laranganlah, jangan ada pesawat lewat jalur itu," lanjutnya. 


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Latief