Senin, 28 Juli 2014

News / Bisnis & Keuangan

Asuransi Umum Siapkan "Unit Link"

Rabu, 5 Oktober 2011 | 11:13 WIB

Berita terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Produk asuransi jiwa berbasis investasi alias unit link saat ini lekat sebagai produk jagoan industri asuransi jiwa. Lantaran peminat produk ini tetap membludak, industri asuransi umum nasional tengah mempertimbangkan merancang produk asuransi semacam unit link, yang bisa menghimpun pengelolaan dana investasi masyarakat.

Bercermin dari industri asuransi umum di Jepang, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Kornelius Simanjuntak menuturkan, mungkin saja pasar asuransi nasional menawarkan produk asuransi dengan fitur menabung. "Sepanjang regulator memberikan izin," ujarnya, ketika ditemui KONTAN dalam seminar The Insurance School (non-life) of Japan Overseas, Selasa (4/10/2011).

Hiroyasu Miyazaki, Manajer Asosiasi Asuransi Umum Jepang mengatakan, seluruh perusahaan asuransi di Jepang, baik yang bergerak di sektor asuransi umum maupun jiwa menghimpun dana masyarakat untuk investasi. Regulasinya juga memungkinkan pelaku industri asuransi umum merilis produk-produk asuransi berbasis investasi.

Hal tersebut lumrah dilakukan sejak sekitar tahun 1960. Sejumlah konten produk mensyaratkan, di akhir masa kontrak, pemegang polis akan menerima pengembalian dana, sepanjang klaim tidak melebihi tingkat tertentu. "Ini jawaban kebutuhan masyarakat atas produk asuransi konvensional dengan unsur tabungan," tutur Miyazaki.

Apalagi, kontrak polisnya fleksibel, mulai jangka menengah hingga jangka panjang. Masyarakat Jepang menggemari produk asuransi dengan unsur tabungan ini dan menjadi penyumbang utama bagi penerimaan premi industri asuransi. Tapi, belakangan ini popularitasnya melorot, seiring rendahnya suku bunga.

President The Non-Life Insurance Institute Jepang, Fudeji Hama menegaskan, keamanan dana masyarakat terjamin, terutama dengan kehadiran organisasi penjamin pemegang polis yang mendapat dukungan pemerintah. "Jika sewaktu-waktu gagal bayar, ada penjamin polis dan dukungan pemerintah," ujarnya.

Tapi Kornelius mengingatkan, di Indonesia polis asuransi kerugian masih bersifat jangka pendek. Hal ini menjadi satu kesulitan tersendiri, mengingat pada umumnya investasi digunakan untuk jangka panjang. Selain itu, kesadaran berasuransi masyarakat masih sangat rendah, berbeda dengan Jepang, yang satu orang bisa memiliki lebih dari satu polis asuransi.

Artinya peluang membundel produk asuransi kerugian dengan iming-iming investasi masih kecil. Pelaku industri asuransi umum masih harus memperhatikan banyak hal seperti isi produk, investasinya, kontrak polis, hingga peluang pasarnya. (Christine Novita Nababan/Kontan)

 


Editor : Erlangga Djumena
Sumber: