Kamis, 24 April 2014

News / Travel

Seniman Salvador Dali, Gila atau Jenius?

Senin, 30 Januari 2012 | 20:16 WIB

Baca juga

KOMPAS.com - Nama Salvador Dali sudah saya kenal sejak kecil. Kumis aneh dan uniknya, hasil karyanya yang selalu membuat jidat berkerut, mulut antara terbuka dan berdecak, membuat saya pengagum berat seniman asal Spanyol ini. Ide yang disalurkan menjadi olahan seni melalui tangannya yang mencengangkan kerap membikin orang menganggapnya setengah gila.

Benarkah dirinya gila seperti yang digosipkan banyak kalangan? Bagi saya, seorang seniman memang seringnya nyerempet ke arah nyentrik. Dari mulai pakaiannya, gaya hidupnya sampai cara bicaranya pun kadang unik. Mungkin karena itulah mereka jadi kaya dengan ide cemerlang? Cara pikirannya yang tak hanya hitam putih tapi penuh corak warna yang terbendung dibenak hingga saat tersalurkan  ke dalam sebuah obyek, menghasilkan sebuah karya indah, aneh, unik hingga membingungkan.

Dali bagi saya memiliki semuanya. Paduan antara keindahan dan keajaiban yang membingungkan namun asyik sekali dinikmati antara kenyataan dan khayalan. Tak hanya saya yang dibuat penasaran ingin mengunjungi teater-museum Dali, tapi anak sulung kami, Adam rupanya sudah mengincar sejak rencana awal liburan musim dingin kami. Jadilah dari Barcelona kami menuju Figueres, Spanyol. Hanya satu setengah jam atau sekitar 130 km. Kota ini juga dekat dari Perancis, dari kota saya Montpellier hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Herannya museum Dali dan kota Figueres tak pernah tersirat untuk disinggahi, baru kali itulah kami berkesempatan. Itu pun atas permintaan anak kami.

Teater museum Dali diresmikan bulan September 1974. Teater museum Dali dibangun atas keinginan si seniman surealis itu sendiri. Dimana di kota inilah seniman berkumis  unik yang membuatnya terkenal ke seluruh dunia berkat bulu hitam berdiri melintang di mulutnya itu dilahirkan dan mengembuskan napas terakhirnya.

Teater museum Dali menyajikan sebuah pengalaman unik, memungkinkan kita untuk mengamati  hidup dan menikmati hasil karya dari pemikiran si jenius Salvador Dali. Seniman yang telah dikaruniai darah seni sejak balita dan telah melakukan pameran di usianya yang ke tiga belas tahun dengan mendapatkan pujian dari dua kritikus tersohor, menyatakan mengenai teater museum hasil karyanya.

“Jelas dunia lain itu ada, pasti, tapi seperti yang pernah saya katakan berulang kali, dunia lain tersebut berada di dunia kita, mereka hidup di bumi lebih tepatnya di tengah kubah Museum Dali, di mana adanya dunia baru tak terduga dan luar biasa, dunia surealisme.”

Pernyataan itu membuat dirinya dianggap gila. Memang bila kita mendatangi tempat ini, sulit menangkap sampai dimana titik akhir dari idenya akan tumpul. Mengapa dinamakan teater museum? Karena memang dibangun di sebuah bekas teater yang telah diabaikan akibat termakan api saat perang sipil Spanyol tahun 1939. Adapun Dali merasa bangunan itu mewakili citra dirinya.

Ini alasannya. “Pertama karena saya adalah pelukis amat sangat teater (bersandiwara, berlebihan), kedua karena bangunan teater ini terletak tepat di depan gereja tempat saya dibaptis dan ketiga karena pertama kalinya saya melakukan pameran adalah di salah satu ruangan teater ini saat usia saya tiga belas tahun."

Atusiasnya begitu berapi saat hasratnya untuk menciptakan bangunan untuk menyimpan hasil karyanya disetujui oleh pemerintahan setempat. Selama sepuluh tahun, Dali bekerja, secara fisik dan akal mengumpulkan ide, memperkerjakan kedua tangannya, menghasilkan seni dan merangkai bangunan agar menjadi sebuah monumen spektakuler. Tak sia-sia, salah satu ide gemilangnya yaitu bangunan dengan kubah ditengah ruangan yang memungkinkan melihat langit, menjadi simbol kota Figueres.

Teater museum Dali inilah yang membuat kota kecil itu begitu tersohor. Figueres adalah Dali, begitu orang menyebutnya. Dan memang kesan itulah yang langsung hinggap di hati dan mata. Sampai di Figueres, belum juga sempat memakirkan mobil, sebuah bangunan besar dengan kubah kaca dan telur raksasa berjejer di sepanjang dinding teater museum, menarik perhatian. Ahhh itulah Dali, dirinya memang selalu ingin membuat mata dan mulut manusia memperbicangkan dirinya.

Tak sabar ingin segera mendatangi tempat tersimpannya maha karya seniman yang katanya berotak aneh ini, tempat parkir terdekat segera kami pilih, tak peduli soal harga. Wahhhhh, begitu mendekati museum, barisan antre segera terlihat panjang, padahal saat itu akhir tahun dimana udara sangat mengigit akibat anginnya yang kencang, hanya satu jam dari Barcelona tapi suhu cuaca begitu berbeda. Kurang dari enam puluh menit kami mengantre, dengan hasil kuping perih oleh terpaan angin beku, akhirnya berhasil mendapatkan tiket masuk. Saya langsung kebagian press yang disambut sangat ramah.

Pertama memasuki tempat itu, langsung perhatian kita akan disentak dan dibuat penasaran oleh bagian tengah bangunan. Tentu saja bagian yang terlihat dari setiap sisi karena melingkar itu, dapat dimasuki. Di sinilah, imajinasi dari sang artis terbukti jika dirinya memang seniman teater. Karena lebih mirip sebuah ruang sandiwara. Sebuah kapal tertancap diketinggian, dari sebuah tiang roda mobil. Patung wanita montok menyolok mata, dan sekeliling dinding dengan pohon rambat, lubang-lubangnya dipenuhi oleh patung bugil wanita berwarna emas. Berada di pusat ruangan ini, nikmatilah kubah kaca kreasi dari sang maestro yang menjadi ciri khas kota Figueres.

Lalu mulailah menikmati setiap lukisan hasil permainan kuas pelukis kelahiran tahun 1904 ini. Masa muda Dali terlihat sekali penuh dengan kemurnian pada seni, imajinasinya bercabang lebat. Karya surealisnya mendapat sambutan indah di kalangan pecinta seni, bahkan dirinya memukau masyarakat Amerika. Goresan surealisme Dali, dianggap sesuatu yang baru dan menyegarkan. Dali mendapat tempat di berbagai kalangan, bahkan Picasso dan Miro turut mendukungnya.

Padahal seniman ini sempat mengalami kesulitan diawal karirnya, meskipun memiliki otak cemerlang dalam berkarya. Kebangkrutan sempat menerpanya, saat dirinya menikahi seorang wanita yang merupakan istri dari gurunya surealismenya, Paul Eluard. Skandal ini menyebabkan dirinya putus hubungan dengan keluarganya. Rasa cinta Dali terhadap sang istri terlihat, dimana dirinya dan pasangannya kerap menjadi model dalam permainan kuasnya. Hingga akhir napas Gala, sang istri, Dali selalu berada di sisinya. Semenjak kepergian sang istri tercintalah, banyak kalangan kritikus yang menyatakan Dali tak lagi sama. Dirinya lebih senang menjadi badut panggung.

Apa pun pendapat dari para kalangan seni, saya menikmati sekali, perubahan dari masa ke masa kreasi artistiknya. Pria yang menyatakan tak pernah menggunakan obat candu karena dirinya adalah si candu, menciptakan seni tiga dimensi. Harus bersabar untuk melihat apa maksud dari tiga dimensi itu. Karena, saat memasuki ruangan gelap tersebut yang terlihat adalah pajangan dari sebuah rambut pirang dan hidung raksasa, kursi merah berbentuk bibir, dua lukisan. Semua hanya berupa potongan, dan terlihat bagaikan pameran tersendiri. Baru setelah sabar mengantre dan menaiki tangga, dengan kaca pembesar inilah kita bisa menikmati 'Mae West' tiga dimensinya. Sebuah wajah wanita, karya ini mengambil ide dari artis Amerika, Mary Jane West, yang menjadi seks simbol di tahun 1920-1940.

Sejak tahun 1930-an pelukis yang juga terkenal sebagai perancang perhiasan, pemahat patung dan juga fotografi, memang senang bermain dengan mata jeniusnya. Menciptakan sebuah gambar dari beberapa benda nyata menjadi hasil karya imajinasi antara nyata dan khayalan.

Di teater museum Dali, karya dari seniman lainnya bisa dinikmati juga, cukup menarik dan membuat kita sedikit bernapas dari sesaknya ide gemilang si matador. Di museum Dali ini, pengunjung bebas memainkan kameranya, mengabadikannya sebagai kenangan. Karena memang pria yang hidup hingga usia 85 tahun itu sangat senang dirinya menjadi pusat perhatian. Baginya sebuah seni haruslah dinikmati dengan kebebasan dan kebahagiaan. Hanya memang, tingkahnya yang berlebihan yang kerap menimbulkan kritik negatif padanya.

Namun seperti yang dikatakan Salvador Dali, "Seorang seniman sejati bukanlah orang yang terinspirasi, melainkan seseorang yang mengilhami orang lain."

Mengenai dirinya yang ucapkali dinyatakan gila, seniman yang juga mahir dalam menulis puisi itu berkata, “Perbedaan antara saya dan seorang penyakitan adalah, jika saya ini tidak gila”.

Itulah Dali. Otak jeniusnya yang dipenuhi dengan ide tak terbatas membuat dirinya memang terlihat unik. Namun Dali mengaku dialah si artis dari hasil karyanya. Maka ambil lah dirinya jika Anda ingin terbius karena dia adalah obat bius yang memberikan halusinasi. (DINI KUSMANA MASSABUAU)


Editor : I Made Asdhiana