Jumat, 19 September 2014

News /

PELUNCURAN BUKU

Kisah Perjalanan Rahasia Soeharto

Kamis, 9 Juni 2011 | 02:36 WIB

Saat Indonesia memasuki masa Pembangunan Lima Tahun II tahun 1974-1979, Presiden Soeharto melakukan kunjungan rahasia. Dia hanya mengajak ajudan Kolonel Inf Try Sutrisno, Komandan Paspampres Kolonel Munawar, komandan pengawal, dokter Mardjono, dan mekanik kendaraan istana Biyanto.

Rencana perjalanan selama dua pekan, yang menggunakan tiga mobil, ditutup rapat sampai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Jenderal Maraden Panggabean pun tak diberi tahu. Hanya kalangan terbatas yang boleh diberi tahu, antara lain pejabat intelijen Mayjen Benny Moerdani.

Try Sutrisno, yang kemudian mendampingi Soeharto sebagai Wakil Presiden RI 1993-1998, mengisahkan kembali dalam perayaan hari lahir Soeharto ke-90 di Museum Purna Bhakti Pertiwi di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (8/6). Acara yang diselenggarakan Ny Siti Hardiyanti Rukmana dan keluarga besar Soeharto juga diisi peluncuran buku Pak Harto, The Untold Stories, berisi kisah 113 orang yang mengenal presiden kedua RI ini, antara lain mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohammad, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, mantan Presiden Filipina Fidel Ramos, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah.

Presiden Soeharto bersama rombongan kecil menyusuri jalur lintas selatan Jawa dari Bogor, Jawa Barat, sampai Jawa Timur, berbekal sambal teri dan kering tempe masakan Ibu Tien. Dia berdialog dengan petani di sawah dan kebun serta rakyat di perkampungan. Rombongan kecil ini pun menginap di rumah warga tanpa diketahui pejabat desa setempat.

”Itu adalah perjalanan incognito (perjalanan diam-diam) Pak Harto berkeliling ke beberapa tempat di Pulau Jawa. Beliau tidak mau ada pejabat Jakarta dan pejabat daerah tahu bahwa beliau ke daerah. Kami membawa logistik sendiri. Ibu Tien yang memasak sendiri untuk kami. Pak Harto tidak mau merepotkan siapa pun,” kata Try Soetrisno.

Foto Pak Harto duduk berselonjor di tanah menyandar pagar kayu rumah warga sambil mengernyitkan dahi seusai makan siang di Banyumas, Jawa Tengah, menjadi sampul buku setebal 603 halaman ini.

Berkat sering melakukan perjalanan incognito tersebut, Presiden Soeharto memahami benar kondisi lapangan dan menyusun rencana pembangunan terpadu nasional yang memprioritaskan pertanian. Hasilnya, Indonesia mampu swasembada beras tahun 1985.

Dalam kesempatan yang juga dihadiri Ketua MPR Taufiq Kiemas, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla menuturkan, sebagai Bapak Pembangunan, Pak Harto memulai tugasnya pada masa sulit. ”Tahap demi tahap, dengan sangat rinci beliau memulai dengan tahap pembangunan ekonomi. Lima tahun beliau hanya bicara pertanian, tahapan itu yang jadi dasar bagi tahapan lain,” katanya.

Menurut Jusuf Kalla, sebagai manusia, Soeharto memiliki kekurangan. Namun ia melihat, jika dihitung dengan neraca, jasa-jasa yang diberikan Soeharto lebih besar daripada kekurangannya. (ham/lok/ich/bas)


Editor :